Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 44


__ADS_3

"Prang... prang... praang!" sudah tidak aneh bagi Diana, jika marah pasti akan membanting apa pun yang ada didekatnya.


Seperti sekarang ini, ruang kerja Rangga menjadi korban amukan hingga seperti kapal pecah. Lap top terpisah dari penutupnya padahal itu berisi dokumen perusahaan. Kursi terbalik, kaca meja kerja pun hancur berantakan.


"Diana... sadar nak, relakan Angga, jodohmu hanya sampai disini." Mama Uly teriak-teriak dari pintu tidak berani masuk.


Supir, tukang kebun, dan ketiga asisten rumah tangga pun tidak ada yang berani mendekat.


"Aku mau mati saja! tidak ada gunanya hidup, Ma" Diana ambil pecahan kaca lancip dan siap menggores kulit mulusnya. "Panggil Rangga! jika tidak, aku akan bunuh diri!" ancam Diana.


"Diana..." Mama menangis histeris. Datanglah salah satu satpam yang bertubuh kekar setengah berlari, karena tadi dipanggil salah satu ART, masuk kedalam.


"Sreeett..." kaca pun menggoreng pergelangan tangan Diana. Kulit yang ia rawat hingga rela merogoh kocek jangan sampai terluka sedikpun, kini justeru ia lukai dengan sengaja.


"Diana..." sergah Mama. Beliau limbung merosot kelantai melihat anaknya bersimbah darah. Beliau pun jatuh terkulai. "Nyonya... bangun nyonya..." para ART cepat memberikan pertolongan pertama, kepada Nyonya besarnya.


"Nona..." satpam pun segera menolong Diana yang jauh pingsan. Berjalan hati-hati agar tidak terkena pecahan kaca. "Mang Diman... cepat kemari." Satpam berteriak memanggil supir.


Satpam mengangkat tubuh Diana. Darah menetes dari pergelangan, membawanya masuk kedalam mobil diikuti Mang Diman. Sedangkan para pelayan mengangkat tubuh Nyonya Uly, merebahkan tubuhnya di jok paling belakang dipangku Bibi. Diana ditengah, dipangku satpam sambil membekap luka mengangkat tangan Diana keatas agar tidak kehabisan darah.


Mang Diman menjalankan mobilnya kencang menuju rumah sakit, ditemani tukang kebun.


Sedangkan dirumah, tinggal dua ART yang masih gadis membereskan ruang kerja Rangga.


"Hati-hati Nah" kata Tuti kepada Inah teman kerjanya yang membereskan serpihan kaca.


"Non Diana itu sinting, sarap, apa gila sih!" gerutu Inah. Ia kesal melihat tingkah Nonanya jika marah mengamuk dia juga yang capek.


"Hus! nggak boleh begitu!" Tuti mengingatkan.


"Biarin saja, kasihan kan Tuan Rangga jadi suami cuma dijadikan pelampiasan doang! aku sumpahin, biar diceraikan sama Tuan Rangga!" Omel Inah.


"Heh! Inah, coba kamu ngomel begitu, kalau ada orangnya."


"Hahaha... nggak mau kasihan Ibu, dikampung." Inah tertawa dibuat-buat.


"Kok kasihan Ibu?" Tuti mengerutkan dahi.


"Kalau aku mati dibunuh sama Non Diana, kan pulang tinggal nama." Inah terkekeh langsung kena toyor Tuti.


*******

__ADS_1


Rangga sampai di rumah, tampak dua orang anak buahnya yang sedang membetulkan televisi rusak, membongkarnya hingga memenuhi separuh Ruko.


"Masih bisa diperbaki?" tanya Angga setelah meletakkan rangsel dikamar, lantas menemui Fajar dan Fadil anak kembar yang tidak lain cucu kakek. Setelah Rangga membuka service mereka berdua langsung melamar kerja.


"Masih Pak, hanya rusak sedikit kok"


Rangga kemudian membuka komputer rusak, memutar baut satu persaru. Rangga membuka service tidak serta merta karyawan yang mengerjakan. Ia turut aktif dalam lini bisnis ini.


Rangga memilih bisnis ini di samping modal hanya sedikit. Tetapi yang terpenting dia mempunyai modal pokok yakni, pengetahuan.


Sungguh keberuntungan bagi Rangga ditempat ini mpunyai target market yang baik, karena lokasinya mudah ditemukan.


Rangga mengadakan promosi online maka bisnisnya berjalan begitu cepat. Terlebih, promosi onlin biayanya juga murah.


Disamping itu, Rangga juga membuka bisnis lain menjual produk elektronik, dan yang cepat terjual laris saat ini produk digital, handphone dan lain sebagainya. Ada satu karyawan lagi yakni Retno yang kusus melayani para pembeli.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Jam delapan malam, Rangga kesebelah langsung disambut jeni dengan pelukan diperut.


"Ayah keren, Ayah dari masjid ya?" cecar Jeni.


"Iya" sahutnya langsung menggendong Jeni, mengajaknya duduk dilantai beralas karpet. Ruko Kartika memang tidak ada kursi, di samping belum bisa membeli, ruangan pasti akan sempit. Lebih baik menggelar karpet sekalian digunakan Kartika untuk menata kue.


"Ada apa Mas?" tanya Kartika Rangga masuk ke ruko malam-malam pasti ada perlu.


"Kita ajak jeni makan malam yuk, sekalian mengajak kencan Bundanya." Rangga tersenyum.


Kartika mencibir. "Kemana?"


"Tidak jauh dari sini ada pembukaan restoran baru. Kita makan disana ya?"


"Ayo, Jeni mau, mau ya Bun... please" Jeni bersemangat menggoyang-goyang tangan Kartika.


Kartika tampak ragu-ragu. Namun akhirnya mengiyakan.


"Papa ganti baju ya," ucapnya ingin berlalu.


"Tidak usah ganti Mas, pakai itu saja malah bagus" puji Kartika tanpa sadar.

__ADS_1


Rangga rasanya ingin guling-guling sangking senanganya mendapat perhatian dari Kartika.


"Jeni... kita salin baju ya." Kartika langsung mengajak Jeni keatas salin baju


Angga menatap langkah Kartika yang menuntun Jeni naik tangga. Matanya tidak berkedip. Ia berdoa dalam hati. Rangga hanya bisa berharap Kartika bisa menutup luka hatinya dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga kecilnya. Namun, nampaknya Rangga harus sabar. Sabar seperti dulu ketika ingin mendapatkan hati sang gadis desa, saat itu.


Rangga menjadi ingat masa remaja, ketika ingin mendapatkan Kartika sungguh perjuangan yang luar biasa. Bagaimana tidak? saat itu Kartika banyak yang mencintai menjadi rebutan para remaja Desa. Belum lagi Rangga harus bersaing dengan anak Pak Lurah.


Ternyata, nasip baik berpihak kepadanya dirinya yang beruntung mendapatkan Kartika. Dia sadar saat itu hanya seorang gelandangan. Namun setelah Kartika menjadi istrinya bahkan memberi kado spesial saat pernikahan mereka berjalan satu tahun. Yakni Katika mengandung Jeni. Namun, hati wanita mana yang tidak akan terluka menerima kenyataan bahwa Rangga tega berkhianat. Menikah dengan wanita kaya. Walaupun keadaan yang membuat Rangga terpaksa menerima.


"Ayo yah, Jeni sudah siap" Jeni membuyarkan lamunan.


"Let's go" Mereka keluar. Sementara Kartika mengunci Ruko. Rangga pun sama, setelah mengeluarkan motornya.


"Jeni didepan ya" kata Jeni bocah itu seolah tahu ingin memberi ruang Ayahnya agar bisa dekat dengan Bundanya.


"Ditengah saja Jen, nanti menutup spion." kilah Kartika.


"Ngga kok, ayo sayang... duduk didepan." Rangga mundur kemudian Jeni naik.


Kartika mengalah akhirnya naik. Rangga tersenyum menatap Kartika dari kaca spion.


"Pegangan yang kencang ya" Rangga menarik tangan Kartika agar melingkar diperut.


"Jangan macam-macam!" Kartika menarik tanganya dari perut Rangga.


Hanya lima menit, bukan waktu yang lama. Mereka makan dilesehan. Mengurungkan niatnya untuk makan di restoran yang baru buka. Karena antrian mengular. Wajar. Sebab, restotaran bukaan pertama itu, hanya membayar setengahnya.


"Mau pesan apa?" tanya Angga menoleh Kartika.


"Ikan bakar saja" Tika menjawab.


"Jeni mau bebek goreng ya." Jeni menimpali.


"Okay..." Rangga pun memesan makanan tersebut.


"Cling" Rangga membuka handphone, karena ada notifikasi masuk.


Bibi: Tuan Rangga... segera datang kerumah sakit xxx . Non Diana masuk ruang ICU. sudah gitu... Nyonya besar pingsan Tuan."


.

__ADS_1


.


__ADS_2