
Sebelum menjemput Jeni. Kartika singgah dulu di kediaman pemilik Ruko, tepatnya di samping sekolah Jeni.
"Permisi Bu" Kartika menyapa pemilik Ruko yang sedang menyapu halaman. Rumah beliau tidak jauh dari Ruko tersebut, posisi dibelakang.
"Ada apa Mbak?" Pemilik Ruko mendekati pagar.
"Saya mau tanya, Ruko yang di samping sekolah itu, sudah ada yang pesan, Bu?" tanya Kartika dari luar pagar.
"Belum, silahkan masuk, Mbak"
Kartika masuk halaman mengikuti Ibu pemilik Ruko, mereka duduk di kursi panjang.
"Tempatnya adem ya Bu" Kartika kagum mengamati sekeliling rupanya ibu ini peduli lingkungan. Pasalnya, halaman rumahnya banyak ditanami pepohonan.
"Iya Mbak, Mbak ingin kontrak Ruko saya?" tanya Ibu to the point.
"Hehehe... jika harganya pertahun terjangkau oleh isi kantong saya Bu" Mereka membicarakan tentang harga Ruko, memang agak tinggi harganya. Tetapi karena ia ingin bekerja sama dengan Linda, otomatis pembayaran Ruko, akan dibagi dua.
"Tapi hanya satu lantai ya Bu?" Ruko ini memang agak luas cukup untuk produksi dan memajang kue, tetapi dimana tidurnya? pikir Kartika.
"Ruko itu memang hanya untuk usaha Mbak, jika Mbak mau, saya ada kontrakan satu petak, tenang... bayarnya bukan tahunan seperti Ruko kok, bisa setiap bulan." Ibu itu seperti tahu yang dipikirkan Kartika.
"Oh gitu ya Bu"
Kartika pun kembali melihat kontrakan satu petak terdapat dapur, kamar tidur yang di sekat dengan tripleks, dan ruang tamu.
"Ini murah kok Mbak, hanya 600 ribu perbulan," Ibu menambahkan.
"Saya telepon teman dulu ya Bu" Kartika menjauh dari pemilik Ruko lalu menghubungi Linda. Setelah ngobrol panjang lebar dengan Linda. Linda ingin membayar sewa Ruko itu sendiri. Sebab Kartika tidak ingin menambah Karyawan. Itu Artinya impas, sebab Linda tidak harus membayar karyawan.
"Baik Bu, saya ambil dua-duanya." pungkas Kartika. Kartika tersenyum senang, dia kontrak disini memudahkan semuanya, dekat dengan sekolah, tidak jauh dari Ruko yang dulu, jadi tidak khawatir kehilangan pelanggan.
Ia juga bebas dari manusia yang bernama Diana, jika tetap tinggal di Ruko milik Angga, harga dirinya akan terus terkoyak.
Sudah mendapatkan semuanya, ia lalu menjemput Jeni. Sebelumnya berkenalan dulu dengan pemilik Ruko. Ternyata namanya Juriah yang biasa dipanggil Empok Riah.
"Cepat ganti baju, terus makan siang ya nak" titah Kartika setelah sampai di Ruko sambil mendorong motor parkir di pojokan Ruko.
"Iya Bun, memang Ayah kemana Bun?" itulah yang selalu Jeni tanyakan.
"Sedang ada urusan katanya." sahutnya lalu masuk kedalam diikuti Jeni. Jeni langsung kekamar ganti baju.
__ADS_1
"Se, kesini dulu, kita ngobrol" Kartika mengumpulkan ketiga karyawannya.
"Ada apa Tik, kok serius banget" tanya Sekar mereka bertiga duduk melingkar.
"Sebaiknya... besok kita tidak usah terima pesanan dulu" ucap Kartika sambil menatap ruangan mungkin ini untuk yang terakhir kali.
"Memang kenapa?" tanya Sekar, Riri, dan Evi bersamaan.
"Besok kita berkemas, sebaiknya kita segera pindah dari sini, secepatnya. Pasti kalian tahu kan? apa masalahnya,"
"Iya Tik, saya tahu, karena ada serigala betina itukan!" Sekar bersungut kesal mengingat wajah Diana.
"Hus! nggak boleh begitu Se, biar begitu dia itu kan mantan bos kamu" Kartika mengingatkan.
Mereka berbicara panjang lebar, mengenai lokasi Ruko dan lainya intinya menyangkut masalah usahanya.
*******
Siang berganti jam tujuh malam, Angga sampai Ruko. Tetapi bukan masuk Ruko miliknya, melainkan masuk Ruko milik Kartika. Saat ini Kartika masih buka, biasanya tutup jam 9 malam.
"Assalamualaikum..." Rangga berdiri didepan Ruko mengamati Kartika yang masih melayani pembeli. Kartika sebenarnya khwatir akan kedatangan Rangga. Jika Diana melihat keadaan menjadi semakin rumit.
"Waah... ada yang kangen ini rupanya." Angga mengangkat tubuh mungil anaknya.
"Du, duuuh... sudah berat nih... anak Ayah," ciuman jatuh bertubi-tubi dipipi, dihidung, dan di dahi. Membuat jeni tergelak tawa. Kartika tersenyum menatapnya tanpa Rangga tahu.
"Ayah darimana saja sih... kok nggak jemput Jeni..." protesnya. Bibir Jeni manyun membuat Angga terkekeh gemas. Tangan kekarnya mengetuk pelan hidung Jeni.
"Papa kerja dong." pungkasnya sambil menurunkan tubuh Jeni.
"Jeni sudah kerjain PR belum?" Kartika menyela.
"Belum Bun. Ayah... Ayah jangan kemana-mana ya, Jeni mau kerjain PR dulu, Jeni nanti mau ngobrol lagi," celoteh Jeni.
"Okay... Angga menautkan jempol dan telunjuk menatap Jeni yang berjalan sambil bersenandung gembira.
"Tik, aku mau bicara" ucap Rangga lalu bersila di karpet menghadap Kartika yang sedang menonton televisi.
"Tentang?" tanya Kartika memencet remote mematikan televisi. Ia pun berniat ingin bicara kepada Rangga mengenai Ruko, masa bodoh dengan Diana.
"Maaf, jika Diana sudah mengganggu kamu, aku nggak habis pikir dengan pola pikirnya." Rangga menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Bukankah kamu yang sudah menciptakan kekisruhan ini Mas?" Kartika mlengos kesal.
"Maksudnya apa Tik?" Angga belum tahu arah pembicaraan Kartika.
"Mas itu, jangan suka sok, mau menjadi pahlawan, pakai membeli Ruko ini terus nggak bilang-bilang! bukan kah... sudah berkali-kali saya bilang! aku tidak mau apapun dari Mas, selama Mas masih menjadi Istri Diana!" Kartika meluapkan emosinya.
"Maksud aku..." Rangga ingin bicara langsung dipotong Kartika. "Maksud Mas mau menafkahi aku, gitu kan?!"
"Saya tahu, maksud Mas baik, tapi bukan begini caranya, harga diri aku lebih tinggi daripada Ruko ini, dan aku nggak mau menukarnya." air mata Kartika jatuh.
"Aku tahu Tik, aku tidak akan mengulangi, aku juga mau pindah dari Ruko ini, kita pindah ya, kita buka lembaran baru." Rangga menatap Kartika penuh harap.
"Tidak untuk saat ini Mas, kita masing-masing saja dulu, yang penting kita sama-sama memberi perhatian kepada Jeni."
"Lain cerita jika urusan rumah tangga Mas dengan Diana sudah selesai. Mas tinggal pilih, akan terus dengan Diana, berarti aku yang akan mundur." tegas Kartika.
"Aku sama Diana itu sudah bukan suami istri lagi Tik" kata Angga pendek.
"Buktinya kan sekarang ada di depan mata, Mas, paling sekarang sudah pakai, baju tipis." Kartika menekan kata baju tipis dan hanya dijawab kekehan oleh Angga.
"Aku juga mau pindah dari sini Mas, tadi aku sudah mendapatkan Ruko."
"Kok pindah sih Tik, kamu tetap disini saja, Ruko ini sudah atas nama kamu," tampak kecewa diwajah Angga. Kemarin sudah bisa bernafas lega bisa membantu Kartika tetapi Kartika justeru malah marah dengan tindakannya.
"Sudah aku bilang kan tadi Mas... aku nggak mau hidupku dibayang-bayangi Diana. Aku ini sudah di cap jelek terus, sama istrimu itu, jika aku numpang hidup kepadanya."
"Okay, okay... jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku mendukung. Retapi, aku tidak mau kehilangan kamu dan Jeni." Angga takut jika Kartika membawa Jeni jauh sehingga dia tidak akan bisa bertemu lagi.
"Nggak kok Mas, cuma disamping sekolah, enak deh. Lokasinya, kita nggak terlalu khawatir memikirkan Jeni jika sedang sekolah." Kartika tersenyum.
Angga menatap Kartika yang tampak senang. Rangga pun ikut senang. Sebenarnya dia ingin membayar sewa Ruko tetapi sudah pasti ditolak. Lebih baik Rangga menurut dulu apa kata Kartika menunggu situasi mereda.
Waktu sudah jam sembilan, Kartika lantas menutup rolling door. Ia menoleh ke belakang, memandang Angga yang tidak pergi-pergi malah tidur di karpet.
"Sudah malam Mas, Mas nggak pulang, mau aku tutup ini." Kartika setengah mengusir.
"Tik, tolong jangan usir aku, aku mau tidur disini. Aku nggak mau bertemu Diana. Please... jika kamu jijik dengan tubuhku... jangan khawatir, akan tersentuh. Aku akan tidur di karpet ini saja." ucapnya. Membuat hati Kartika tercubit. Kartika tidak menjawab lantas naik tangga.
.
.
__ADS_1