
"Tika... cepat jelaskan! mengapa Pak Rangga bisa berada disini?" todong Sekar sambil mencetak clapartad isi buah-buahan.
"Iya aku juga penasaran" Evi menimpali.
"Aku juga... terus kenapa? Jeni bisa sedekat itu dengan Pak Rangga?" Riri menambahi.
Sekar tidak menyahut, dia tampak sedang memulung-mulung roti bersama Mbak Rumi. Mengisinya dengan Coklat, keju, Abon, kemudian memangganganya.
"Dia itu suami Kartika." Arumi menjawab.
"What" Sekar dan kedua temanya membelalakkan mata.
"Mbak Arumi!" Kartika tidak setuju kakaknya membuka jadi dirinya.
"Buat apa ditutup-tutupi, toh, ini bukan aip Tik. Jika kamu menutupi terus... bisa-bisa nanti orang berpikir menuduh Kamu selingkuh dengan Angga." Terang Arumi ada benarnya.
Kartika mengangguk-angguk paham. "Iya Mbak"
"Ceritakan Tik, kamu menjadi pelakor ya?" kata Sekar asal. "Pantas saja, Bu Diana segitu bencinya sama kamu." Imbuh Sekar.
"Enak saja kamu! Diana yang justeru mengambil suami aku. Lihat saja Jeni umurnya berapa." Kartika kemudian menceritakan kepada Sekar dan kedua temanya.
"Oh. Jadi Jeni, itu putranya Pak Rangga?
bukankah kamu, pernah bilang. Kalau suami kamu meninggal tertabrak tronton?" Sekar Ingat kata-kata Kartika ketika itu.
"Apa? kamu bilang begitu Tik?!" Rumi menoyor jidat adiknya.
"Yah, namanya juga sedang emosi Mbak, bagaimana nggak emosi coba. Ketika aku pertama kali bertemu Mas Angga. Dia nggak mau mengakui, bahwa aku istrinya, dan yang lebih menyakitkan. Tidak mengakui kalau Jeni itu anaknya, malah menuduh aku, jika Jeni itu anak orang lain." tutur Kartika serak.
"Ya Allah... Tik, gw nggak menyangka" jawab sekar.
"Ya sudah... yang penting sekarang hubungan kalian sudah membaik." Arumi menenangkan. Walaupun awalnya Arumi membenci Angga sampai ubun-ubun. Tetapi... selagi Rangga tidak mengulangi perbuatannya. Mbak Rum ingin adiknya kembli.
"Se, nanti setelah rapi... kita ke ruko yang akan kita kontrak. Memastikan, jika harga sewanya tidak terlalu mahal, kita secepatnya pindah kesana." Kartika mengganti topik pembicaraan.
"Kamu serius Tik, akan menyewa Ruko, padahal Mbak lebih setuju tetap produksi disini, kan menghemat biaya." Arumi tampak tidak ikhlas.
"Tenang Mbak, aku akan sering kesini kok, tempatnya juga dekat dengan sekolah Jeni. Jeni bisa jalan kaki jika aku terpaksa tidak sempat mengantar." Kartika merangkul Arumi di sebelahnya.
"Ih tanganmu bau telur tahu!" mereka terkekeh. Padahal nggak bau. Arumi hanya meledek.
"Ya sudah, kalau keputusan kamu sudah bulat, aku akan menghampiri Jeni tiap hari, jika tidak diantar Ayahnya." pungkas Arumi.
"Oh iya Tik, sebaiknya... kita menjemput Ibu dikampung ya, kasihan beliau tinggal disana hanya sendirian. Sedangkan kita pasti akan jarang pulang."
"Setuju Mbak, nanti setelah aku membuka Toko kue, aku mau buat syukuran kecil-kecilan, awalnya aku memang akan mengundang Ibu. Kalau kakak punya rencana ini kebetulan sekali kak." kata Kartika Antusias.
Kakak beradik itupun bersemangat.
*******
__ADS_1
Siang hari, 400 ratus box kue sudah siap antar. Kartika Masih menunggu Rangga menjemputnya. Padahal, tadi pagi sudah berjanji. Tetapi Rangga belum muncul juga.
Tok tok tok
Kartika tersenyum, segera membuka pintu, ia pikir Rangga yang datang. Ternyata Devan orangnya.
"Pak Devan" sapa Kartika.
"Saya disuruh Mama ambil kue, Tik." Devan yang memakai kaos merah marun, dan celana jins selutut, mata sipit, tampak ganteng. Ditambah lagi kulitnya yang putih. Bisa menghipnotis gadis yang melihatnya. Pria berusia 28 tahun itu sulit didekati wanita.
"Baik Pak, semua sudah siap kok."
Sekar dan kedua temanya mengangkat kue-kue kedalam mobil.
"Pak Devan sedang tidak bekerja?" tanya Sekar kepada mantan bosnya.
"Nggak Se, dirumah sedang ada acara." sahut Devan yang memegangi pintu mobil. Melihat Sekar yang sedang menata kue.
"Oh jadi yang memesan kue ini keluarga Pak Devan?"
"Iya" sahut Devan pendek.
"Sudah semua ini Pak" Riri segera turun dari mobil setelah kue tertata.
"Ya sudah, panggil Kartika, dia kan yang mau ikut mengantar?"
"Saya tanyakan dulu ya Pak, kami belum bicara soal itu" Riri bersama Evi segera memanggil Kartika.
"Se, aku mengantar kue dulu, kamu bersiap ya, setelah ini, kita akan ke Ruko." titah Kartika yang sudah salin baju.
"Huh! bos, bos" Kartika mencibir terasa jengah jika temanya memanggilnya sebutan itu.
"Loh, kamu kan sekarang bos aku yang baru Tik, iya kan Ri?" Sekar menoleh Riri. Riri mengacungkan jempolnya.
Kartika tidak menimpali, kemudian masuk kedalam mobil.
"Nenek pesan kue banyak sekali, memang ada acara apa Pak?" tanya Kartika setelah mobil berjalan meninggalkan rumah Arumi.
"Mama yang pesan, bukan nenek" sahutnya. "Mama merayakan pembukaan cabang butik, terus mengundang anak-anak yatim." sambung Devan.
"Waahh... Mama Pak Devan pengusaha ya." Kartika kagum. "Saya itu punya cita-cita ingin punya usaha sendiri."
"Aamiin... kamu kan sekarang sudah punya usaha Tik"
"Hehehe... baru pemula, sih Pak, mudah-mudahan sukses seperti Mama Pak Devan." Kartika tersenyum.
"Calon Mama kamu juga Tik." kelakar Dewan terkekeh.
Kartika tidak menimpali. "Rumah Mama Pak Devan, dikomplek sini juga ya." Kartika mengalihkan.
"Itu sebenarnya rumah Mama, kalau nenek agak jauh, hanya kadang-kadang saja nenek menginap."
__ADS_1
Kartika mengangguk anggukan kepala.
"Tik" panggil Devan.
Kartika memutar bola matanya. "Ada apa Pak?"
"Perkataan aku kemarin itu serius loh" Devan menoleh sekilas. Lalu kembali fokus menyetir.
"Yang mana Pak?" Kartika membetulkan duduknya.
"Apa kamu tidak akan sedikit membuka hatimu untuk aku. Sungguh Tik, aku mencintai kamu, dan ingin melamarmu."
Deg. Kartika terkejut bukan main.
"Pak, Pak. kita kelewat loh, hihihi..." Devan tidak sadar hingga melewati rumah sendiri.
"Astagfirrullah..." Devan menggaruk kepalanya, terbahak-terbahak, karena memikirkan Kartika hingga tidak sadar bahwa dia sudah sampai.
Kartika senang, bisa lolos dari pertanyaan Devan. Mereka pun turun masuk kedalam rumah.
Didalam rumah Devan, sudah sangat ramai. Anak-anak yatim sedang membaca surah Yasin, dipimpin seorang Ustad.
Kartika membawa kue masuk kedalam, dibantu Devan. Hingga balik dua kali.
*******
"Kartika kemana Sekar?" tanya Angga setelah menjemput Jeni. Ia langsung kedapur berniat menemui Kartika.
"Mengantarkan pesanan, Pak." Sekar menyahut.
"Ya Allah... iya. Saya lupa. Naik apa dia? sama siapa?" tanya Angga menyesal padahal tadi sudah berjanji mengantarkan kue.
"Di jemput Pak Devan, Pak"
"Devan?" Angga terkesiap.
"Iya Pak, menurut Kartika yang memesan kue, Neneknya Pak Devan."
Tanpa bertanya lagi, Anggak bergegas keluar. Mengetuk kamar Jeni.
Tok tok tok.
Ceklak.
"Ada apa Yah?"
"Ayah mau menjemput Bunda, kamu bobok ya sayang." mengacak rambut Jeni kemudian pergi.
"Daaa Ayah..." Jeni mengejar ke halaman.
"Daaa..." Angga melambaikan tangan, langsung tancap gas menuju rumah Devan. Devan anak buah Diana, jadi Rangga tahu, dimana rumannya. Sebab, pernah beberapa kali kesana.
__ADS_1
***
Ayo dong... mana komentarnya... supaya Buna semangat💪💪💪✍✍✍❤❤❤.