
Kartika mengekori langkah Devan, Masuk ke dalam rumah. Ia tidak menyangka bahwa Devan seorang HRD, ternyata orang kaya.
"Kenalkan Ma, ini Kartika yang sering Devan ceritakan." Devan memperkenalkan Kartika kepada Mama Sarah. Wanita kira-kira berumur 50 tahun itu mendekati Kartika tersenyum ramah.
"Kartika" Kartika mengangguk menjabat tangan Mama Devan, lalu menciumnya.
"Oh, kamu yang bernama Kartika? cantik," puji Mama Sarah menepuk pelan pundak Kartika.
"Tante bisa saja." Kartika menatap wanita cantik berkulit putih, mata agak sipit, mirip sekali dengan Devan. Jika diperhatikan keluarga Devan berasal dari warga keturunan.
"Nama saya Sarah. Panggil saja Mama Sarah" Mama Devan tersenyum menatap Kartika dan Devan.
"Baik Tante Sarah"
"Duduk nak" Mama Sarah mengajak Kartika duduk di kursi. Mereka ngobrol diselingi canda tawa. Devan yang duduk tidak jauh dari situ, tersenyum menatap keakraban Mama dan Kartika.
"Sini nak, ikut Mama" Mama Sarah mengajak Kartika menemui anak-anak. Kali ini, anak-anak sudah selesai mengaji, kemudian dibagikan amplop satu persatu yang dilakukan oleh asisten Pribadi Mama Sarah.
Kartika menatap kagum Mama Devan, selain baik hati juga peduli kepada para anak-anak yang kurang mampu.
Sedangkan Devan sedang berbincang-bincang dengan keluarga besar Mama Sarah. Mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Ini siapa?" tanya salah satu Omnya Devan, menunjuk Kartika yang sedang berjalan kearahnya, membuntuti Mama Sarah.
"Ini calon pengusa loh" Mama menyahut.
"Tante" Kartika malu-malu.
"Kue-kue ini buatan dia, aku mau promosi, kalau kalian ada acara, lebih baik pesan sama Kartika saja." titah Mama Sarah kepada kedua adiknya.
"Oma loh, yang promosi lebih dulu, tidak dianggap ini?" Nenek yang entah darimana datangnya, menyela obrolan.
"Nenek" Kartika menjabat tangan keriput Nenek, menciumnya. "Terimakasih Nek, berkat Nenek kue saya laris manis."
"Syukurlah nak" Oma mengusap punggung tangan Kartika.
"Waahh... kuenya memang enak" kata mereka, yang awalanya tidak tertarik karena mendengar pujian Oma, serentak mencoba. Mereka tahu, Oma paling susah menyukai masakan orang lain. Jika beliau saja berbicara begitu, pasti kuenya memang enak.
Ditengah obrolan, ada tamu yang datang. "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Serentak menatap tamu yang baru datang. Terlebih Kartika dan juga Devan.
Pria yang memakai jas berwarna hitam, perpaduan kemeja biru laut, walaupun tanpa dasi tampak berwibawa, berjalan dengan gagah menghampiri keluarga Devan.
__ADS_1
"Pak Rangga... ada utusan apa dari Bu Diana, sampai Bapak datang kemari?" cecar Devan. Devan pikir Rangga kemari atas perintah Istrinya.
Ya dia adalah Rangga. Kartika heran, perasaan tadi pagi Rangga hanya memakai kaos kesempitan. Tetapi kini dia sudah merubah tampilan tampak keren.
"Saya kesini bukan disuruh Diana" Jawab Angga menatap Kartika yang masih terkejut karena kehadiran Rangga.
"Oh Bapak ada perlu dengan saya?" Devan memandangi Rangga yang berjalan mendekati Kartika.
"Saya mau menjemput istri saya," ucapnya, tangan kirinya merangkul pundak Kartika.
"Istri?" seru Devan, Oma dan juga Mama Sarah terkejut menatap Angga. "Lalu Bu Diana?" sambung Devan.
Namum Rangga tidak menjawab.
Dada Devan terasa nyeri mendengar ucapan Angga. Seperti tertancap paku berkarat.
"Iya Oma, Tante. Ini Istri saya." Angga mengeratkan pelukanya hingga Kartika kesakitan. Cubitan mendarat dibadan Angga.
Semua lantas menatap Kartika. "Oma, Tante... saya pamit dulu ya," Kartika segera menjabat tangan Mama Sarah, bergantian tangan Oma. Meninggalkan Devan yang masih termangu bingung entah mau bicara apa.
Daripada banyak pertanyaan dari keluarga Devan lebih baik Kartika pergi.
Apa maksud Pak Rangga, mana mungkin Rangga suami Tika. Ah tidak mungkin! jika memang benar, mungkinkah Rangga menikahi Kartika tanpa sepengetahuan Diana? yang aku tahu, Bu Diana orang yang egois mana mungkin mau berbagi suami, atau mereka berselingkuh?
Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang bersarang dipikiran Devan saat ini.
"Ada hubungan apa kamu dengan Devan?" tanya Angga, setelah mobil berjalan. Sebenarnya takut menanyakan ini tetapi Rangga tidak ingin kehilangan Kartika.
"Maksudnya apa?" Kartika mendengar pertanyaan Angga yang sedikit menuduh. Rasanya kesal.
"Devan sepertinya suka sama kamu," kata Rangga posesif.
"Ya biar saja suka, memang apa yang salah, toh hanya menyukai. Aku sendiri tidak menimpali kok," sahut Kartika menyeringai.
"Benar? kamu nggak menyukainya?" ledek Angga.
"Tau ah" Kartika bersandar di kaca berbantal telapak tangan memejamkan mata.
Angga menatap sekilas wajah Kartika yang sedang memejamkan mata membuatnya gemas.
"Mau kemana kita sekarang? rencanamu melihat Ruko jadi nggak?"
"Jadi sih... tapi aku sudah janjian sama sekar, ingin berangkat bareng"
"Sekarang telepon Sekar, janjian bertemu disana aja," usul Rangga.
__ADS_1
"Oh iya" Kartika telepon Sekar menuruti kata Angga bertemu disana.
"Maaf ya, aku tadi terlambat menjemput kamu, karena aku menemui Rudy dulu" Setelah mengantar Jeni awalnya Rangga ingin langsung pulang tidak berniat kekantor. Tetapi, ia mendapat telepon dari Rudy agar segera ke PT menemui klien, terpaksa Angga pulang dulu mengganti pakaian.
Jika tadi tidak ke kantor dulu, mungkin Kartika tidak akan dijemput Devan. Sesal Rangga.
"Lagian... aku tadi nggak ingin merepotkan Mas Angga kok, aku tahu, ini kan hari kerja."
Obrolan berhenti, karena mereka sudah sampai tempat yang di tuju. Kartika sudah turun dari mobil menemui Sekar yang sudah menunggu didepan ruko. Sementara Rangga mencari tempat Parkir.
Mereka bergegas menemui pemilik Ruko, lalu membahas kembali tentang harga sewa.
"Oh jadi harganya diturunkan Kek?" tanya Kartika kegirangan, karena harga sewanya pertahun jauh dari anggaran.
"Sebenarnya Ruko ini sudah dibeli Orang lain neng, tapi orang ini ingin menolong pengusaha pemula seperti neng, dengan menurunkan harga sewa." kilah Kakek. Langsung mendapat acungan jempol dari Rangga tanpa Kartika tahu, jika Angga diluar mendengar perbincangan mereka.
******
Air biru kolam renang tersorot lampu taman. Gemericik air memecah kesunyian. Dua kaki tampak mengayun-ayun dipermukaan air. Dialah Devan yang sedang duduk di pinggir kolam dengan kaki menjuntai kebawah. Ia galau memikirkan wanita yang dicintainya.
Ia tidak menyangka bahwa wanita selugu Kartika bisa merebut suami orang. Pikirnya.
"Tidaak... ini hanya berbohong, Kartika tidak seperti itu." Ia bergumam berperang melawan pikiranya sendiri.
Devan masih bingung, ada apa? antara Rangga dengan Kartika bisa menjalain hubungan? Devan menyugar rambutnya.
Angin malam yang begitu dingin menyapu pori-pori menyadarkan dirinya bahwa kali ini sudah larut. Ia beranjak meninggalkan kolam renang yang hanya berjarak 50 meter dari rumah.
"Kamu darimana Dev?" tanya Papanya yang masih duduk dimeja kerja. Melihat Devan melintas lalu beranjak.
"Cari angin diluar Pa" jawabnya."Papa sendiri kenapa belum tidur? jangan terlalu malam jaga kesehatan." imbuhnya.
"Sini ikut Papa" Papa Hendrik menarik tangan anaknya masuk keruang kerja.
"Sampai kapan, kamu mau terus bekerja dengan orang lain?" tanya Papa menghisap rokok yang terselip dikedua jarinya. Asap mengebul memenuhi ruangan.
"Papa jangan merokok terus... ingat! papa sudah sering sesak loh, dadanya." mengerling kearah Papa yang duduk disamping.
"Jangan mengalihkan, Papa tanya, kapan kamu mau berhenti bekerja lantas memeruskan usaha Papa?" tanya Papa mulai meninggi.
"Iya Pa, tunggu beberapa bulan lagi, setidaknya Devan bisa mundur dari perusahaan Diana." ucapnya yakin.
Devan lalu beranjak masuk kedalam kamar, menjatuhkan tubuhnya dikasur. Wajah Kartika menari dipelupuk mata.
.
__ADS_1
.