Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 39


__ADS_3

Malam semakin larut, tetapi pasutri yang baru mulai berbaikan itu masih berbincang-bincang.


"Tik... kamu sebenarnya masih ada rasa nggak sih... sama aku?" Angga menyingkirkan kardus lalu bergeser mendekat.


"Rasa apa? rasa sakit hati... ya jelas adalah, pengkhianatan Mas! sudah merobek robek cinta aku hingga tak berbentuk." Sebenarnya Kartika tahu maksud Angga. Tetapi... senang saja menggodanya. Sambil merobek-robek kardus yang cacat hingga kecil-kecil.


Angga menjadi pucat pasi. "Bu- bukan itu maksud aku, Tik."


"Mas, ngomong-ngomong... sama Bu Diana sudah punya anak belum?" Tika mengalihkan. Lagian pertanyaan ini yang sudah ingin Kartika tanyakan sejak kemarin.


"Belum?" tersenyum masam.


"Jangan-jangan... Mas Angga, ingin berbaikan dengan Jeni, hanya karena nggak dikasih keturunan, sama Diana" cibir Kartika.


"Ya Allah...Tik, tuduhanmu tega amat sih... kamu sama Jeni itu segalanya bagiku. Sudah berapa kali aku katakan. Aku mencintaimu dari dulu hingga sekarang, nggak akan berubah." jujur Angga.


"Masaaa..." Kartika mencibir.


"Kalau kamu tidak percaya akan aku buktikan." tegas Angga.


"Caranya?" tanya Kartika polos mengerling kearah Angga disampingnya.


"Sini, sini" Angga tersenyum meraih tengkuk Kartika. Membuat Kartika terperangah. Tidak sempat mengelak. Angga menempelkan bibirnya, kebibir Kartika. Beberapa menit kemudian, Angga semakin bergairah. Bibir ini yang membuat candu baginya. Tidak ada yang lain, memang benar Rangga sering menggauli Diana, tetapi hanya sebatas memberi nafkah batin, tentu mempunyai rasa yang berbeda.


Kartika memulihkan kesadaran, lalu mendorong tubuh Angga.


"Aku mau tidur" kata Kartika sambil berlalu menuju kamar. Sedangkan Angga memandangi langkah istrinya terkekeh.


Angga menata bantal sofa, mematikan remote televisi kemudian tidur.


******


Seperti biasa jam tiga pagi, Kartika bangun dari tidur. Lalu mengikat rambutnya, berjalan kedapur. Namun, ia berhenti sejenak tatkala melewati ruang tamu melihat Rangga yang sedang tidur meringkuk disofa. Kartika kembali kekamar ambil selimut. Tak lama kemudian kembali. Ia membentang selimut melipatnya menjadi dua, lalu menyelimuti tubuh Angga.


Angga sebenarnya sudah bangun sejak tadi. Hanya pura-pura tidur. Merasa diperhatikan Kartika. Ia bersorak dalam hati ingin jungkir balik sangking senanganya.


Kartika kekamar mandi dapur, bersih-bersih badan dulu sebelum aktifitas. Kemudian membuka kulkas ambil bahan-bahan untuk membuat Risolis isi ayam dan sayuran.


Setelah membuat dadar satu persatu. Kartika membuat isian.


"Wangi banget masakanya" Rangga memeluk dari belakang.


"Klontang" sodet yang Kartika pegang terpental saking terkejutnya.


"Mas... iih! ngagetin tahu" Tanganya reflek mencubit perut Angga. Angga terkekeh, rasanya seperti mimpi istrinya mencubit perutnya yang sudah lama ia rindukan.

__ADS_1


"Awas, masakan aku gosong nanti."


"Aku bantu ya" Rangga duduk ambil satu lembar adonan dadar lalu mengisinya sedikit dengan isian yang sudah tersedia. "Segini isianya." Rangga menunjukan hasil karyanya.


"Kurang ini mah" Kartika ambil alih memberi contoh.


"Ini diisi dua sendok, terus di lipat sisi kiri dan kanan. Setelah digulung celupkan kecocokan telur, gulingkan ketepung panir." Kartika tersenyum melihat suaminya yang berusaha membantunya tampak kaku.


"Sekarang Aku yang menggoreng ya" kata Kartika.


"Iya" Angga dengan telaten menggulung satu persatu. Sementara Kartika yang menggoreng. Mereka masak sambil ngobrol. Angga tidak henti-gantinya tersenyum melakukan momen seperti ini.


Dibalik tembok Alidi bersama Rumi, sedang mengamati kebersamaan Kartika dan Angga mereka tersenyum.


"Kita kekamar lagi, yuk" Aldi menggandeng tangan Rumi mengajaknya kekamar, mereka tidak ingin mengganggu Angga dan Kartika.


Sementara didapur 400 kue sudah matang, tinggal mengantar ke Toko Bu Huri.


"Tik, aku mau mandi, tapi nggak bawa ganti baju." Rangga masih mengenakan kaos oblong.


"Ada sih Mas, tapi bukan kemeja hanya kaos sama training"


"Nggak apa-apa" sahut Rangga.


"Ini kaosnya Mas, kaos ini bisa untuk pria maupun wanita."


"Terimakasih, duuuhh... Tik, aku ingin kita segera berkùmpul, dan begini setiap hari."


Kartika tidak menolak dan tidak juga mengiyakan. Ia ambil box lalu menata kue-kue.


Sementara Rangga masuk ke kamar mandi dapur lalu mandi. Selesai mandi Rangga menghampiri Aldi yang sudah siap dengan stelan kemeja kantor ingin berangkat tinggal memakai kaos kaki.


"Selamat pagi kak Aldi." Rangga tersenyum.


"Pagi Ga, kamu tadi malam sampai sini jam berapa?" Aldi menoleh Rangga disampingnya.


"Sekitar jam sepuluh, maaf nggak permisi sama kak Aldi, sudah tidur soalnya," Rangga merasa tidak enak.


"Jangan sungkan Ga, kami malah senang kalian menginap disini tumah menjadi ramai."


"Kak, saya boleh minta tolong nggak?"


"Minta tolong apa?" Aldi memutar tubuhnya, menghadap Angga.


"Saya minta tolong, membujuk Kartika kak, agar mau tinggal bersama saya." Rangga tampak memohon.

__ADS_1


Aldi menarik nafas panjang. "Akan saya coba Ga. Tetapi... tidak janji ya. Menurut saya wajar jika Kartika belum siap tinggal bersama dengan kamu. Saya rasa, semua wanita akan berbuat demikian Ga. Menjalani hidup rumah tangga dipoligami pasti akan berat ambil keputusan" tutur Aldi panjang lebar.


"Iya kak Aldi, saya mengerti."


""Saya berangkat dulu ya Ga."


"Iya kak"


Aldi pun berangakat dengan motor andalanya.


"Aku yang antar kuenya ya, sekalian mengantar Jeni." kata Rangga, menemui Kartika didapur.


"Memang Mas Angga nggak kerja?" Kartika menatap Rangga yang sudah mengganti kaos yang agak kesempitan justeru terlihat lebih muda.


"Nggak, hari ini aku ingin bersama kalian."


"Tumben, nanti kalau Bu Diana marah aku nggak tanggung jawab loh,"


"Kamu ini... kalau aku lagi bersama kamu, jangan bahas Diana apa" Rangga tampak tidak senang, raut wajahnya berubah masam. Ia kemudian menjatuhkan pantatnya di kursi.


Sebenarnya sejak tadi malam, Rangga sudah melupakan masalah keributanya dengan Diana karena terhibur dengan Kartika. Tetapi Kartika justeru mengingatkan.


"Eh, Ayah ada disini?" tanya Jeni yang sudah memakai seragam merah putih bersama Anisa tampak kegirangan melihat Ayahnya. Jeni langsung ndusel di pangkuan Angga.


"Iya dong, Ayah kan tidur disini, kamu nggak tahu kan?" Rangga mengusap pucuk kepala Jeni. Jeni mendongak lalu dicium pipinya


"Memang iya, Ayah tadi malam bobok sini Bun?" Jeni menoleh Bundanya yang berdiri didekat mereka.


"Iya, sekarang kalian berangkat gih, sudah siang soalnya." ucap Kartika sambil mengecek isi tas Jeni khawatir ada yang tertinggal.


"Assalamualaikum..."


Waalaikumsalam"


Semua menoleh.


Sekar dan kedua temanya yang akan membuat kue untuk pesanan sore nanti sudah datang. Ketiganya terperangah. Melihat Pak Rangga suami Diana. Yakni mantan bos-nya dulu berada disini.


Sekar menatap Kartika dan Pak Rangga bergantian.


Merasa diperhatikan Rangga tampak tidak nyaman. "Kita berangkat yuk" Angga menuntun Jeni dan Anisa keluar.


Dipintu Rangga menoleh Kartika seolah berkata "Aku berangkat" hanya terlihat bibirnya yang bergerak.


Langsung diangguki Kartika. Kuenya yang akan di antar Rangga. Sudah dimasukan kedalam mobil oleh Kartika sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2