
Jeni menyalakan lap top, membuka google, mencari apa itu arti poligami, dan apa maksud dimadu. Jenita terbelalak setelah tahu apa itu artinya. Ia menangis sendiri, jadi selama ini Ayahnya pergi bukan mencari uang, tetapi mencari Istri baru?
Tangan kecil itu mengusap air matanya. "Kasihan Bunda" batinnya.
Ingat Bundanya Ia meninggalkan meja belajar, mengurungkan niatnya untuk tidur bersama Anisa.
Jeni menuju kamar Bunda yang tidak dikunci, mendorong handle pintu perlahan, agar tidak mengusik tidur Ibunya. Mata bening itu melihat sosok Bunda yang sudah tidur. Tanganya menekan ranjang berjongkok menelisik wajah Bunda yang terlihat lelah. Jeni menutup mulutnya tangisnya pecah.
Setelah agak tenang, Jeni perlahan naik tempat tidur merebahkan tubuhnya. Tangan mungil itu merangkul perut Bunda. "Jeni sayang Bunda" membatin, kemudian tidur.
Keesokan harinya, Jeni terbangun tanganya meraba kasur sebelah. Ternyata sudah tidak ada Bunda. Jeni tahu Pasti Bundanya sedang membuat kue. Ia ambil handuk lalu mandi.
"Jeni... kamu sudah rapi nak?" tanya Kartika setelah selesai membuat dagangan dan menyusun dalam box menemui anaknya di kamar.
"Sudah Bun" sahutnya kemudian memeluk Ibunya yang masih bau bermacam-macam adonan kue, karena Kartika belum mandi.
"Loh, loh. kenapa anak Bunda? Bunda belum mandi. kamu kan sudah pakai seragam... nanti bau loh." kata Kartika.
Jenita tidak melepas pelukan Bundanya, justeru semakin erat.
"Hee... kamu kenapa? tumben, pagi-pagi kolokan..." Kartika menekuk lutut ke lantai, tanganya memegang kedua sisi lengan Jeni.
"Nggak apa-apa Bun" Jeni tetap tersenyum menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Kamu habis nangis... kenapa? cerita sama Bunda" Kartika terkejut melihat mata anaknya sembab, seperti kebanyakan menangis.
"Nggak apa-apa Bun... Jeni ambil tas dimeja belajar dulu ya." tanpa menunggu persetujuan Kartika Jeni keluar kamar.
Kartika menatap langkah anaknya, bingung entah kenapa anaknya sampai menangis. Kartika pun segera mandi.
Seperti biasa sebelum berangkat menuju aktifitas masing-masing. Keluarga Aldi makan pagi bersama.
"Ini kue apa Tante, enak" ucap Anisa sedang menggigit lemper isi ayam.
"Ini namanya lemper, terus ini onde-onde, yang terakhir pastel" Sahut Kartika, menunjuk satu persatu kue yang ia hidangkan dimeja makan.
"Kalau begini terus, setiap hari. Papa bisa gendut ini" Arumi mencubit perut Aldi yang sedang asyik makan onde-onde.
"Biarin gendut, sudah laku ini... iya nggak Nis?" Papa Aldi tersenyum, menatap anaknya. Anisa mengacungkan jempol. "Benar kata Anisa, kue nya enak" puji Aldi. "Nanti aku rekomendasi di kantor Tik" sambung Aldi.
__ADS_1
"Terimakasih kak"
"Tapi, apa kamu nggak rugi Tik, tiap pagi kue nya kamu kurangi untuk sarapan pagi?" Arumi tidak enak hati tiap pagi makan kue gratis berganti menu pula.
"Tidak Mbak, tenang saja. Sudah ayo, kita sarapan."
Mereka sarapan sambil berbincang-bincang. Tetapi Jeni hanya diam mengaduk-aduk susu.
"Jeni... ayo dong, cepat sarapan, kenapa sih... kamu cemberut terus?" tanya Kartika mencium pucuk kepala Jeni yang duduk di sebelahnya. Sejak pagi Kartika memperhatikan Jeni yang banyak diam hanya sesekali bicara. Padahal biasanya apa-apa ditanyakan.
"Iya" sahutnya satu kata, lalu meminum susunya.
*******
Diwaktu yang sama, Rangga pun sedang sarapan pagi, bersama istri keduanya dan juga mertua.
"Ga, antar aku ke DIANA BAKERY. Ya" kata Diana sudah hampir dua minggu tidak pernah bareng suaminya lagi.
"Heeemm..." sahutnya dingin, sambil memotong roti dengan garpu lalu menyuapnya.
"Bagaimana kabar anakmu Ga, sehat?" tanya Mama Uly. Walapun menantunya akhir-akhir ini jarang pulang. Mama Uly pikir biarlah, menantunya bisa berkumpul dengan anak istrinya. Mama Uly tidak tahu, bahwa selama ini Rangga hanya tinggal sendiri.
"Sehat Ma," sahunya. Ambil tissue di atas meja lalu menyeka mulutnya.
Angga menatap Diana sekilas. Heran dengan sikap isterinya ini, dari tadi malam bukan seperti Diana yang biasa arogan, dan akan mencak-mencak tiap kali menyinggung Kartika maupun Jeni. Tetapi ini justeru sebaliknya.
"Iya Ga! Mama juga ingin kenalan" Mama antusias. Beliau ingin mempunyai cucu, tapi Diana tidak mau hamil dengan alasan yang macam-macam.
"Sulit Ma" Angga pesimis bagaimana caranya mengajak Jeni, pasti Kartika tidak akan mengizinkan.
"Sulit? maksudnya?" Mama menyipitkan mata.
"Pasti Kartika tidak akan mengizinkan. Wajar Ma, sejak kecil, dia yang mengurus Jeni sendirian, masa iya? setelah besar saya dengan seenaknya memisahkan dia, walaupun hanya semalam sekalipun" Angga merasa bersalah.
"Kartika suruh bekerja sama aku lagi saja Ga" kata Diana. Angga tidak menyahut, Diana menawarkan itu pasti karena Toko rotinya mengalami penurunan omset. Sebab banyak ditinggalkan karyawan yang bisa diandalkan seperti Kartika dan Sekar.
"Dia sudah jual kue sendiri, cepat atau lambat pasti Kartika sukses" puji Angga.
Diana mencibir tanpa Rangga tahu.
__ADS_1
Rangga lalu berangkat bersama Diana, setelah pamit mertuanya. Didalam mobil Rangga tidak sepatah kata pun berbicara kepada Diana. Hingga sampai didepan Toko. Setelah Diana turun. Angga tetap cuek. Walaupun Diana membujuknya agar turun, Angga melanjutkan mobilnya.
Diana geram mengepalkan tangan, matanya merah menatap kepergian suaminya. "Kamu mau main-main sama aku Ga" gumamnya.
*******
Sudah selama seminggu, Rangga tidak menjemput Jeni di sekolah. Kali ini rasa rindunya membuncah. Rangga keluar dari kantor bergegas menuju sekolah.
Sampai tempat yang di tuju. Rangga masuk kedalam menunggu Jeni yang hanya tinggal beberapa menit lagi jam pulang akan datang.
Kriiing... kriiing... kriiing. Bel berbunyi anak-anak berhamburan dan berdesakan keluar menuju halaman sekolah.
Rangga mengamati dimana Jeni berada. Hingga anak berkulit putih, cantik, rambut dikuncir kuda, hidung bangir. Itupun sampai halaman. Rangga melambaikan tangan, karena biasanya Jeni akan berlari mendekatinya. Namun berbeda untuk kali ini.
Jeni mundur begitu melihat siapa yang datang, lalu berlari ke taman belakang.
"Jeni" gumam Angga. Merasa ada yang aneh, Rangga menyusulnya.
"Jeni... kenapa kamu berlari?" Angga menggenggam tangan mungil itu lalu menciumnya.
"Jangan pegang saya" Jeni mendorong tubuh Angga.
"Jeni... kenapa marah sama Om? apa salah Om?" Rangga masih bingung akan sikap Jeni. Rangga menatap Jeni yang sedang menangis lalu berjongkok bertumpu lutut.
"Om jahat... Jeni nggak mau kenal lagi sama Om!" Jeni mundur tidak mau dipegang. Rangga sedih menatap mata Jeni yang sedang bercucuran, belum bisa mencerna apa yang terjadi.
Jeni lari dari taman menuju pintu gerbang. Disana sudah ada Arumi dan Anisa yang menunggu. "Jeni... kamu kenapa?" tanya Arumi, melihat keponakanya menangis. Jeni tidak menyahut langsung memeluk perut bude nya.
"Ada apa Jen? ada yang menjahili kamu, siapa orangnya?" cecar Anisa.
Jeni menggeleng di perut Arumi sambil sesegukan..
"Sudah... nanti ceritanya dirumah saja, lebih baik kita pulang." pungkas Rumi.
Rumi merenggangkan pelukan Jeni, lalu menuntunnya keparkiran motor.
Rangga mengejar mendekati Jeni. Tetapi Jeni berjalan mendahului budenya. Rangga menatap Arumi minta bantuan, agar Jeni mau pulang bersamanya.
"Jen, ada Om nak, Om ganteng mau jemput kamu." Arumi memegang pundak Jeni.
__ADS_1
"Nggak mau! Jeni pulang sama bude saja." Jenita tidak mau menatap pria yang sebenarnya Ayahnya.
"Ga, biar Jeni pulang bersama Mbak dulu, ya" ucap Rumi. Dan hanya diangguki Rangga.