Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 51


__ADS_3

Obrolan sahabat itu berlanjut hingga jam 10 pagi. Kali ini Kartika bisa tertawa lepas. Ia bersyukur, hari ini diberikan dua kebahagian. Yang pertama anaknya sudah ditemukan, dan yang kedua, ia bisa menjalin silaturahmi dengan sahabatnya.


"Tik, ngomong-ngomong... kamu dengan Angga sudah bersatu kembali?" tanya Linda saat ini Angga bersama Pak Dos melihat usaha Angga yang baru dirintis di Ruko sebelah. Yang Linda tahu, Kartika saat ini tinggal bersama Angga. Itu Artinya mereka telah bersatu kembali.


Kartika menarik nafas berat. "Aku masih bingung Lin, Jujur. Aku masih mencintai Angga, begitu juga Jeni, ingin kami bersatu kembali. Akan tetapi... sampai saat ini aku belum bisa melupakan pengkhianatan Angga." Jawab Kartika panjang.


"Aku sarankan deh Tik, coba kamu nanti malam shalat istikharah, minta petunjuk kepada Allah... dan satu lagi, aku ingin memberimu saran. Perbaiki pakaianmu." terang Linda


Spontan Kartika menelisik pakaiannya sendiri, kemudian menatap Linda. Kartika tahu maksud sahabatnya lalu mengangguk.


Linda tersenyum. "Tik, bagaiman jika kita bekerja sama?" tanya Linda membahas hal lain.


"Caranya?" Kartika mengerutkan dahi.


"Kira-kira... yang agak jauh dari sini, Ada Ruko yang disewakan nggak?" Linda ingin mereka membuka usaha bersama. Tetapi jika terlalu dekat jarak Ruko yang baru dengan Ruko ini tentu hasilnya kurang maksimal.


"Oh ada, didekat sekolah. Di pinggir jalan lagi" Kartika ingat, sebelum Jeni menghilang. Ia pernah ngobrol dengan pemilik Ruko di pinggir jalan samping sekolah, ada Ruko satu yang kosong.


"Baiklah... kamu temui pemiliknya, lalu kita sewa Ruko itu, kamu menjual dagangan kamu, lalu aku menjual makanan Ringan. Bagaiman?" usul Linda.


"Iya, aku mau" Kartika bersemangat.


"Nah, masalah karyawan... aku sudah punya pandangan, dia sudah kerja bersamaku sejak lama, orangnya baik dan bisa dipercaya." kata Linda panjang.


Setelah sepakat, keluarga Linda pun pamit pulang.


******


Siang hari setelah jeni bangun bobo, Kartika dengan Rangga mengajak Jeni ngobrol di lantai dua. Menanyakan ciri-ciri wanita yang menculiknya. "Coba ingat-ingat nak, kira-kira seperti apa wajah wanita itu?" tanya Kartika.


Jeni bingung entah mau menjawab apa. Apa aku terus terang saja ya, sama Bunda. Nanti kalau aku bohong. Kata Pak Ustad bohong itu dosa.


"Dia... dia itu..." Jeni menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


"Dia siapa Jen?" cecar Angga. "Jujur nak, biar Ayah bisa mengambil tindakan siapa orangnya yang sudah mengganggu anak Ayah?" imbuhnya.


"Tante Diana Yah." jawab Jeni pada akhirnya.


Angga menarik nafas panjang, membuangnya kasar. Sudah Angga duga dari kemarin. Sebenarnya Ia sudah curiga bahwa Diana lah pelakunya. Namun, kembali mengingat praduga tak bersalah. Lagi pula, Angga tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan jika semua belum jelas.


"Terus... kamu di apain sama Tante Diana sayang..." Kartika mencoba bersikap tenang, padahal dalam hati ingin mencakar-cakar madunya sekaligus mantan bos nya itu.


"Ceritakan semua nak" Angga mengusap kepala Jeni lembut.


Jeni pun menceritakan tujuan Diana menculiknya. "Terus...Tante maksa Jeni Bun. Jeni dikasih kertas bergambar coklat kehitaman gitu, katanya suruh dikasih Ayah. Katanya itu gambar dedek Jeni. Jeni nggak mau ambil, malah Jeni di paksa." tutur Jeni menyon-menyon mengingat peristiwa kemarin.


"Terus, Tante juga bilang, katanya hasil USG. USG itu apa Bun?" tanya Jeni polos


Deg.


Kartika tidak menjawab pertanyaan Jeni. Justeru menatap Angga jengkel, baru saja berniat memberi kesempatan pada suaminya, justeru ada-ada saja masalah yang hadir.


"Jeni nggak mau punya adik dari Tante Diana Yah, Jeni mau punya adik dari perut Bunda." rengek Jeni Jujur kas anak-anak


Angga tidak menyahut menatap Kartika yang sedang menopang kepala seperti ada beban berat dalam pikiranya. Angga lalu berdiri meninggalkan kamar.


"Ayah mau kemana?" Jeni mengikuti langkah Ayahnya.


Kartika membiarkan Angga keluar. Ia duduk selonjor bersandar di tempat tidur. Menepuk dadanya yang terasa sesak.


Bagaimana tidak? kini Ia harus menghadapi kenyataan, bahwa Diana telah mengandung anak Angga. Itu Artinya, pihak pengadilan agama tidak akan mengabulkan gugatan cerai Angga.


Jika begini, Kartika yang harus mengalah, kini Ia mengaku kalah. Kalah dengan Diana wanita sombong itu.


Kartika menangis memeluk lutut, perjuangannya untuk merebut Angga demi Jeni kini telah pupus. Sia-sia sudah jauh-jauh meninggalkan Ibu.


"Ibu... terlalu banyak kah, dosaku kepadamu? hingga anakmu mengalami nasip seperti ini?" Batinnya mengangkat kepala menengadah. Ia mengingat semua dosa yang di lakukan terhadap Ibu.

__ADS_1


Ah aku harus kuat, aku tidak mau cengeng. Dari dulu aku sudah biasa menjalani hidup yang ruwet. Bahkan tidak dapat mengurai. Tetapi mengapa? kini justeru menyerah? Oh tidak... aku akan menjalani ini demi Jeni.


Kartika Bangkit berjalan kekamar mandi di bawah tangga. Kamar mandi bukan milik pribadi. Tetapi kamar mandi bareng-bareng.


Ia membasuh muka ambil air wudhu menjalankan shalat Ashar. Setelah shalat membantu Sekar membuat Roti.


Sementara di halaman Ruko. Jeni mengejar Ayahnya. "Ayah... Jeni ikut." rengek Jeni.


"Ayah mau pergi sebentar sayang, ada urusan, Jeni temani Bunda dulu ya, Ayah janji, nggak akan lama kok." ucapnya lalu mengenakan helm yang masih menyangkut di motor, setelah diyakan Jeni. Keduanya melambaikan tangan.


Motor berlalu cepat. Angga mengendara di atas rata-rata. Ia benar-benar dibuat jengkel oleh kelakuan Diana. Kekesalannya kini memuncak, selama ini dia diinjak-injak harga diri nya masih bisa mengalah, tetapi kini sudah menyangkut buah hatinya. Rangga akan membuat perhitungan.


Motor menuju DIANA BAKERY. Ketika sampai, Rangga memarkirkan motornya berjajar dengan motor karyawan yang lain. Banyak mata anak buah Diana yang tidak percaya. Seorang Ranggano yakni suami dari bos yang biasanya menggunakan BMW kini memakai motor butut.


"Eh, itu Pak Rangga bukan sih?" tanya salah satu karyawan wanita, bagian Admin, ketika Ranga melewati tangga lantai dua.


"Iya, tetapi kenapa... penampilannya beda ya." jawab karyawan pria beda kubikel.


"Ah! biar saja! mau pakai apa kek, memang loe mau beliin," seloroh karyawan yang satu lagi.


"Ngacok loe! gaji gw sebulan hanya cukup buat beli celana kolornya doang, hahaha." semua pun tertawa.


Dok dok dok.


Kerja, kerja, Kerja. Kok pada tertawa? memang ini ajang lawak?!" pengawas yang melintas menatap tajam para karyawan. Semua mengkerut seperti bekicot.


Padahal pengawas sendiri pun menatap Rangga heran. Pasalnya, Rangga hanya menggunakan kaos. Memang terlihat lebih muda sih. Tetapi, yang ada dalam pikiranya.


Mana bos yang biasa menggunakan kemeja, jas, berdasi rapi, celana bahan, dan sepatu pantofel?


.


.

__ADS_1


__ADS_2