Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 7


__ADS_3

Suami istri yang sudah enam tahun tidak bertemu masih saling pandang, berkelana dalam pikiran masing-masing. Rangga kemudian melempar pandangannya kelain arah.


"Mas" satu kata dari mulut Kartika.


Namun Angga tetap diam.


"Mas, kenapa kamu bisa melupakan janjimu? anak kita sekarang sudah besar, dia mirip sekali dengan kamu Mas" suara Kartika serak.


Angga bergeming menatap keluar.


"Anak kita perempuan dan sering menanyakan Ayahnya, yaitu kamu" Kartika mengusap pipi cairan bening jatuh dari mata.


"Kenapa Mas Angga tega meninggalkan aku dalam keadaan hamil, melahirkan, dan membiarkan hidup kami terlunta-lunta. hiks hiks"


Angga menoleh ke arah Tika melihat Kartika menangis dadanya sesak, tangannya diangkat ingin mengusap kepala Kartika yang sedang menunduk mengusap ingus dengan tissue. Namun, Angga menarik tanganya kembali, lalu kembali membuang tatapan mata ketembok.


"Kapan Mas akan menemui anak kita?" Kartika menggenggam tangan Angga.


Angga menepis tangan Kartika dengan kasar. "Jangan lancang kamu! berani menyentuh tangan saya!" Angga mengangkat kerah seragam Kartika dengan rahang mengeras. Menatap tajam Kartika, bak hantu menjelma.


Kartika balik menatap Angga. Ternyata bukan Angga yang dulu, Angga sekarang sungguh menakutkan. Kartika pun menunduk sambil sesegukan.


Angga mendorong tubuh Kartika yang masih sah menjadi istrinya itu, hingga terjungkal ke lantai.


"Saya peringatkan kamu! jangan pernah memanggil saya Angga. Karena Angga sudah mati! satu lagi, saya tidak punya anak dari wanita seperti kamu! mungkin anakmu itu hasil dari hubungan kamu dari pria lain!"


Angga kemudian meninggalkan tempat itu.


Sementara Kartika duduk memeluk lutut, sambil menangis. Tika menyesal, dia sudah salah menyapa Angga tadi. Ternyata pria kaya itu memang Rangga, bukan Angga. Benar yang dikatakan Rangga, Anggak yang baik, telah mati.


"Mbak ada apa ini? Mbak kenapa?" pria tampan berusaha membangunkan Kartika yang masih duduk dilantai depan toilet.


"Anda sakit?" tanya pria itu berjongkok di depan Kartika.


Kartika tidak menjawab justeru menangis kencang. Hingga tubuh Kartika lemas lalu ambruk di dada Devano.


Karyawan yang lain pun berdatangan ke toilet.


"Pak Devan? ada apa?" tanya karyawan senior dan di ikuti yang lain mengerumuni Devan dan Kartika.


"Wanita ini pingsan, rupanya sedang sakit" jawab Dewan sambil menepuk pipi Kartika, yang ia topang di lengannya. Namun, Kartika tetap diam.


Pria itu ternyata HRD yang bernama Devano yang mewancarai Kartika pertama kali.


"Ya Allah... terus bagaimana Pak?" salah satu karyawan pria ikut berjongkok disisi Devano.


"Saya akan membawa dia kerumah sakit, dulu ya" tanpa menunggu jawaban yang lain, Devan membopong tubuh Kartika dan membawanya ke parkiran.


Di parkiran, tampak Rangga duduk didalam mobil sudah siap pergi, menatap Devan yang sedang menggendong Kartika dan membawanya masuk kedalam mobil. Hati Rangga mecelos. Lalu membuka kaca. Pandangannya tidak mau berpaling, mengamati apa yang dilakukan Devano. Devan di bantu karyawan membuka pintu, kemudian menidurkan Kartika di tengah.

__ADS_1


"Kartika... ya Allah... kamu kenapa?" pekik Sekar, menghampiri mobil Devan, melihat sahabanya yang sudah dalam posisis terlentang.


Dia pingsan Mbak, mau saya bawa kerumah sakit, anda ingin ikut?" tanya Devan kepada Sekar.


"Tungu sebentar Pak Devan, saya izin bu Nana dulu, dan mengabarkan kepada beliau" kata sekar. Sekar bergegas menemui bu Nana. Tak lama kemudian. Sekar kembali membawa dua tas dan perlengkapan shalat milik Kartika.


Setelah Sekar masuk mobil memangku kepala Kartika. Devan meninggalkan lokasi dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit terdekat.


Rangga masih belum menutup kaca, kemudian, menjatuhkan punggungnya di jok. Menjambak rambutnya gusar.


"Mas" Diana membuatnya terkesiap. Diana membuka pintu masuk kedalam mobil lalu menutup kaca.


"Habis kemana sayang?" tanya Rangga, sebab menunggu Istrinya lama.


"Dari toilet, ada salah satu karyawan yang jatuh pingsan, terus berhenti sebentar" tutur Diana.


"Kamu kenal?" tanya Rangga singkat. Sambil memasangkan seatbelt ke tubuh langsing Diana.


"Nggak kelihatan wajahnya, soalnya dikerubungi orang, tapi sudah di bawa Devan ke rumah sakit"


Rangga tidak menjawab lagi. Lalu starter mobil BMW miliknya menuju resto, mereka saat ini akan makan siang.


Didalam mobil Rangga tidak sepatah kata pun berbicara kepada Diana.


"Kamu kenapa Mas?" Diana membaca gelagat Aneh suaminya.


"Memang kenapa?" Rangga balik bertanya tetap lurus kedepan.


Sampailah Rangga dan Diana di restoran mewah, hanya orang-orang yang berkantong tebal yang biasa makan di tempat itu. Angga menarik kursi untuk istrinya kemudian untuk dirinya sendiri.


Mereka kemudian memesan makanan.


"Minggu depan kita jadi berangkat ke Bali Na?" tanya Rangga kemudian.


"Memang kamu setuju Mas?" Diana tampak ragu sebab dari kemarin Rangga tidak menyinggung soal itu lagi.


"Setuju lah, apa sih yang nggak buat kamu?" Rangga mulai mencair melupakan kejadian di toilet tadi.


"Mas serius?" Diana tampak senang.


"Serius. Aku akan minta tolong Iwan untuk mempersiapkan semuanya" kata Rangga, sambil mencium punggung tangan Diana yang mengetuk-ketuk atas meja.


Angga merasa bersalah tadi sudah mendiamkan Istrinya yang tidak tahu menahu persoalanya.


"Menurut mu kita kapan berangkat?" tanya Rangga lagi.


"Mungkin jum,at sore saja Mas"


"Ya sudah, nanti aku suruh Iwan memesan tiket, hotel dan lain sebagainya."

__ADS_1


Pelayan restoran datang mengantarkan makan siang. Setelah makan mereka pulang tidak kembali ke DIANA BAKERY.


*******


"Ma, aku lusa jadi berangkat ke Bali ya" Malam harinya Diana sedang ngobrol bersama Mama Uly.


"Oh bagus. Rencana berapa hari?" Mama yang sedang fokus menanton televisi mememcet remote.


"Selama seminggu Ma"


"Oh"


Sesaat mereka diam. "Rangga kemana? tumben, nggak ikut bergabung ngobrol disini."


"Nggak tahu Ma, dari tadi siang dia murung terus," adu Diana cemberut.


"Sakit kali? kamu sudah tanyakan kenapa?"


"Kalau ditanya katanya nggak apa-apa, tapi tetap diam" Diana cemberut.


"Suami kamu itu, capek banget, Na. Harus mengurus dua perusahaan selaligus, dia itu anak yang patuh, selama Papa kamu meninggal, suami kamu menjalankan amanat Papa dengan serius, dan hasilnya luar biasa kan? perusahaan Papa maju pesat."


"Iya Ma"


"Makanya, kalau suami kamu sedang ada masalah hibur dia, mungkin dia ada masalah di kantor" nasehat Mama Uly panjang lebar.


"Ya sudah, aku keatas ya Ma" Diana menyusul suaminya ke lantai dua, setelah di angguki Mama.


Sampai di kamar, Diana melihat suaminya yang sedang telungkup kedua kakinya diangkat keatas, tidak menghiraukan kehadirannya.


Sebelum naik ke kasur Diana ke kamar mandi dulu, lalu berdiri di depan cermin memutar tubuh indahnya. Selama ini, Diana selalu menjaga penampilan. Dari wajahnya yang ia rawat hingga gloowing. Berat badanya harus stabil, tidak ingin ada lemak yang menonjol.


Diana menoleh Angga, yang masih dalam posisi semula. Anggak tipe suami yang takut istri, tetapi jika Angga sudah diam begini, pasti memikirkan masalah anak. Diana mengelus perutnya kemudian menyusul suaminya.


"Tumben Mas? masih sore sudah tidur?" Diana melingkarkan tanganya ke badan Angga.


"Belum kok" mencium aroma istrinya yang memabukkan Rangga pun balik badan, tidur dalam posisi terlentang.


"Mas, kenapa sih... aku perhatikan dari tadi siang kok mendiamkan aku terus," Diana sedih.


"Mas ada perempuan lain di luar sana ya?" tuduh Diana.


Rangga memiringkan badan menghadap Diana berbantal satu tangan. Satu tangan lagi merengkuh pinggang langsing Diana. "Kamu ini bicara apa?" Rangga justeru tersenyum memandang wajah posesif istrinya.


"Nggak ada wanita lain, selain kamu"


"Yang bener?"


"Benerlah"

__ADS_1


"I love you..." Rangga mendekatkan wajahnya hingga tinggal beberapa cm.


"I love you too..."


__ADS_2