Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 46


__ADS_3

Rangga menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, jalanan tampak lengang. Wajar saja sudah tengah malam. Hanya dengan hitungan menit mereka sampai didepan Ruko.


Kartika turun setelah motor berhenti. "Kamu sendirian boboknya, nggak ada Jeni. Boleh ya, aku temani kamu bobok." kelakar Rangga, memegang lengan Kartika.


"Nggak apa-apa sendirian, bagi aku sudah biasa. Mas tuh! yang nggak biasa, karena tiap malam bobo ditemani Diana." sahutnya sambil melepas pegangan Rangga.


"Hehehe... kamu cemburu ya." Rangga tersenyum tipis melihat Kartika ada raut cemburu diwajahnya.


"Tau, ah" Kartika pun akhirnya masuk. Rangga masih terus tersenyum. Ia memasukkan motornya berhimpitan dengan barang-barang elektronik dagangannya.


Rangga segera merebahkan tubuhnya, setelah berganti pakaian. Ia tidak bisa tidur. Miring kiri, miring kanan, wajah Kartika selalu menari diwajahnya. Saat memakaikan baju koko tadi.


Sementara Kartika sudah mendengkur halus. Jujur, saat dirumah sakit tadi, dia memang sudah tidak kuat. Kartika memang selalu tidur sore. Sebab paginya harus bangun disaat orang masih terlelap.


********


Sebulan kemudian. Selama itu Rangga dan Kartika, masih tetap sama, tidur terpisah. Namun, tetap satu misi untuk membahagiakan Jeni buah hatinya. Selalu ada komunikasi setiap menyangkut masalah Jeni. Walaupun Kartika tetap meolak jika diajak pindah kerumah Rangga.


Diana, dirawat hanya seminggu. Selama dirawat, Rangga menengok hanya dua kali, itupun selalu bersama Kartika, demi menjaga hatinya.


Usaha Rangga sedikit demi sedikit mengalami kemajuan. Siang ini, Rangga sedang bertemu klien yang pernah kerja sama, saat masih di PT Diana Group dulu. Yakni, ingin mengembangkan usahanya bisnis elektronik.


Sementara Kartika, siang ini starter motor hendak menjemput Jeni. Jika Rangga tidak sempat, saatnya Kartika yang menjemput.


Kartika sudah mulai menyicil motor sendiri, walaupun baru setoran pertama. Memudahkan dirinya jika harus menjemput Jeni seperti sekarang ini. Juga memudahkan Sekar, untuk mengantar barang pesanan jika hanya berjumlah sedikit.


"Sekar... aku jemput Jeni dulu ya..." ucapnya dari luar.


"Iya... hati-hati" sahut Sekar dari dalam, sambil membuat adonan pancake.


Dengan semangat Kartika menuju sekolah, pasti saat ini Jeni sedang menunggu dipinggir pagar. Pikirnya.


Sampai di pintu gerbang sekolah, Kartika langsung memarkirkan motornya. Berjalan cepat ingin menemui Jeni. Namun tidak nampak ada Jeni disana. Padahal biasanya sudah menunggu didepan pagar.


"Pak, lihat anak saya yang biasa saya jemput disini nggak?" tanya Kartika kepada satpam, setengah panik.


"Oh iya ya, biasanya suka menunggu disini... tapi kok nggak ada?" Satpam balik bertanya. "Coba dicari dikelas Bu" kata satpam.

__ADS_1


Dengan harap-harap cemas, Kartika bergegas menuju kelas. Namun, sudah sepi. Kartika kembali kehalaman, netranya menyisir keseluruh halaman masih banyak juga anak-anak yang belum dijemput. Kartika menunggu sesaat, mungkin Jeni dikamar mandi. Namun hingga sekolah hampir sepi, Jeni belum juga muncul.


Kartika masih berpikir jernih. "Oh mungkin dijemput Mbak Rum sekalian" pikirnya. Lalu memencet tombol telepon Mbak Rum.


Deringan ketiga telepon diangkat. "Assalamualaikum..." Rumi.


Kartika: Waalaikumsalam..."


"Mbak Rum, Jeni pulang bersama Mbak ya?" tanya Kartika masih tenang.


Rumi: "Nggak tuh, aku juga baru sampai ini, tapi aku tadi waktu menjemput Anisa, nggak melihat Jeni, dijemput Angga mungkin."


"Ya sudah Mbak, aku telepon Angga dulu." Kartika memutus sambungan telepon dengan Rumi. Lalu beralih menghubungi Angga.


"Hallo Tik, tumben. Ada apa?" suara Angga diseberang sana.


"Mas Angga, sudah menjemput Jeni ya?" tanya Kartika, to the point.


"Loh, belum, aku masih bersama klien ini."


"Mas... Jeni nggak ada disekolah... terus dia pulang sama siapa?" Mata Kartika mulai mengembun..


Kartika menutup handphone masih ada setitik harapan mungkin Jeni berada di kantor. Sebab, Jeni anak yang dekat dengan Guru.


Setengah berlari, Kartika menuju kantor. "Permisi Bu..." Kartika sudah berdiri didepan kantor. Ternyata Guru masih berkumpul. Semua Guru pun menoleh.


" Silahkan masuk Mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu Guru. Kartika pun masuk langsung cerita.


"Tadi setelah bubar, langsung keluar dia Bu" kata wali kelas Jeni yang masih gadis.


"Terus... anak saya kemana Bu... hiks hiks hiks" Kartika mulai menagis.


"Coba ibu menghubungi teman dekatnya, siapa tahu, dia main kerumah temannya Bu"


"Saya tidak punya nomernya." Jawab Kartika terisak.


"Coba lihat di grup, kelas dua A. Ibu masuk grup tidak?" tidak menjawab Kartika membuka grup chat.

__ADS_1


Sebelum Kartika mengetik, Bu Guru sudah mengetik terlebih dahulu. Tetapi teman-teman Jeni tidak ada yang tahu.


"Ya Allah... anakku... kamu kemana..." gumamnya sambil menangis. Kartika berjalan keparkiran seraya menempelkan handphone ditelinga, telepon Rangga sebaiknya pulang saja, mungkin Jeni sudah dirumah.


Inilah harapan terakhir Kartika. Ia berpikir, mungkin Jeni pulang naik angkutan sendiri. Jeni sudah Berkali-kali ingin pulang naik angkutan sendiri. Namun, mana mungkin? dia dan Rangga mengizinkan.


Motor berlalu meninggalkan sekolah. Kartika berjalan pelan sambil menyusuri jalanan, siapa tahu anaknya pulang jalan kaki. Sebab, jarak dari sekolah ke Ruko tidak terlalu jauh. Namun, nihil.


"Sekar... Jeni sudah sampai dirumah belum?" tanya Kartika tanpa mengucap salam.


"Loh, kamu ini bagaimana Tik? bukanya kamu sedang menjemput?" Sekar balik bertanya.


"Mungkin dijemput Pak Rangga" Evi menyahut.


"Atau... Mbak Rumi mungkin" Riri menambahkan.


"Nggak! mereka semua nggak ada yang tahu... terus Jeni kemana Se... Jeni kemana..." Kartika duduk dilantai memeluk lutut sambil sesegukan. Kedua temanya menghiburnya sedangkan Sekar mengambilkan minum.


Banyak sekali pikiran buruk yang bersemayam di pikiran Kartika. Mungkinkah, Jeni diculik? jika iya, apa motifnya. Selama ini Kartika merasa tidak punya musuh, jika ingin tebusan, Kartika bukan orang kaya.


Tubuh Kartika berguncang, tidak ada yang membuatnya bahagia selama ini, kecuali Ibu dan Jeni. Tidak bisa membayangkan Jika Jeni hilang.


"Tik tenang ya, kamu minum dulu" Sekar menyodorkan segelas air.


Kartika ambil gelas dari tangan Sekar lalu meminum sedikit. "Jangan bersedih Tik, kita doakan, Jeni hanya main kerumah temanya." hibur Sekar.


Terdengar suara motor dari luar, Kartika langsung berdiri. Walaupun rasanya lemas, Kartika memaksakan. Kartika berpikir mungkin itu Rangga, dan sudah membawa Jeni pulang.


"Mas Angga... Jeni kemana Mas..." Kartika histeris.


"Tenang... Jangan menangis, kita cari sama-sama ya" Rangga memeluk Kartika dari depan. Kali ini Kartika tidak menolak, justeru menangis di dada Rangga.


Rangga menguap-usap lembut punggung Kartika yang sedang menumpahkan tangis. Bukannya Rangga tidak panik. Namun ia sedang berpikir jernih, bagaimana langkah selanjutnya untuk mencari Jeni.


Angga mengajak Kartika naik motor berdua, mencari Jeni kerumah orang-orang yang sekiranya mengenal Jeni. Namun hingga menjelang ashar Jeni belum juga diketemukan.


.

__ADS_1


.


__ADS_2