Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 38


__ADS_3

Siang berganti sore malam pun datang. Tepat jam delapan malam Rangga sampai di rumah. Ia meninggalkan Rudy yang sedang memarkirkan mobil digarasi.


Rangga berjalan tergesa-gesa ingin segera kekamar mandi, karena menerima panggilan alam. Netranya menatap kursi, dimana biasa Mama mertua duduk di depan televisi, tetapi kali ini tampak sepi.


Tak tak tak.


Ia menapaki anak tangga.


Ceklak. Rangga membuka haldle pintu, tampak Diana sedang duduk di didepan cermin, membersihkan wajahnya.


Keduanya saling diam. Angga segera membuka jas, dan dasi yang melilit leher. Ia bergegas ke kamar mandi setelah melempar jas di kursi sofa.


Tiga puluh menit kemudian, Rangga sudah keluar membuka lemari ambil kaos oblong, yang paling ia suka. Selama menikah dengan Diana belum pernah sekalipun disiapkan pakaian.


Setelah rapi, Rangga kembali keluar menuruni tangga. Berjalan kedapur.


"Mau dibuatkan apa Tuan?" tanya Bibi yang biasa memasak, masih didapur.


"Mau kopi Bi" jawabnya, sambil membuka kitchen set. Awalnya ingin membuat kopi sendiri.


"Biar Bibi saja Tuan," Bibi lantas ambil cangkir yang sudah dipegang Rangga.


"Nanti antar keruang kerja saya, ya Bi."


"Baik Tuan"


Rangga meninggalkan Bibi masuk keruang kerja. Membuka lap top kemudian menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda.


Tiga puluh menit kemudian. "Kalau siang keluyuran! kalau malam pura-pura sibuk!" sergah Diana bersedekap dada, karena pintu tidak dikunci dia nyelonong masuk.


Rangga tidak menjawab, tetap mantengin lap top.


"RANGGA!" bentak Diana.


Rangga terlonjak kaget. "PRAK" sebuah bingkai foto mereka jatuh hancur berantakan, di banting Diana.


Bibi yang sudah berdiri dipintu ingin masuk mengurungkan niatnya. Melihat pertengkaran seperti ini sudah tidak aneh, bagi Bibi. "Kenapa... orang kaya kok, kerjanya bertengkar terus." Bibi bergumam, berlalu membawa kopinya kembali kedapur.


Rangga mengamati fhoto pernikahannya yang hancur berkeping-keping, seolah pertanda. Akankah, pernikahannya dengan Diana, bernasib sama seperti bingkai foto tersebut?


"Kamu gila Na" ucap Rangga menatap Diana tajam.


"Memang aku gila! kamu yang membuat aku gila Ga" tuding Diana.


"Sudahlah Na, aku mau kerja, nggak mau ribut." Rangga menjatuhkan bokongnya kasar, lalu kembali menatap lap top. Namun Diana justeru mematikan.


"Buat apa! kamu membeli Ruko? buat istrimu kan?!" sarkas Diana. Sepanjang hari ini orang suruhan Diana mengikuti kegiatan Rangga.


"Iya! kenapa? mau marah, silahkan!" Jawab Rangga berdiri berhadapan dengan Diana.


"Jelas aku marah, kamu membeli Ruko untuk istrimu menggunakan uang perusahaan!" tuduh Diana geram.


"Kata siapa? aku bekerja dapat gaji, selama ini aku nggak pernah menafkahi istriku yang malang. Apa salah, jika aku menyisihkan uang gajiku untuk menafkahi dia?" Angga menterlentangkan kedua telapak tangan kesisi kiri dan kanan.

__ADS_1


"Jelas salah! kamu hanya miliku!"


"Kamu egois Na, aku nggak kuat lagi hidup sama kamu"


"Hahaha" Diana tertawa meledek.


"Bisa apa kamu diluar sana tanpa kami. Kamu pikir kamu ini SIAPA?!" Diana menunjuk dada suaminya.


"Aku akan buktikan!" Angga keluar dari kamar hingga menabrak Mama Uly. Ternyata Mama Uly mendengarkan keributan anak dan menantunya sejak tadi.


"Rangga... sabar nak, kamu jangan dengarkan Diana. Kamilah yang tidak bisa hidup tanpa kamu nak" Mama Uly merangkul menantunya. Tangan keriput itu melingkar diperut Rangga.


"Rangga ini laki-laki yang punya harga diri Ma, Rangga sudah tidak kuat dihina Diana terus menerus." Rangga menitikkan air mata.


"Mama mengerti nak, Mama minta maaf atas nama Diana." Mama Uly menangis dipunggung Rangga.


"Biarkan Rangga menenangkan diri dulu Ma" ucap Rangga lirih.


"Iya nak. Tapi jangan tinggalkan Mama ya, nak."


"Angga tidak menyahut, setelah Mama melepas pelukanya. Ambil jaket dan kunci mobil lalu pergi.


Seperti biasa Rangga pergi menuju rumahnya sendiri. Sampai ditempat, Rangga terlentang dikasur, menatap langit-langit.


Flashback on.


"Ga, kamu yang Papa gadang-gadang. Papa bangga sama kamu bisa lulus kuliah dengan nilai tinggi" Papa tersenyum senang. "Yang lebih membuat Papa bangga berkat kamu, perusahaan Papa maju pesat."


"Terimakasih Pa" ucap Rangga.


"Papa harap, kamu nanti lanjut S2 ya, nak."


"IsyaAllah Pa"


Itulah, ternyata hari terakhir Angga berbincang-bincang dengan Papa. Satu bulan kemudian Papa meninggal karena sakit keras.


"Ga" lirih Papa saat dirawat dirumah sakit.


"Iya Pa" Rangga menggenggam tangan Papa. Sementara Mama Uly dan Diana menangis sesegukan.


"Pa- pa ti- tip Diana ya nak, Pa- pa yakin, kamu bisa merubah Diana bisa lebih baik"


"Iya Pa, kita sama-sama merubah Diana."


"Pa- pa tidak kuat lagi nak"


"Papa harus kuat, bukankah Papa ingin punya cucu." Angga mencium punggung tangan beliau.


Saat itu, Papa menghembuskan nafas terakhir. Tepatnya satu tahun yang lalu.


Beberapa bulan setelah Papa meninggal, notaris mengumpulkan keluarga Papa Hermawan. Lalu membacakan surat wasiat.


Semua harta diwariskan kepada Diana. Kecuali perusahaan. Angga mendapatkan setengahnya.

__ADS_1


Flashback off.


"Maaf Pa, Rangga gagal mewujudkan wasiat terakhirmu" monolog Rangga. Rangga melihat jam masih jam sembilan tiga puluh menit.


Rangga ingat janjinya kepada Jeni, malam ini ingin kesana. Rangga menimbang-nimbang jam segini kesana, apa tidak mengganggu? Dan pastinya Jeni sudah tidur.


Rangga memutuskan lebih baik kesana, kalau mengetuk pintu tidak ada yang membuka. Ia tinggal pulang kembali" pikirnya.


Rangga bergegas menuju kediaman Mas Aldi.


*******


Sementara dirumah Arumi tampak sepi, semua sudah tidur. Kecuali Kartika masih memasang dus, hingga menjadi box untuk mengemas pesanan esok hari.


Tok tok tok.


Ada yang mengetuk pintu walaupun agak takut Kartika membukakan. Namun sebelumnya mengintai dari Jendela, membuka gorden sedikit, ternyata sang suami yang datang.


"Ceklak"


"Assalamualaikum" Rangga tersenyum senang melihat istrinya yang membukakan pintu.


"Waalaikumsalam"


"Sudah malam kok kesini sih..." ucap Kartika. "Seharusnya besok saja, lagian Jeni sudah tidur." Imbuhnya sambil mengunci pintu kembali.


"Nggak cuma ingin bertemu Jeni kok, ingin bertemu ibunya juga" tersenyum senang.


Kartika mlengos, kemudian kembali kekarpet meneruskan pekerjaannya.


"Kardusnya banyak banget, pesanannya banyak ya?" tanya Angga basa basi, padahal sudah diceritakan Kartika siang tadi.


"Banyak" jawabnya singkat. "Mau minum apa?" tanya Kartika, kemudian.


"Nggak usah, tadi habis minum kok"


"Jeni tadi nanyain aku nggak?" tanya Angga sambil membantu menyusun box.


"Nanyain terus. Makanya, Mas, lain kali... kalau belum pasti bisa datang, jangan berjanji. Jeni pasti akan menagih terus..." tutur Kartika panjang.


"Baiklah, istriku yang cantik... lain kali nggak gitu lagi." terkekeh. Tangan kekarnya mencubit pelan dagu Kartika.


"Jangan macam-macam" Kartika melotot tajam.


"Tidak banyak macam kok, hanya tiga" Rangga menoel bibir, hidung, dan pipi Kartika. kembali terkekeh. Wajah Kartika langsung bersemu merah.


"Iiihh... nglunjak" ucapnya menatap Rangga. Keempat mata itupun saling bertemu. Tatapan yang saling mendambakan.


*******


Assalamualaikum... terimakasih, bagi reader yang sudah bersedia mampir. ❤❤❤.


Taqabbalallaahu minna wa minkum. Taqabbal ya Karim. Minal ' aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir batin. Selamat hari raya idul Fitri.

__ADS_1


Bagi yang merayakan. 🙏🙏🙏 ✍✍✍.


__ADS_2