Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 52


__ADS_3

Angga berjalan terburu-buru menuju ruangan Diana. Ia tidak perduli tatapan orang-orang yang sepertinya telah menggunjing dirinya.


"Brak" Rangga membuka pintu dengan kasar, membuat sang pemilik ruangan tersentak kaget.


Diana sedang berbincang-bincang serius dengan Devan. Kendati demikian, Diana tersenyum lalu mendekati Angga yang sudah seperti gunung ingin meletus, menumpahkan lahar panas.


"Ga, akhirnya kamu datang, aku sudah periksa kandungan, aku hamil Ga, kita akan segera mempunyai anak" Diana meraih tangan Angga lalu menciumnya.


Rangga menghempas tangan Diana. Mata Elang itu menyorot tajam mata Diana. Selangkah kemudian, tangan kekar itu mencengkeram kerah Diana.


"A- Angga" suara Diana terbata-bata. "A- ada apa Ga?" Diana memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa yang kamu lakukan terhadap Jeni?! tanya Angga to the point. "APA HAH?!" Suara Rangga menggelagar bak petir di terik Matahari.


Membuat Devan terperangah.


Rangga semakin kencang mencengkeram. "JAWAB?!" bentak Rangga marahnya sudah sampai puncak.


Devan yang sedang duduk lantas berdiri, menatap nyalang kearah Rangga.


"A- apa maksudnya?"


"JANGAN PURA TIDAK TAHU?!" Rangga mendorong tubuh Diana hingga terpelanting. Namun dengan cepat Devan menangkap tubuh Diana hingga jatuh ke dada bidang Devan.


"Pak Angga, ada apa ini? saya bukan ingin ikut campur urusan rumah tangga Pak Rangga, dan Ibu Diana. Tetapi alangkah baiknya jika masalahnya di bicarakan dengan kepala dingin." Devan tidak percaya dengan sikap Angga yang bisa berubah frontal yang tidak pernah Devan ketahui.


"Kamu belum tahu kelakuan bos kamu Dev? dia ini lebih kejam dari serigala," Rangga menuding wajah Diana. "Perlu kamu tahu Dev, dia sudah menculik Jeni seharian kemarin." mengingat itu jika tidak melanggar hukum Rangga rasanya ingin mecekik leher Diana.


Devan terbelalak, lalu gantian mendorong tubuh Diana yang masih menempel didadanya.


"Maaf Ga, sabenarnya aku nggak bermaksud begitu, aku nggak melakukan apapun kok mengenai Jeni. Aku hanya mengajaknya makan, tidak lebih, sumpah." Diana mengacungkan dua jari.


Tidak menjawab,p Rangga mengeluarkan kertas lalu meletakkan di meja kerja Diana. "Datang hari senin besok itu panggilan sidang pertama kita. Jangan mangkir!" ucapnya lalu meninggalkan Diana.


Diana langsung menjatuhkan bokongnya di kursi kebesaran. Dia mengacak rambutnya gusar.


"Sebenarnya ada apa Bu?" tanya Devan menatap Diana yang sedang mengetuk-ngetuk kepala dengan telunjuk sepertinya sedang berpikir sesuatu.

__ADS_1


Diana mengangkat kepala menatap Devan. "Kartika itu sudah merebut Rangga dari aku Dev, apa salah, jika aku memperjuangkan suamiku? demi anak yang aku kandung?" Diana jalan mondar mandir di samping Devan, memutar balikkan fakta.


Devan spontan menatap perut rata Diana. "Lalu apakah Pak Rangga Ayah biologis Jeni Bu Diana?" Devan benar-benar dibuat penasaran.


"Ahaha... ya jelas bukan! kamu percaya ini, mengapa mudah percaya dengan kata-kata Kartika." Diana mencibir.


"Bukan! Kartika tidak bicara apa-apa," sahut Devan. Devan hanya berharap jika Jeni bukan anak kandung Rangga akan memperjuangkan cintanya. Berarti masih ada harapan untuk mendekati Kartika. Itupun Jika Kartika belum menikah dengan Rangga.


Devan manepis anggapan sendiri bahwa Kartika sudah menikah dengan Rangga. Dan membuang jauh pikiranya bahwa Kartika perebut suami orang seperti yang Diana tuduhkan.


Antara bos dan anak buah itupun hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Dev apa kah kamu mencinyai Kartika?" tanya Diana menduga-duga.


"Iya Bu,"


"Jika kamu mau kita bisa kerja sama. Kamu bisa mendapatkan Kartika, dan saya akan merebut kembali Rangga." Diana menyeringai licik.


*******


Seminggu kemudian, Angga mendatangi undangan dari pengadilan. Yakni gugatan cerai Angga dikabulkan oleh pengadilan agama. Namun Angga hanya datang sendiri. Pihak Diana hanya dihadiri oleh kuasa hukumnya.


Persidangan begitu alot, jika Angga kekeh dengan perceraianya. Pihak Diana jurteru ingin kembali rujuk.


*******


Diwaktu yang sama Diana keluar dari rumah, kali ini tidak ingin diantar Pak Diman sang supir. Tetapi Diana justeru ingin menyetir sendiri.


"Memang kamu mau kemana Na? bukankah hari ini harusnya menghadiri sidang?" tanya Mama Uly yang sedang berada ditaman memetik bunga segar di bantu ART. Menatap anaknya yang sedang memasukan koper kedalam mobil. Mama Uly curiga.


"Ini mau berangkat Ma," sahutnya.


"Tapi kok membawa koper segala?" Mama merasa bahwa anaknya sedang berbohong.


"Diana berangkat Ma," Diana tidak menjawab pertanyaan Mama justeru pergi meninggalkan Mama Uly.


"Ya hati-hati..." seru Mama karena kaca mobil masih terbuka. Hanya disauti dengan lambaian tangan oleh Diana.

__ADS_1


Diana mengendara dengan semangat tetapi bukan ke pengadilan agama, melainkan ke suatu tempat. Benar saja feeling Mama Uly, bahwa anaknya sedang berbohong.


Sampai tempat yang di tuju. Diana parkir didepan Ruko, mata liarnya jelalatan kemana-kemana. Menatap Toko Roti yang sedang ramai pembeli hingga tidak nampak wajah pelayan.


Dengan mendorong koper Diana mendatangi Ruko milik Angga. Padahal Angga saat ini sedang berada di pengadilan.


"Permisi..." Diana berdiri di depan Ruko menyapa Fajar dan Fadil yang sedang mengotak atik mesin cuci.


"Ada yang bisa di bantu Mbak? perlu jasa servis mesin rusak, televisi rusak, dan lain-lain." Fajar dengan luwes menawarkan jasanya.


"Tidak, saya ingin bertemu pemilik Ruko ini." jawab Diana.


"Nona siapa?" tanya Retno karyawan yang penjaga dagangan elektronik. Menatap Diana curiga. Dari bawah sampai atas.


"Saya sepupunya dari kampung." Dengan lancar Diana berbohong. Ternyata Diana pantas diberi julukan ratu bohong. Semenjak dari kediamanya sudah tidak terhitung berapa kali ia berbohong.


"Oh, sebaiknya Mbak menemui istrinya saja, beliau di Ruko sebelah, Pak Rangga sedang tidak ada di tempat soalnya." Retno memberi saran. Retno curiga ada gelagat tidak baik terlihat dari wajah garang Diana.


"Oh tidak usah, saya ingin bertemu Mas Angga saja, ini amanat keluarga besar Pak Rangga," kilah Diana.


Retno Fadil dan Fajar saling pandang kesempatan itu tidak disia-sia kan Diana. Diana nerobos masuk menapaki anak tangga masuk kedalam kamar Rangga.


Tok tok tok.


Mbak, Mbak. Keluar Mbak, kenapa Mbak lancang sekali? masuk kekamar Pak Rangga?" dengan gencar Retno mengetuk pintu ia takut Pak Rangga marah. Terlebih, yang datang adalah seorang perempuan.


******


Jika karyawan Kartika saat ini sedang sibuk melayani pembeli. Kartika pun sedang sibuk di depan lap top. Menghitung pengeluaran dan pemasukan kemarin. Lalu mengecek omset minggu ini, ternyata hari demi hari Toko kuenya mengalami kenaikan. Sungguh di luar dugaan.


Hanya dengan cara begini Kartika bisa menghibur diri dari peliknya urusan rumah tangganya. Yang kian hari selalu ada saja masalah.


"Kartika" sapa Sekar sudah berdiri di belakangnya. Kartika memutar kursi goyang. "Ada apa Se?"


"Tik Fajar sama Fadil, mencari kamu, katanya ada seorang wanita yang nekat masuk kekamar Pak Rangga."


"Apa?" mulut Kartika terngaga lebar.

__ADS_1


.


.


__ADS_2