
Kartika kembali kedapur, dia ikhlas ketika dipecat. Yang membuatnya meradang adalah; wanita seperti Diana itu mengapa bisa menikah dengan suaminya? dan Angga yang dulu sangat mencintainya pun, tega menduakan dirinya. Namun, Kartika tersenyum puas, bisa membuat Diana tidak berkutik. Saling sahut kata, sebenarnya bukan tipe nya. Tetapi, ada kalanya orang harus melawan jika dirinya di tindas dan merasa benar.
Kartika turun dari tangga pabrik yang terdiri tiga lantai itu. Bagian atas untuk kantor Direktur, HRD dan Administrasi.
Menginjak lantai dua, Kartika melintas, disitulah tempat pembuatan kue kering. Pengemas barang produk, dan terdapat gudang penyimpanan barang sebelum di salurkan kepada para customer.
Kartika menatap sekilas dari kaca, dimana karyawan yang kebanyakan wanita sedang mengemas barang. Ia mendesah kasar. Tidak menyangka bahwa dia akan diberhentikan kerja dengan tidak hormat oleh madunya sendiri.
Kartika melanjutkan jalanya sampai dimana biasa membuat roti dan kue basah. Ada sekitar 30 karyawan khusus untuk membuat roti dan kue. Semua sudah diberi tugas masing-masing, sesuai keahlian. Sebagai pembuat roti sudah menjadi hobby bagi Kartika. Sebenarnya dia senang mendapat pekerjaan ini. Tetapi biar bagaimana harga dirinya lebih penting daripada sebuah hobby.
"Kamu sudah kembali Kartika... ada apa, bu Diana memanggil kamu?" Bu Yoyoh, menghampiri Kartika, ketika sedang bersiap ingin pulang.
Sedangkan karyawan yang lain masih sibuk bekerja.
"Benar kata Adelia bu, saya dipecat."
"Dipecat? memang kesalahan apa yang sudah kamu perbuat hingga bu Diana marah?"
"Ceritanya panjang bu, suatu saat nanti ibu akan tahu sendiri."
"Bukan begitu Tik, kalau tidak ada kamu bagaimana nasip pabrik ini, hanya kamu yang bisa memanjakan lidah konsumen." bu Yoyoh resah.
"Tenang saja bu, nanti akan ada gantinya yang lebih baik." Sambil berkemas. Kartika berbincang-bincang. "Saya pamit bu Yoyoh. Maaf, kalau selama bekerja disini, berbuat kesalahan" Kartika memeluk tubuh gendut bu yoyoh, seperti cicak nemplok di tiang.
"Sampai ketemu ya" tangan bu Yoyoh menepuk pundak Kartika.
"Terimakasih bu, saya pamit teman-teman dulu"
Kartika kemudian ke dapur, menemui teman-temannya. "Kartika... kamu mau kemana?" tanya Sekar melihat sahabatnya sudah menylempang tas kecil dan menenteng paper bag. Kontan semua pekerja menoleh ke arah Tika.
"Mbak Kartika mau kemana lagi? lihat, pekerjaan masih banyak." keluh salah satu karyawan.
"Maaf teman-teman, saya sebenarnya hanya ingin pamit pada kalian, mulai sekarang saya tidak bekerja disini lagi." Kartika menyalami temanya satu persatu. Ketika sampai giliran Adelia. Adelia tidak mau menyambut uluran tangan Kartika.
"Hahaha... kata gw apa? loe dipecat kan?" Adelia tertawa meledek.
__ADS_1
"Diam kamu!" sergah Sekar, mengacungkan tinju, kearah Lia.
"Kenapa kamu ikutan sewot Se, palingan sebentar lagi kamu menyusul!" cibir Adelia.
"Memang gw mau menyusul, kenapa? paling loe yang rugi. Siap-siap aja mengerjakan tugas Kartika membuat roti dan kue yang tidak semua bisa melakukannya, tidak terkecuali loe!"
Adelia pucat pasi.
"Diam kan loe! tanpa loe suruh! gue akan mengundurkan diri. Gue capek ngadepin teman seperti loe setiap hari." Sekar tak kalah emosi.
"Sekar... sudahlah, jangan ribut" lerai Kartika.
"Biar saja Tik, lama-lama kesal juga kan, memang dia siapa? sama-sama mencari makan kok menindas. Mentang-mentang senior." Sekar mlengos kesal.
"Kalian ini sering sekali ribut sih?" Mbak Nana pun Akhirnya datang memperingatkan.
"Mbak Nana. Kebetulan sekali, Mbak berada disini, karena Kartika sudah di keluarkan dari pabrik ini, saya ikut mengundurkan diri." rupanya Sekar tidak main-main.
"Sekar... jangan begitu," Kartika mengulangi ucapanya.
"Surat menyusul Mbak, saya akan mundur juga. Maaf Mbak Nana, kalau saya tidak sopan" tekat sekar sudah bulat.
"Saya juga ikut"
"Saya juga!"
"Saya juga"
Karyawan yang satu sift dengan Kartika ikut berhenti satu persatu. Meninggalkan pekerjaan yang masih terbengkalai. Mbak Nana termangu tidak bisa berbuat apa-apa.
Apa lagi Adelia dia memandang kue-kue yang baru setengah jadi, ia menggigit bibir bawahnya.
"Sekar... kenapa kamu keluar? yang lain ikutan kan?" Kartika mendadak gusar. Melirik Mbak Nana merasa kasihan.
"Sudah hayo, sekali-kali kita beri pelajaran orang-orang yang berbuat semena-mena bisa-bisa kita ditindas terus." Sekar menarik tangan Kartika keluar dari dapur. Diikuti karyawan yang lain.
__ADS_1
"Kamu barengan aku saja Tik, aku antar kerumah." kata Sekar yang sudah starter motor siap berangkat.
"Terimakasih Se, aku naik ojek saja, mau menjemput Jeni soalnya" kata Kartika, sekali-kali ingin menjemput Jeni agar anaknya senang mumpung ada waktu luang.
"Oh gitu. Aku duluan ya"
"Okay... Tika mengamati Sekar keduanya melambaikan tangan.
Kartika membuka hp, mencari aplikasi lalu memesan ojek online. Kartika diam di pinggir jalan menunggu Ojek. Namun sudah beberapa menit tidak juga datang padahal sebentar lagi. Waktunya Jeni pulang.
Kartika kembali membuka aplikasi ketika ada yang menghubungi. Mata Kartika membulat tatkala, ojek membatalkan.
Ciiittt... " Ada sebuah mobil berhenti di depan Kartika lalu membuka kaca.
"Ayo bareng, kamu mau kemana? aku mau menjemput Jeni," Angga tidak tahu jika Istri tuanya yang malang itu, sedang di pecat oleh istri mudanya yang arogan.
"Tidak usah, saya naik ojek saja." Kartika hendak memesan kembali. Tiba-tiba Angga sudah berada di sampingnya.
"Ayo, keburu Jeni menunggu aku sudah janji ingin menjemput dia." Angga menggenggam tangan Kartika. Namun, Kartika segera melepas tangan Angga. Kartika, kemudian masuk kedalam mobil dengan cepat. Jika terlalu lama berdiri di depan toko, dan sampai ketahuan Diana yang ada akan membuat masalah baru. Walau sejatinya Kartika tidak bersalah.
Angga senang, segera menjalankan mobilnya. Walaupun istrinya memilih duduk di belakang. Untuk saat ini tidak masalah bagi Angga, yang penting mereka bisa jalan bersama.
Keduanya saling diam Angga fokus dengan setir. Sedangkan Kartika, memainkan handphone.
"Tumben, kamu pulang jam segini. Kenapa? kamu sakit?" pada akhirnya Angga mulai bicara.
"Tidak apa-apa" sahut Kartika dingin.
"Ada masalah lagi ya, dengan Diana?" Angga menatap Tika dari kaca spion.
"Saya bilang! nggak kenapa-kenapa kan? ya sudah diam," Kartika mendengus kesal.
Angga menarik nafas panjang, dia tidak bicara lagi. Memberi ruang istrinya untuk berpikir. Rangga sadar dia memang salah. Dia hanya bisa bermimpi. Suatu saat nanti Kartika memaafkan dirinya dan kembali bersama seperti dulu.
Rangga sesekali menatap spion memperhatikan istrinya yang di cintai itu, masih cantik seperti dulu. Hanya terlihat lelah nampak dari matanya.
__ADS_1
Mata sayu, bibir indah itu. Aaahh... masih seperti yang dulu. Bibir itu selalu tersenyum senang tiap kali menatapnya. Namun kini, berubah masam ketika bertatap muka dengannya.