Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 22


__ADS_3

Di salah satu Hotel di kota xxx Angga masuk kedalam kamar single room. Langkah pertama yang ia lakukan adalah; Mandi.


Badanya terasa lengket setelah mondar mandir seharian. Jika tidak ribut dengan Diana mungkin dia sudah mandi sejak sore tadi.


Mengingat Diana Angga rasanya tidak tahan lagi, kadang terlintas di pikiran ingin mengakhiri semuanya. Jika tidak ingat kebaikan Almarhum Papa Hermawan.


Angga mengguyur tubuhnya dengan air shower. Setelah mandi, Angga mencolok pemanas air untuk menyeduh mocacino salah satu fasilitas hotel. Ia menelentangkan cangkir, membuka segel kopi meletakkan di gelas lalu menuangkan air yang sudah mendidih 100 derajat.


Ingat kopi. Wajah Jeni melintas di mata Angga. Ah anak itu, belum ada tiga puluh menit berpisah tetapi sudah membuatnya rindu.


"Nggak boleh minum kopi Om ganteng, khwatir nggak bisa tidur." Ingat kata-kata bocah kecil itu senyum terukir dibibir Angga.


Angga meletakkan cangkir di atas meja, kakinya berjalan menuju jendela membuka gorden. Tampaklah bintang-bintang bertaburan. Angga menarik kursi membawanya ke depan kaca. Ia duduk membuka handphone yang sudah dari tadi siang ia abaikan.


Banyak sekali panggilan masuk maupun pesan dari Diana.


Sudah seharian jalan-jalan dengan wanita miskin itu! ternyata kamu masih belum puas juga Ga! mau kamu apa? kamu mulai melawan sekarang? lihat saja nanti " Diana.


Angga menutup handphone tidak berniat membalas maupun menghubungi Diana. Ah istrinya itu selalu membuatnya gerah. Rangga sadar ternyata dirinya hanya dijadikan sapi perah oleh Diana. Angga menutup gorden lalu merebahkan tubuhnya di kasur.


Flashback on.


"Pak tolong saya. Saya berani bersumpah, jika perlu saya mau sumpah pocong. Saya dengan Diana tidak melakukan apapun." Angga duduk bersimpuh di depan Pak Hermawan, mengacungkan dua jari.


"Saya percaya sama kamu Ga, tetapi... saya lebih percaya dengan anak saya, keputusan saya sudah bulat."


"Saya mohon Pak, saya tidak mau menikah dengan putri bapak, saya sudah punya istri, apa lagi saat ini dia sedang hamil."


"Kamu jangan seenaknya Ga! mau berbuat harus mau bertanggung jawab!. Saya tidak mau nama saya tercoreng karena perbuatan kalian!" Pak Hermawan marah besar. Membuat Angga ketakutan.


Keputusan Pak Hermawan sudah menjadi harga mati.


Hari demi hari selama menunggu proses perkawinannya. Angga lalui tanpa semangat, ingin rasanya berlari dari rumah itu. Tetapi anak buah Pak Hermawan selalu mengawasi pergerakan Angga. Sikap Angga terhadap Diana yang awalnya selalu segan kini berubah menjadi dingin.


Berbagai macam cara, Diana ingin meluluhkan hati Rangga. Namun hanya sia-sia.


Mengurus acara pernikahannya Angga sendiri tidak ikut campur. Pak Hermawan dan Mama Uly yang mengurus semua. Angga hanya terima beres. Namun, sebagai laki-laki mau tidak mau ia harus menyerahkan mahar.

__ADS_1


Didalam kamar, Angga membuka laci merogoh gelang emas yang akan dipersembahkan untuk Kartika ketika pulang nanti inilah hasil kerja kerasnya selama di kota. Tetapi, rencana tinggal rencana gelang ini akan ia gunakan untuk maskawin.


Angga menangis seperti anak kecil, ia sudah berdosa mempermainkan sebuah pernikahan. Kenyataannya dia sudah mengkhianati wanita yang cantik luar dalam. "Maafkan aku Kartika. Semoga kamu bahagia hidup tanpa aku. Aku sudah mengingkari janji ku."


"Selamat tinggal Kartika." Monolognya.


*******


Dua bulan kemudian pernikahan pun dilaksanakan. Identitas Angga juga di ubah oleh Diana. Yang awalnya Anggano dirubah menjadi Ranggano.


"RANGGANO. Saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan putri saya. DIANA LATIVA. Binti Muhammad Hermawan. Dengan maskawin 10 grm emas tunai."


"Saya terima nikah dan kawinya KARTIKA SARI. Binti Supratman"


"Salah!" potong Pak Hermawan.


"Kok bisa salah sih?" Seru para hadirin.


"Memang nggak dihafal dulu ya." ucap seorang wanita setengah baya.


"Grogi kali dia, namanya juga orang udik mendapatkan Istri klongomerat, pasti kaget mempelai prianya." Begitulah bisik bisik para saksi. Terkikik meremehkan.


Jangan ditanya Diana pun geram dia merasa di permalukan. Aku harus membuat kamu bertekuk


lutut Angga tunggu saja."


"Perlu bimbingan?" tanya penghulu, merasa lidah Angga kelu untuk mengucap nama Diana. Penghulu segera membimbing Angga.


Angga mengangguk pasrah.


Akad nikah pun selesai, dan para saksi menyebut kata sah. Dilanjutkan resepsi pernikahan yang sangat mewah di hotel bintang lima. Namun tidak ada secercah harapan dan kebahagiaan bagi Angga.


Angga hanya seperti boneka yang bisa dimainkan dengan seenaknya oleh Diana.


Hingga malam hari acara telah selesai, Angga membisu masuk kedalam kamar hotel terbesar dan mewah.


Didalam sudah ada Diana. Melihat kehadiran Angga Diana tersenyum manis. Ia terlentang diranjang memakai lingerie membayangkan malam pertama yang indah dengan laki-laki pujaannya hatinya.

__ADS_1


Namun harapan tinggal harapan bagi Diana. Angga melewati Diana, ngeloyor kekamar mandi. Jangankan menyapa, menoleh pun tidak. Angga mandi setelah mengganti pakaian yang sudah di sediakan oleh pihak Diana. Kaos dan celana boxer. Angga memilih tidur di sofa.


"Ga, kok kamu tidur di situ sih?!" tanya Diana dengan wajah kecewa.


"Maaf Non, saya capek! lebih baik kita tidur." ucapnya sambil miring menghadap tembok.


"Ga! tapi inikan malam pertama kita."


"Bukan kita Non, tapi bagi Nona Diana sendiri. Bagi saya malam pertama sudah saya lakukan dulu dengan Istri saya!" pungkas Angga.


Diana marah kemudian meninju kasur.


Flashback off.


Sudah jam sebelas malam Angga menarik selimut lebih baik tidur, daripada pikiranya traveling. Namun, baru memejamkan mata pintu kamarnya ada yang mengetuk.


"Aahh... siapa sih?" gumamnya kesal. Angga berjalan malas membuka pintu.


"Diana? darimana kamu tahu, kalau aku ada disini?" Rangga memandang Diana yang langsung masuk kedalam.


"Hahaha... apa susahnya bagi aku hanya untuk mencari orang sepertimu? ke ujung dunia pasti bisa aku temukan!" Diana tertawa merehkan.


"Iya kamu pasti akan bilang, karena kamu banyak uang kan? jangan takabur!" Angga masih berdiri di dekat pintu.


"Aahhh..."


"Praaaannng!" Diana membanting gelas bekas kopi.


Dasar kamu gila Na, kalau marah sukanya banting -banting!" Angga berjalan hati-hati melipir dipinggir tembok agar tidak terkena pecahan beling sampai juga di tempat tidur.


"Memang aku gila! kamu orangnya yang sudah membuatmu gila!" Diana menatap devil. "Terus saja melawan atau istri tuamu akan kena imbasnya!" ancam Diana.


"Saya tidak takut lagi ancaman kamu! karena aku akan melindunginya sampai kapanpun! kamu harus tahu itu!"


"Dasar kamu ya? sudah berani melawan dan hanya karena wanita itu!" Diana terus mencak-mencak


Angga tidak menyahut justeru naik ketempat tidur. Menarik selimut menutup kaki hingga kepala.

__ADS_1


Awas! kamu Ga, gue tidak main-main! gue akan berbuat sesuatu"


Diana menatap tubuh suaminya menyeria licik


__ADS_2