
Keesokan harinya, Devan sudah tampak rapi ingin berangkat kerja. Tetapi wajahnya tampak kusut tidak seperti biasanya.
"Sarapan dulu Dev" titah Mama Sarah, yang sedang menunggu anak dan suaminya dimeja makan, menatap anaknya menuruni anak tangga. Tampak lesu tidak bersemangat.
"Iya Ma" sahutnya lalu menarik kursi duduk di meja makan disamping Papa Hendrik.
"Kenapa kamu?" tanya Papa melihat anak semata wayang nya, yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Tidak ada apa-apa kok Pa" sahutnya menyeruput susu murni sedikit yang sudah disediakan Bibi.
"Mama tahu, kamu pasti patah hati kan?" ucap Mama Sarah menyodorkan setangkap roti kearah Papa Hendrik.
"Patah hati?" Papa menatap Devan yang sedang mengotak atik handphone. Devan lalu mengangkat kepala, menatap Papa. Namun tidak menyahut.
"Iya Pa, dia menyukai Kartika, ia pikir Kartika janda punya anak satu, tetapi... ternyata dia punya suami." Mama menggelengkan kepala, tidak percaya bahwa cinta anaknya tidak terbalas.
"Apa?" Papa menatap Devan tajam. "Jangan coba-coba kamu Dev, mendengar kamu menyukai janda saja Papa sudah tidak setuju, apa lagi wanita bersuami? mau ditaro dimana muka Papa didepan para rekan bisnis!" suara Papa berintonasi tinggi.
"Pa" ucap Mama menggeleng. Tidak ingin Papa menambah kesedihan anak semata wayang nya.
"Devan berangkat, Ma, Pa" mencium punggung tangan Mama lalu pergi.
*******
Sebulan kemudian, Angga sudah jarang masuk kekantor Diana Group. Ia pun, memulai merintis usaha baru, menerima jasa servis alat-alat elektronik. Yakni di Ruko yang sama bersebelahan dengan Kartika. Rangga ingin selalu dekat dengan anak dan istrinya. Walupun Kartika belum memberi lampu hijau kepadanya.
Mobil BMW, meluncur pelan tapi pasti, menuju kantor menemui Rudy.
"Rud, besok kumpulkan para karyawan, undang dewan direksi, kita akan adakan rapat perusahan. Untuk mencari derektur yang baru." tegas Angga.
"Maksud bos, bos akan mengundurkan diri?" tanya Rudy menatap lekat bosnya. Yang sedang sibuk didepan komputer.
"Iya" jawabnya singkat.
__ADS_1
"Tetapi kenapa bos? bukankah bos mempunyai saham setengahnya dari perusahaan ini?" Rudy terkejut.
"Saya akan mengembalikan perusahaan ini kepada yang berhak." ucapnya tanpa ragu.
"Tetapi... perusahaan ini dulu tidak sebesar ini bos, majunya perusahaan ini karena kerja keras bos." Rudy tampak kecewa akan keputusan Angga.
"Keputusan saya, sudah bulat Rud, saya akan mengurus gugatan cerai kepada Diana."
"Bos? anda yakin?" Rudy mengerutkan dahi.
"Kamu jangan banyak bicara, terus lanjutkan langkahmu, membantu perusahaan ini, agar lebih maju dengan pimpinan yang baru nanti!" pungkas Angga.
Angga kemudian pergi, meniggalkan Rudy tanpa bicara lagi, menuju parkiran. Kembali starter mobilnya menuju kediaman mertua yang sudah sebulan tidak ia kunjungi.
Ia bertekat demi ingin berdamai dengan masalalu yang indah. Memang sudah seharusnya berbelok arah meninggalkan masa kini tidak ingin lagi melalui perjalanan yang curam.
"Selamat siang Ma" ucapnya.
Rangga menarik nafas panjang. Menatap Mama Uly, sebenarnya hanya wanita ini yang membuatnya bertahan hidup dengan Diana hingga kini.
Bibirnya terkatup lidahnya kelu untuk bicara, rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa dibenak, seolah sirna menatap wajah sendu tanpa dosa didepanya. Mama Uly bukan hanya sekedar mertua. Namun, sudah memberi warna dalam hidupnya. Mama Uly seperti pengganti Ibu kandungan nya yang telah tiada.
"Ada apa nak?" Mama Uly yang terus dipandang menantunya lalu memulai bicara.
"Maaf Ma, Rangga kesini ingin mengantarkan surat ini." Rangga menyerahkan amplop kepada Mama selaku dewan direksi perusahaan.
Dengan tangan bergetar Mama membuka amplop, mengenakan kaca mata minus yang beliau geletakkan diatas meja. Mengaitkan kedua sisi telinga. Lalu membaca isi surat tersebut.
"Apa? kamu akan mengundurkan diri dari perusahaan?" Mama terkejut. "Tidak bisa Ga, kamu ingin mengecewakan almarhum Papa?" raut kecewa mendominasi wajah keriput Mama Uly.
"Maafkan Rangga Ma, sudah saatnya saya mandiri. Mengenai perusahaan, saya serahkan kepada Mama. Saya mohon jika Mama ada pandangan segera rekomendasi agar perusahaan tetap berjalan." tutur Rangga yakin.
"Ga, tolong pikirkan lagi nak, perusahaan itu bukan sepenuhnya milik kami. Tetapi setengahnya milik kamu." Mama menatap Angga memohon.
__ADS_1
"Tekat saya, sudah bulat Ma, saya akan kembalikan semua aset perusahaan. Jujur, saya akan ambil inves dari gaji saya, tidak lebih."
"Lalu, bagaimana hubungan kamu dengan Diana?" Mama berharap rumah tangga anaknya akan baik-baik saja.
"Itu salah satunya Ma, saya akan kembalikan Diana kepada Mama."
Mama beranjak lalu berjongkok bertumpu lutut, telungkup dipangkuan Rangga sambil sesegukan. "Tolong pikirkan lagi nak, Mama tidak punya siapapun kecuali kamu dengan Diana." hiks hiks hiks.
"Mama tidak ingin kehilangan Diana maupun kamu." Air mata Mama berderai membasahi celana Rangga.
"Mama bangun Ma" Rangga mengangkat tubuh ringkih mertuanya agar duduk diselahnya.
"Mama jangan khawatir, walaupun Rangga berpisah dengan Diana. Rangga tidak akan melupakan Mama, sampai kapanpun" Rangga memeluk pundak Mama Uly menyenderkan dipundaknya.
Menantu dengan mertua itupun saling menumpahkan isi hati masing-masing hingga menjelang sore, Mama sudah agak tenang.
Rangga kemudian naik keatas. Menelisik seluruh isi kamar, untuk yang terakhir kali. Rangga membuka lemari ambil miliknya yang sekiranya ia beli dengan uang gaji bukan dengan uang Diana.
Rangga cepat-cepat turun kebawah khawatir Diana keburu pulang. Sampai dibawah, Rangga masuk keruang kerja membuka laci yang selama ini selalu dikunci jangan sampai Diana tahu.
Tangan kekarnya ambil foto kenangan dirinya dengan Kartika ketika masih pacaran dulu, dan saat pernikahan mereka. Walaupun warnanya sebagian sudah memudar seiring berjalannya waktu. Namun cinta Rangga tidak akan memudar. Ia meniup-niup debu dan mengusap setelah bersih meletakkan dalam tas.
Angga mengerling kesegala arah, inilah yang terakhir berada dalam ruang kerja. Ruangan yang selalu menjadi saksi bisu perjalan rumah tangganya dengan Diana yang kerap dilanda huru hara melempar barang-barang yang terlihat jika Diana bertengkar dengannya.
"Rangga pergi Ma," ucapnya menatap Mama Uly yang masih belum bergeser dari duduknya masih menagis dengan mata sembab.
"Cari kebahagian Mu nak, Mama tidak bisa menahanmu lagi" hiks hiks hiks. Mama menghambur kepelukan Rangga hingga beberapa saat. Mama melepas pelukanya. "Hati-hati nak" mengusap pucuk kepala Rangga.
Rangga tersenyum menggendong ransel berjalan menuju garasi ambil motor yang dulu ia cicil sendiri. Meninggalkan mobil BMW yang dulu ia beli bersama Diana.
Bukan motor mewah yang Rangga naiki. Namun inilah saatnya. Rangga harus keluar dari sarang hari mau.
Saat motor keluar dari garasi. Diana masuk di antar supir pribadinya.
__ADS_1