Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 31


__ADS_3

"Kartika?" sapa seorang pemuda. Yang sudah berpakaian rapi, hendak berangkat ke kantor.


"Pak Devano? tinggalnya disini juga? ya ampuuun... kirain jauh" Kartika terkejut langsung memandang rumah berlantai dua itu.


"Iya Tik, sebenarnya pengen berkunjung kerumah Kak Aldi, tapi belum sempat."


"Betul, kamu jualan kue keliling, Tik?" Devan memegang sepeda yang masih parkir di depan. Kemudian beralih memandang Kartika. Devan merasa bersalah karena Kartika dikeluarkan dari pabrik, padahal dia sangat membutuhkan perkerjaan tersebut. Devan kasihan, demi menghidupi anaknya Kartika sampai rela berjualan kue keliling.


"Iya Pak, baru hari ini kok mulai jualan, eh ternyata Nenek memborong kue saya," Kartika tampak senang.


"Maaf Tik, walaupun sebenarnya saya yang lebih berhak memberhentikan karyawan, tetapi... keputusan bos tidak bisa diganggu gugat. Walau sampai saat ini saya belum mengerti apa kesalahan kamu." Devan meluruskan persoalan bahwa dirinya tidak ikut campur dalam pemecatan wanita di hadapan nya.


"Hehehe... Pak Devan serius amat. Saya tidak apa -apa kok Pak, saya lebih senang bekerja sendiri. Yah... walaupun sedikit penghasilannya. Tetapi saya merasa senang." Kartika merendah, tentu saja penghasilan Kartika dari penjualan kue, lebih banyak daripada upah yang diterima dari pabrik roti Diana.


"Kalian saling kenal?" tanya Nenek, beliau merasa di abaikan mereka malah ngobrol berdua.


"Kenalkan Nek, ini teman Devan, yang Devan ceritakan waktu itu."


"Oh gitu, sini nak, ngobrol didalam" titah Nenek kemudian beliau kedalam.


"Terimakasih Nek" Kartika mengusap bahu Nenek yang masih tampak sehat.


"Pak Devan suka gibah ya?" todong Kartika.


"Gibah?" Devan tampak bingung.


"Tadi Pak Devan bilang sama Nenek kan, katanya suka menceritakan saya."


"Oh kirain apa" Devan terbahak-bahak. "Yang jelas cerita tentang kebaikan kamu kok."


"Masuk yuk, nggak enak kita ngobrol di pinggir jalan." kata Devan.


"Lain kali saja Pak Devan, saya mau pulang, lagian Bapak kan mau kerja."


"Sebentar, di teras saja deh kalau tidak mau masuk. Ada yang mau saya tanyakan" paksa Devan. Kartika akhirnya menurut.


Mereka berbincang-bincang diteras setelah Kartika meminggirkan sepeda.


"Jeni apa kabar Tik?" Devan kangen juga dengan anak itu sudah hampir satu bulan tidak bertemu.


"Alhamdulillah... sehat Pak. Tadi Pak Devan bilang ada yang mau ditanyakan. Apa ya?"


"Rangga kenal Jeni dimana?" tanya Devan. Inilah yang mengganjal dihatinya, dan ingin ditanyakan Devan. Tetapi tidak ada kesempatan.


Kartika menunduk memainkan kuku-kukunya. Ia berpikir jawaban apa yang akan ia berikan kepadanya. Ingin jujur saat ini, pasti akan panjang ceritanya dan bingung untuk memulai.


"Tik" ulang Devan.


"Du- dulu di Toko roti Pak." jawab Kartika terbata-bata.


Memang Pak Devan pernah melihat Jeni berdua dengan Pak Rangga?" Kartika balik bertanya.


"Pernah melihat dipostingan Rangga."

__ADS_1


Kartika mengangguk angguk. "Oh iya, bagaimana keadaan pabrik Pak, masih lancar?" Kartika mengalihkan.


Devan menggeleng lemah. "Semenjak kepergian kamu dan kawan-kawan pembuatan kue basah menjadi kacau Tik. Kami merekrut karyawan baru, tapi hasilnya tidak memuaskan. Untuk saat ini produksi dihentikan kusus kue basah. Kami fokus ke kue-kue kering." tutur Devano. "Mana Diana bisanya hanya marah-marah terus. cek." Devan berdecak kesal.


"Oh gitu ya"


"Sebenarnya kamu ada masalah apa sih dengan Diana? dia tuh, kalau saya menyinggung kamu langsung emosi."


Kartika menarik nafas berat. "Tanyakan saja, pada Bu Diana Pak, kenapa?" pungkas Kartika.


"Saya pulang dulu Pak" tidak ingin membahas masalah Diana yang bikin panas. Kartika pun pamit pulang.


"Tunggu Tik" Devan menggenggam tangan Kartika. Kartika menarik tanganya cepat.


"Maaf" Devan malu sendiri.


"Mau bicara apa lagi Pak?" Kartika tetap berdiri.


"A-aku mencintai kamu." jujur Devan.


"Hahaha... Pak Devan ada-ada saja" Kartika justeru terkekeh. Mana mungkin seorang Devan menyukai dirinya. Kartika geleng-geleng.


"Tik, saya serius, aku ingin kita menikah dan membesarkan Jeni bersama-sama. Aku tidak hanya jatuh cinta kepada mu, tapi aku juga menyayangi Jenita.


"Maaf Pak, saya tidak bisa. Saya ingin kita tetap menjadi sahabat jangan ada rasa yang justeru akan menjadi rumit." tegas Kartika.


"Maksudnya apa?" Devan menatap Kartika dengan sorot mata mendamba.


Sepanjang jalan Kartika masih memikirkan Devan. "Andai kamu tau Dev, aku istri bos mu" gumam Kartika.


"Assalamualaikum...." Kartika sampai di rumah.


"Waalaikumsalam..."


"Loh, kok kamu pulang lagi Tik? kenapa?" Arumi panik melihat adiknya pulang cepat ia pikir kuenya tidak laku.


"Lihat apa Mbak, eng ing eng..." Kartika mengangkat box kosong berbinar-binar. "Ada yang memborong Mbak, tiga ratus kue hanya dibeli dua orang." Kartika mencerikan saat jualan tadi. Tetapi tidak bercerita bahwa Devan menembaknya.


"Alhamdulillah... kue buatan kamu enak Tik, sudah pasti banyak yang suka jika sudah mencicipi. Aku yakin kok usahamu bakalan lancar, terlebih komplek sebelah kan komplek nya orang elite."


"Aamiin... Ya Allah..." Kartika meraup wajahnya dengan telapak tangan.


"Mbak, habis ini aku kepasar ya," ujarnya bersemangat. Dan hanya diangguki Arumi.


*****


Siang hari seperti biasa Angga menjemput Jeni. Ayah dan anak itupun saling bercengkrama.


"Belajar apa tadi di sekolah?" tanya Angga ketika dalam perjalanan.


"Belajar matematika sama bahasa Indonesia, terus tadi di suruh nyanyi maju." celoteh Jeni.


"Terus... kamu bernyanyi apa tadi?" mengusap kepala Jeni lembut.

__ADS_1


"Bernyanyi lagu Bunda."


"Lagu Bunda? bagaimana itu?" menoleh sebentar kemudian kembali fokus menyetir.


Hoho Bunda ada dan tiada engkau selalu


ada didalam hatiku.


"Begitu Om lagunya"


"Oh gitu... kamu pinter nyanyi juga ya. Ngomong-ngomong Bunda. Om boleh tanya sesuatu nggak?"


"Tanya apa Om?" Jeni bergeser lebih dekat ke pengemudi.


"Waktu dikampung, apa yang di lakukan Bunda?" selidiki Angga.


"Bunda tuh rajin Om, jualan kue, cari uang sendiri buat Jeni. Habisnya Ayah Jeni jahat, pergi nggak pulang-pulang." Jeni cemberut.


Deg. Hati Angga mencelos mendengarkan.


"Sudah gitu, Jeni tuh kalau di sekolah TK suka kesel, teman-teman ngata-ngatain Jeni. Katanya Jenita anak haram."


"Anak haram itu apa sih Om?" tanya Jenita polos.


"Sudah... jangan bahas lagi ya" Rangga tidak kuat lagi untuk mendengar, ternyata tidak hanya Kartika yang menderita karena tanpa dia disisi mereka. Namun ternyata anak yang tidak berdosa ini pun menanggung penderitaan.


"Oh iya Om, Bunda kan hari ini mulai jualan kue," Jeni ingat Bundanya


"Bunda jualan kue?" Angga terperangah.


"Iya Om, Jeni sedih, kenapa Bunda nggak mencari Ayah baru saja, biar seperti Bude Arumi. Tinggal dirumah nggak usah kemana-mana. Ada yang memberi uang. Jeni nggak apa-apa jika Bunda mencari Ayah baru." tutur Jeni sedih.


Rangga menoleh cepat, hatinya benar-benar nggak kuat mendengar penuturan Jenita. Keduanya saling diam hingga sampai di depan Rumah.


"Assalamualaikum" Jeni masuk kedalam di ikuti Rangga.


"Waalaikumsalam" Rumi membuka pintu. Jeni mencium punggung tangan Arumi. "Jeni ganti baju dulu ya Bude"


"Iya nak"


"Anisa les privat Mbak, jadi tidak ikut pulang" Angga menutupi kegetiran hatinya mendengar penuturan Jenita tadi.


"Iya Ga, memang biasa seminggu tiga kali,"


"Tika ada Mbak?"


"Kartika lagi kepasar, beli bahan untuk kue besok."


"Dipasar mana Mbak, saya jemput ya, naik apa dia?" tanya Angga tahan nafas bersemangat.


"Tadi sih waktu berangkat naik ojek, kepasar tradisional."


"Saya berangkat Mbak." Ranggano bergegas pergi. Arumi melongok tidak sempat menawarkan minum.

__ADS_1


__ADS_2