Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 37


__ADS_3

"Setiap hari belanjamu banyak begini?" tanya Angga. Kasihan melihat istrinya, jika Kartika mau menerima pemberianya tidak akan selelah sekarang.


"Kadang-kadang sih... kalu lagi banyak pesanan" jawab Kartika saat ini sudah mulai sedikit bicara santai, walaupun kadang masih ketus. Kartika duduk didepan, sedangkan Jeni dibelakang asyik dengan boneka.


"Besok tuh, banyak pesanan jadi aku harus siap-siap dari sekarang."


"Aku carikan asisten ya" usul Rangga.


Kartika menggeleng cepat.


"Terus bagaimana? kalau lagi banyak pesanan?" Angga menoleh sekilas.


"Sekar yang selalu membantu, rencana aku mau kontrak ruko, pesananku mulai banyak soalnya. Nggak enak sama kak Aldi, selama ini sudah merelakan dapurnya berantakan setiap hari."


"Alhamdulilah, aku kerjasama dengan Bu Huri Toko-nya ramai, jadi pesananan semakin hari semakin banyak."


"Kenapa musti kontrak Ruko? sebaiknya kamu menempati rumah yang aku beli, untuk kamu." Angga membujuk walaupun istrinya ini selalu menolak pemberianya siapa tahu berubah pikiran.


"Untuk saat ini aku belum siap Mas?"


Angga menarik nafas panjang. "Kenapa, karena Diana? jangan pikirkan dia Tik."


"Pikir saja sendiri Mas!"


"Atau begini saja, aku yang bayar kontrak ruko ya."


"Nggak usah, aku sudah punya tabungan kok, cukup untuk membayar ruko" Kartika kekeh dengan pendiriannya.


Didalam mobil pun menjadi sunyi hingga beberapa menit kemudian. "Rencana kamu mau kontrak dimana?" Angga mengalah.


"Dijalan xxx. Kemarin aku sudah lihat sama Sekar, kemarin lokasinya strategis"


Angga tidak lagi menyahut, ia pun berpikir ingin mencari cara lain. Untuk meringankan beban Kartika.


"Sudah sampai..." seru Jeni, mereka sampai rumah langsun turun.


Angga mengangkat barang-barang kedalam. Setelah itu pamit pulang.


"Yaah... Ayah kok pergi... katanya mau menginap?" protes Jeni cemberut sambil memegangi tangan Rangga.


"Nanti malam Ayah kesini lagi sayang... sekarang Ayah harus kerja" Angga menoel hidung Jeni.


"Tapi nanti malam, Ayah menginap disini ya," Jeni tidak kurang ide.


Angga menggaruk tengkuknya menatap Kartika dan Mbak Rumi bergantian, saat ini mereka berkumpul didapur.


"Iya nanti malam, Ayah bobok disini." Arumi akhirnya menjawab. Langsung diplototi Kartika.


"Sudah Ayah berangak ya" mencium pipi Jeni lalu berangkat.


Angga melajukan mobilnya menuju PT Diana Group. Sepanjang jalan ia bersiul-siul senang. Sampai di kantor, Angga masuk ruangan memencet tombol telepon menghubugi Rudi asistennya.

__ADS_1


"Selamat siang boss?" Rudi menemui Angga diruangan.


"Siang" ucapanya sambil menandatangi berkas-berkas.


"Bagaiman, produk digital yang baru loncing? sudah dipromosikan?"


"Sudah bos, para seles sudah terjun kelapangan, dan sudah ada beberapa custamer yang memesan, ini bos hasilnya." Rudi menyerahkan map berwarna biru, laporan sepekan.


Angga membuka map manggut-manggut tersenyum.


"Okay... lanjut kerja, jam empat temui saya disini ya" katanya tanpa memandang obyek. Meletakkan map kemudian kembali menandatangani perjanjian kerjasama dengan para penjual produk digital dari pihak luar maupun dalam.


"Baik bos."


Angga kerja hingga jam empat sore, merenggangkan otot, kemudian melonggarkan dasi.


Deeerrttt... dereeett.


Diana cooling 📞.


Angga; Hallo?"


Diana: "Jemput aku."


Angga: "Nggak bisa! sama supir saja."


Diana: "Memang kamu mau kemana Ga?!"


Angga: "Ada urusan."


Angga: Tut. Angga memutuskan telepon jika diladeni ujung-ujungnya bertengkar. Bisa-bisa rencananya gagal lagi.


"Sudah siap bos" Rudy masuk kedalam.


"Ayo" Angga bergegas ke toilet, sedangkan Rudi membereskan meja kerja Angga. Setelah Angga keluar dari kamar mandi mereka langsung berangkat.


"Kita mau kemana bos?" tanya Rudy setelah mereka diatas mobil.


"Antar saya kejalan xxx ya"


Siap bos" Rudy melaju kearah yang ditunjukkan bos. Jalanan padat merayap. Sebab, jam pulang kerja.


Diana terus menerus telepon, hingga Angga mematikan handphone.


"Kok tidak diangkat bos?"


"Malas Rud, capek saya, kalau bukan karena almarhum Papa Hermawan. Sudah saya tinggalkan dia." Rangga kesal mengacak rambutnya.


"Sabar bos," Rudy memenangkan bosnya. Rudy tahu bosnya ini jarang sekali marah jika bukan karena kesalahan fatal. Maka semua karyawan hormat kepadanya.


"Kurang sabar bagaimana saya Rud? sudah lima tahun kami menikah, tidak ada perubahan" mengingat rumah tangga nya dengan Diana dadanya terasa sesak.

__ADS_1


"Sengaja saya ajak bulan madu ke Bali, hanya alasan saya, ingin memperbaiki rumah tangga kami. Tetapi... di Bali pun kami tetap bertengkar." Rangga memang selalu curhat hanya kepada Rudy.


"Keputusan hanya pada bos?" sahut Rudy.


Hanya lima belas menit mereka sampai tempat Ruko yang ramai memang pas untuk usaha. Pasalnya, jalanan ini sering dilalui oleh para wisatawan yang hendak membeli oleh-oleh. Mereka turun dari mobil. Kemudian, Rangga melihat Ruko yang sudah dipesan Kartika.


"Kita kesini mau apa bos?"


"Coba tanya dimana pemilik Ruko ini Rud"


"Baik bos" Rudi bertanya kepada salah satu pedagang asinan dan manisan. Karena para pedagang disini rata-rata menjual makanan matang.


"Permisi Bu, saya mau tanya, dimana ya, pemilik ruko ini?" tanya Rudy kepada ibu separuh baya.


"Oh dibelakang Ruko ini Mas."


"Terimakasih Bu" Rudy kembali menemui Angga lalu mengajaknya kebelakang Ruko. Tampak rumah adat tempo dulu, yang masih sangat terawat. Sepertinya pemiliknya penduduk asli setempat.


"Permisi Pak..." sapa Rudy kepada seorang kakek.


"Oh adik siapa ya?" tanya kakek yang sedang santai di bale bambu unik. Menatap Rangga yang hanya mengangguk sopan.


"Kami berasal dari S Pak, menurut pedagang depan tadi, Bapak pemilik Ruko ini."


"Oh betul nak, silahkan masuk" Rangga masuk diikuti Rudy.


"Anak ini mau kontrak Ruko, atau ingin membeli? jika ingin kontrak, sudah tidak ada yang kosong. Tetapi jika ingin membeli Ruko itu akan saya jual." tutur kakek.


"Kira-kira mau dijual berapa Pak?" Angga yang dari tadi diam pun bertanya.


"Bapak sih, maunya standarnya saja berapa, tapi saya minta empat Ruko itu dibeli semua." "Sebenarnya sudah banyak yang menawar dengan harga tinggi, tetapi hanya minta satu kapling." kakek menjelaskan. Menurutnya, hasil penjualan Ruko akan dibagikan kepada anak-anaknya.


Perbincangan berlanjut. Angga bersedia membeli Ruko, setelah sepakat harga. Angga minta nomor rekening.


"Pak, jika wanita yang bapak bilang kemarin ingin kontrak Ruko tersebut. Beli harga serendah mungkin, tetapi... jangan katakan bahwa Ruko Bapak saya beli."


Kakek menatap Angga dengan dahi berkerut. Tetapi kakek itu mengiyakan saja.


Setelah selesai Angga kembali ke mobil. "Rud besok urus surat sertifikat secepatnya, balik nama, atas nama Kartika ya." titahnya sambil mengenakan sabuk pengaman.


"Kartika? siapa itu bos?"


"Dia istri pertama saya yang pernah saya ceritakan waktu itu."


"Oh kalau tidak salah, yang saya jemput dari DIANA BAKERY beberapa bulan yang lalu bos."


"Betul"


"Waahh.... cantik bos, sepertinya dia menolak anda. Jika dia tetap menolak anda buat saya ya bos, bos kan sudah punya Diana."


"Plok" Angga menggetok pundak Rudi dengan tempat kanebo yang ia ambil dari laci.

__ADS_1


"Cepat jalankan mobil!"


Rudy tertawa terbahak-terbahak.


__ADS_2