Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 33


__ADS_3

Malam begitu sunyi, ballroom sebagai saksi kegetiran hati Diana. Sudah selama seminggu, suaminya tidak pulang kerumah.


Anak buahnya tidak bisa melacak keberadaan Rangga. "Kemana kamu Ga." Ia menyelipkan rambut pendeknya keatas telinga. Angin malam terasa menusuk pori-pori, di tambah lagi hanya memakai tank top. Diana bersedekap, menatap gemerlapnya lampu kota. Pikirinya mengembara kemana-mana. Yang ia takutkan kini. Rangga akan menceraikan dirinya. "Oh tidaaakk..." Diana meremas rambutnya bersandar di tembok.


"Jika tidak bisa dengan cara kasar aku harus memakai cara halus" monolog Diana.


Ia tampak mondar mandir di ballroom. Beginilah yang Diana lakukan setiap malam menunggu suaminya datang. Ia tidak menampik, walaupun sering memarahi suaminya Diana sangat mencintainya, dan tidak ingin berpisah.


Diana masuk kedalam kamar, ia duduk di sofa. Memencet remote menyalakan televisi.


Ceklak. Pintu dibuka Diana cepat bangkit melihat siapa yang datang langsung menghambur memeluk Angga dari depan. "Ga, aku kangen" ucapnya mendongak keatas, menatap suaminya yang hanya mematung.


Angga tidak menyahut dan tidak juga membalas pelukan Diana.


Diana menempelkan pipinya didada Angga memejamkan mata, melepas rasa rindunya kini terobati. Namun melihat Angga tidak bereaksi Diana merenggangkan pelukanya.


"Ga, kamu nggak kangen?" ucapnya cemberut kesal.


"Aku capek Na!" sahut Angga, menyingkirkan tangan Diana lalu melangkah ke kamar mandi.


"Kenapa kamu sekarang berubah Ga?" tanya Diana. Menghentikan langkah kaki Angga di depan kamar mandi tanpa menoleh.


"Ayo lah Ga, jangan seperti ini, aku minta maaf aku ingin memperbaiki semua?" ucapnya membuat Angga menoleh.


Angga memincingkan mata, pura-pura atau ketempelan Jin baik tubuh Diana. Sehingga bisa bersikap lembut dan minta maaf. Yang selama menjadi suaminya Diana tidak pernah mengucap kata maaf.


Angga tetap diam lanjut membuka pintu kamar mandi. Setelah melakukan ritualnya ia keluar hanya memakai handuk, mendapati Diana yang sedang duduk di ranjang tanpa sehelai kain di tubuhnya.


"Diana, kamu?" Mulut Angga menganga lebar.


"Ga" Diana menarik handuk yang melilit di pinggang suaminya.


********


Tiga hari berlalu, semenjak penolakan Kartika dipasar, Angga tidak mendatangi Kartika maupun menjemput Jeni.


Selama itu Jeni sedih. Om ganteng tidak pernah memberi kabar.


"Jeni... cepat kerjakan PR mu, kenapa sih... kamu dari tadi coret-coret buku terus?" Tanya Anisa saat ini mereka sedang belajar.


Anisa gemas sendiri melihat sepupunya menopang dagu dimeja belajar, dengan bibir manyun tangannya sibuk mencoret-coret kertas.


Anisa menjatuhkan bolpen kemudian wajahnya telungkup dimeja berbantalkan lengan.

__ADS_1


"Kak, kenapa ya Om ganteng tidak pernah menjemput aku, atau telepon, kek." Jeni tidak mengangkat kepala, entah seperti apa raut wajahnya kini.


"Eh Jen, kamu mau mendengar ceritaku tentang Om ganteng nggak?" Anisa mengangkat kepala adiknya agar bangun.


"Mau, mau" sahut Jeni antusias.


"Okay... kalau begitu, mendingan kita selesaikan PR dulu, baru nanti aku ceritain."


"Siap"


Mereka mengerjakan PR, walaupun Anisa sudah memulai lebih dulu. Kerena memang Jeni anak cerdas ia dengan cepat menyelesaikan tugasnya.


"Selesai..." ucap Jeni sambil membenahi buku, lalu menyiapkan untuk besok.


"Cepet banget, sudah dikoreksi lagi belum tuh?" Anisa heran.


"Sudah dong. Kakak masih banyak?" Jeni menyingkap buku tulis milik Anisa.


"Masih tiga lagi" Anisa menyahut.


"Aku bantu" dengan cepat pula Jeni membantu Anisa.


Anisa ternganga menutup mulutnya, pelajaran kelas tiga dengan mudah Jeni menyelesaikan. Padahal Jeni masih kelas satu.


"Jangan terimakasih, aku cuma mau kakak cerita tentang Om ganteng." Jenita sudah tidak sabar.


"Kekamar aku yuk" mereka berjalan kekamar Anisa. Jeni sering tidur dengan Anisa. Tetapi tidak jarang juga tidur bersama Bunda.


"Jeni, sebenarnya Om ganteng itu Ayahmu, yang kamu cari-cari selama ini." tutur Anisa hati-hati.


"What? yang bener kak?" Jeni memincingkan mata.


"Itulah Jen, yang aku dengar dari perbincangan Bundamu dan Mama aku."


Flashback on.


Pulang dari pasar tiga hari yang lalu. Kartika turun dari mobil. Membuka jok belakang mengeluarkan belanjaan.


"Sini aku bantu, berat soalnya." Angga mendekat.


"Tidak usah, saya bisa sendiri, terimakasih sudah mengantar saya." ucap Kartika dingin, berjalan sambil mengangkat dua kantong plasti besar.


"Tik" panggil Angga. Namun Kartika tidak lagi menoleh. Angga menyerah, ia pun masuk kedalam mobil dan berlalu dari tempat itu.

__ADS_1


Mereka tidak tahu jika Arumi sudah pulang dari sekolah menjemput Anisa selesai bimbel. Memperhatikan interaksi mereka.


"Nis, kamu segera ganti baju ya" titah Rumi sampai didalam.


"Iya Ma" ucap Anisa. Tetapi, Anisa tidak langsung masuk kamar melainkan bersembunyi dibalik gerfer pembatas ruang tamu dan dapur. Karena Arumi menemui Kartika yang sedang menangis.


"Tik, apa yang terjadi?" tanya Arumi megusap lembut bahu adiknya, yang sedang duduk di kursi dapur.


"Aku bingung Mbak, Angga bersi keras agar aku kembali padanya. Tetapi aku tidak mau jika diduakan Mbak," Kartika mengusap air mata dipipinya.


Arumi ikut duduk disebelah adiknya. "Tika... menurut Mbak, tidak ada salahnya kamu menerima Angga kembali. Demi Jeni Tik, kamu nggak boleh menang sendiri. Ingat! Jeni sudah ingin segera bertemu Ayahnya. Walau sebenarnya Jeni setiap hari bersama Angga. Jeni nggak tahu kan? kalau Angga itu Ayah kandungnya."


Anisa yang sedang bersembunyi terkejut lalu menutup mulutnya.


"Banyak kok Tik, orang yang dipoligami hidup bahagia. Kamu kan yang lebih dulu, jangan mau kalah dong dengan Diana." tutur Arumi.


"Bicara memang mudah Mbak, memang Mbak Rum mau, di poligami?" Kartika mencibir.


"Idiiihhh... amit-amiiittt... jangan sampai" Arumi menggerakan pundaknya. Langsung kena cubit perutnya, oleh Kartika. "Dirinya saja nggak mau, sok nasehati!" Kartika mlengos kesal


Arumi terkekeh.


Flashback off.


"Yang benar kak, Om ganteng Ayah Jeni? terus kenapa Ayah sama Bunda menutupi dari Jeni?" Jeni berkaca-kaca.


"Aku nggak tahu Jen, tapi Mama sama Tante Kartika bilang, poli- apa ya aku lupa?" Anisa menepuk jidatnya.


"Poligami?" tanya Jenita.


"Iya itu, poligami. Tapi kamu tahu nggak Jen, poligami itu apa?"


"Nggak tahu" Jeni mengedikan pundaknya.


"Ah nggak tahu kak, pusing aku, yang jelas... Jeni kecewa sama Bunda sama Om ganteng, jika Om memang benar Ayah. Ngapain juga sih... musti menutupi dari Jeni? padahal beliau tahu, setiap hari Jeni selalu bertanya, kenapa nggak jawab saja kalau Om ganteng Ayahku" gerutu Jeni kesal.


"Sudahlah Jen, mungkin Bundamu ada alasan lain, jika kita tahu apa arti poligami? kita akan tahu jawabannya. Soalnya Tante bilang, aku nggak mau dimadu kak" Anisa menirukan ucapan Tante Kartika.


"Terus... apa lagi itu, arti dimadu? bahasa orang tua aneh-aneh Jen," Anisa geleng-geleng kepala.


"Mendingan kita tidur Jen, sudah jam sembilan," pungkas Anisa. Jeni mengangguk. Mereka mencoba tidur. Jika Anisa sudah mendengkur halus, berbeda dengan Jeni. Ia gelisah memikirkan orang tuanya. Jika memang benar Om ganteng adalah ayahnya, mengapa beliau tidak bersatu seperti Bude Arumi dan Pakde Aldi? pertanyaan itulah yang menggangu pikiran Jenita.


Jenita pun turun dari tempat tidur berjalan jinjit agar tidak menimbulkan suara. Lalu membuka pintu kamar perlahan. Setelah yakin Anisa sudah benar-benar pulas. Jeni kembali ke meja belajar membuka lap top, kemudian mencari apa arti poligami?

__ADS_1


"


__ADS_2