Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 53


__ADS_3

Kartika terkejut saat mendengar dari Sekar bahwa ada seorang wanita yang mendatangi Rangga bahkan masuk kedalam kamar.


Kartika beranjak berjalan ke Ruko sebelah. Bersama Sekar, melewati Fajar dan Fadil. "Permisi" ucap Kartika.


"Bu, diatas ada wanita yang tiba-tiba datang, nggak sopan Bu. Masa, memaksa masuk ke kamar Pak Rangga." Adu Fajar.


"Dil, tolong sampaikan kepadanya, suruh dia turun, bilang saja saya menunggu di bawah." titah Kartika.


"Baik Bu" Fajar langsung ke atas memanggil Diana. Tetapi Fajar kembali bersama Retno.


"Mana wanita itu Retno?" tanya Kartika kemudian, setelah Retno ke bawah hanya sendiri.


"Dia nggak mau turun Bu, malah dia yang mita Ibu naik keatas" jawab Retno.


Kartika tidak menjawab lalu naik keatas mengetuk pintu.


Ceklak.


Kartika memutar bola matanya, tidak menatap wanita yang menjadi obyek di depannya. Justru menatap foto yang ditempel rapi di tembok. Foto pernikahanya dengan Rangga delapan tahun yang silam terpampang besar. Walaupun gambarnya sudah tidak begitu jelas.


Ada satu lagi foto ketika jalan-jalan ke Ancol berapa bulan yang lalu. Selama Angga tinggal disini baru kali ini Kartika masuk. Kartika tersenyum samar.


"Heh! kamu gila ya, senyum-senyum sendiri!" sarkas Diana mengejutkan Kartika.


"Ngapain kamu disini?" tanya Kartika dingin tidak lagi memakai embel-embel panggilan didepan Bu, seperti dulu.


"Hahaha... pertanyaan yang aneh, gw kesini ke tempat gw sendiri kok." Diana lalu duduk diranjang.


"Maksudnya apa?" Kartika bersedap dada.


"Loe itu jadi perempuan jangan munafik, Tik. Katanya loe nggak mau nafkah dari Angga karena Angga selama ini numpang hidup sama gw! Asal loe tahu! Ruko ini Rangga beli pakai uang gw! ngerti loe!" Diana menunjuk Kartika yang masih berdiri dtengah pintu.


Deg.


Jantung Kartika hampir copot mendengarkan penuturan Diana. Jadi selama ini, Angga membohongi dirinya? ternyata Ruko ini Angga yang membeli. Pantas, Kartika hanya disuruh membayar setengahnya. "Bodoh! batin Kartika kenapa selama ini tidak berpikir, mana ada orang menyewakan Ruko justeru disuruh membayar setengahnya? bodoh! bodoh! Kartika merutuki diri sendiri.


"Hahaha..." Diana tertawa meledek. Mentetawakan Kartika yang hanya diam merenung.


"Kenapa! loe nggak bisa jawab kan?! dasar loe munafik!" sergah Diana.

__ADS_1


"Loe juga perlu tahu! gw menempati Ruko ini bayar kok," Kartika tampak biasa padahal hatinya kesal dengan Rangga.


"Hahaha... dasar loe munafik!" berkali-kali Diana mengucapkan kata itu.


Inilah yang Kartika takutkan! sedikit saja, dia menggukan fasilitas Angga. Pasti Diana akan menghinanya seperti ini.


"Jika tidak ada tujuan loe kekamar laki gw! mendingan loe keluar! gw mau istirahat!" cerocos Diana.


"Hahaha..." gantian Kartika yang meledek. "Loe itu sungguh wanita nggak punya urat malu. Sudah mau diceraikan hanya tinggal mengetuk palu, tetapi dengan tidak tahu malunya mengemis cinta, sampai datang kesini!"


"Loe!" Diana berdiri ingin mendekati Kartika. Diwaktu bersamaan Rangga datang.


"Apa yang kamu lakukan disini, Diana?!" bentak Rangga.


Kartika pun turun kebawah meninggalkan mereka berdua. Ia melewati anak buah Rangga mencoba untuk tersenyum.


Anak buah Rangga menatap Kartika lalu bertanya. "Dia beneran, sepupu Pak Rangga Bu?" tanya Retno.


"Memang wanita tadi bilang begitu ya?" Kartika balik bertanya.


"Iya Bu, masa, tamu nggak ada sopan santun, walaupun sama sepupu nggak begitu-begitu amat kali?" omel Retno.


"Yah, kalau dengar orangnya, bakalan dijambak rambut Retno." Fadil terkekeh.


Kartika tersenyum, mendengar celotehan anak buah Rangga. Ia senang, bisa mengalihkan pertanyaan Retno tentang siapa Diana. Kartika kembali ke Ruko sebelah.


******


"Keluar kamu! dari kamar saya, Diana!" usir Rangga menatap tajam Diana.


"Nggak mau! ini kamar kamu, berarti kamar aku juga, Ruko ini kan kamu beli ketika kamu masih gemar menikmati tubuhku. Iya kan Ga?" Diana menyeringai. Ia tidur miring di atas tempat tidur Rangga, menopang pelipis.


" Jika kamu berpikir begitu, kamu salah. Ruko ini aku beli pakai uang gaji aku, tidak sepeserpun memakai uang mu! jadi... jangan sok berkuasa!" Angga tidak mau kalah.


"Bisa saja kamu bicara begitu Ga, aku ini istrimu yang wajib kamu nafkahi juga! jadi... anggap saja, ini nafkah buat aku." Diana tersenyum puas bisa membalikkan kata-kata Angga.


"Baik! jika itu mau mu, Diana! silahkan ambil Ruko ini saya tidak perduli!" Angga pun kebawah meninggalkan Diana.


Rangga keluar menemui Kartika di sebelah. "Tik, kalau kamu hari ini repot, aku sudah minta tolong Fajar menjemput Jeni, aku mau pergi dulu." tuturnya.

__ADS_1


"Nggak usah minta tolong Fajar Mas, biar aku saja yang menjemput." sahut Kartika, menatap wajah Rangga yang sedang kusut timbul rasa kasihan, rasa marahnya pun hilang.


"Baiklah jika begitu!" Rangga berlalu.


Kartika menatap kepergian Rangga. Ia mengintai dari Jendela. Kartika pikir, akan pergi bersama Diana. Ternyata dugaanya salah. Rangga pergi menjalankan motornya entah mau kemana.


Kartika kembali mengotak atik lap top, mencari jika ada Ruko kosong yang disewakan. Tentu, yang harganya sesuai tabungan yang ia miliki.


********


Rangga melajukan motor, berniat menemui klien masih dikota yang sama. Tetapi... agak jauh dari tempat ini.


Sebenarnya tidak terlalu jauh sih, hanya sekitar 30 menit ditempuh dengan kendaraan bermotor. Rangga pun sampai tujuan. Mendatangi salah satu pengusaha elektronik yang berasal dari Asia. Dulu pernah bekerja sama saat masih bekerja di perusahaan mertua.


Namun sebelumnya Angga menemui Rudy yang tinggalnya tidak jauh dari tempat itu.


"Minum dulu bos" Rudy menyuguhkan secangkir kopi dan cemilan.


"Terimakasih Rud" ucapnya.


"Sama-sama bos, ada keperluan apa bos? tumben. Bos datang tidak memberi tahu sebelumnya."


"Sudah berapa kali aku katakan Rud, jangan panggil aku bos, aku bukan bos mu lagi," tegas Angga. Memang benar, setelah Angga mengundurkan diri dari perusahaaan mertuanya. Rudy pun ikut mundur, saat ini belum bekerja, melainkan mengurus kontrakan milik Bapaknya.


"Okay... sekarang Bang Rangga ada perlu apa?" Rudy mengulangi pertanyaan.


"Ruko yang pernah kamu tawarkan waktu itu, sudah ada yang sewa belum Rud?" tanya Rangga berniat menyewa salah satu Ruko milik orang tua Rudy.


"Yang tempo hari sudah ada yang sewa Bang, tapi ada bekas seteam, ukuranya lebih luas, tapi harganya lebih mahal." terang Rudy.


"Boleh saya lihat Rud."


"Mari bos" Rangga mengikuti Rudy. Melihat Ruko berlantai dua memang dua kali lipat lebih luas jika dibandingkan yang kemarin hanya tipe 40, sedangkan yang ini tipe 80.


"Sebenarnya ini dulu bekas rumah Abang saya bos, karena dia memilih tinggal di pedalaman rumah ini, di jadikan ruko lalu disewakan." kata Rudi. "Kata Abang, rumah dipinggir jalan seperti ini terlalu bising untuk tempat tinggal." imbuhnya


Angga menyukai Ruko ini setelah nego harga. Pihak Rudy memberikan diskon khusus untuk Angga. Setelah menerima nomer rekening bank milik kakak Rudy, Angga kembali pulang.


.

__ADS_1


.


__ADS_2