
Sebulan kemudian, Angga dan Diana sudah resmi bercerai. Walaupun Diana tetap kekeh ingin mempertahankan rumah tangganya demi anak yang ia kandung. Menurut Diana.
Angga berbicara dengan mantan mertuanya. Jika memang Diana benar-benar mengandung anaknya. Angga akan tetap bertanggung jawab menyayangi anak itu. Karena tidak ada bekas anak walaupun mereka sudah bercerai.
Tentu Mama Uly mendukung mantan menantunya.
Hingga suatu ketika Mama Uly sedang menasehati Diana.
"Sudah saatnya kamu berubah Na, kamu sekarang akan menjadi seorang ibu" tuturnya lembut.
"Tau lah Ma!" Sahut Diana lantas berdiri beranjak hendak meninggalkan Mama.
Mama menangkap ada yang janggal pada Diana. "Tunggu Na" Mama menghentikan langkah Diana.
"Ada apa lagi Ma?" tanya Diana sebenarnya sudah malas pasti akan dinasehati lagi.
"Kamu sedang haid?" tanya Mama Uly dengan dahi berkerut. Sebab celana Diana ada bercak darah.
"Mama ini ada-ada saja, aku kan lagi hamil Ma, mana mungkin haid sih," kilah Diana.
Mama geleng-geleng. "Jadi selama ini kamu menipu kami, dengan kehamilan kamu yang omong kosong itu?!" Mama kesal.
"Maksudnya apa sih Ma, bohong bagaimana?" Diana tetap menyangkal.
"Lihat celana Mu" Mama menunjuk ke arah celana Diana.
Diana menoleh seraya menarik celananya memang benar adanya dia sedang haid. Lalu menatap Mama Uly yang sedang menatapnya tak percaya. Tidak ada satu katapun yang terucap dari mulutnya.
Diana tidak berkutik lagi, kebohongannya kini telah terbongkar.
Ia melangkah menaiki tangga untung hanya Mamanya sendiri yang melihat jika Angga yang melihat mau ditaro dimana wajahnya? ia bergegas kekamar mandi mengganti pakaian tidak lama kemudian keluar.
Diana merebahkan tubuhnya dikasur merenungi apa yang telah terjadi. Diana menangis, ternyata hanya sampai disini jodohnya dengan Angga.
Andai saja dulu tidak menunda kehamilanya, mungkin tidak akan seperti ini. Setidaknya Angga akan mempertimbangakan jika akan menceraikan dirinya.
Sesal memang selalu di akhir, kini ia harus terima kenyataan bahwa cinta Angga telah pergi, dan tidak akan kembali.
Diana ambil kunci mobil, setelah menghubungi teman-temanya. Mungkin bermain bersama mereka sekedar nongkrong di Mal akan menghiburnya.
"Saya antar ya non" kata Pak Diman, setelah mengeluarkan mobil dari garasi atas perintah bosnya. Pak Diman khwatir jika membiarkan Nona mengendarai mobil sendiri. Pasalnya, baru saja menerima keputusan cerai sudah pasti pikiranya kalut.
"Tidak usah Pak, jika Mama tanya, bilang saja saya sedang main dengan teman." sahutnya lalu Diana menjalankan mobilnya meninggalkan rumah.
__ADS_1
Mobil meluncur cepat selap selip kiri, kanan, banyak sesama pengendara yang mengumpat menyumpahi Diana. Sebab Diana mengendara dengan ugal-ugalan. Entah kerasukan setan dari mana.
Tin tin tiiin... klakson bersaotan. "Gila tuh pengemudi mobil, mencari mati kali ya," kata salah satu pengemudi motor.
Truk dari arah berlawanan tampak melaju kencang.
Diana menghindar banting setir kekiri. "BRAK" mobil Diana menabrak papan reklame. Mobil terbalik.
Seketika mobil yang lain berhenti, kemacetan pun terjadi.
Para pedagang kaki lima berlarian menolong beramai-ramai mencoba membalik mobil. Diana terjepit pintu yang sudah peyot.
"Ayo kita keluarkan" ucap salah satu penolong.
"Susah sekali" sahut mereka, sebab pintu tidak bisa dibuka.
"Congkel pakai ini Bang" salah satu pedagang menyerahkan linggis.
Mereka berusaha membuka pintu, mengeluarkan Diana yang sudah tidak bisa dikenali, keadaan bersimbah darah.
"Ma-maafkan a-aku Ti-Tika, Mas Angga..." rirtihnya, putus-putus. Polisi datang lalu membawa korban ke rumah sakit.
******
"Ayah... dulu waktu sekolah suka dapat rangking kelas nggak?" tanya Jeni saat ini sedang belajar diruang depan. Sebab Jeni selalu mendapat peringkat kelas.
"Nggak pernah, tapi Ayah nggak ketinggalan banget sih, sepuluh besar masih dapat," terang Angga.
"Oh, kalau bunda seperti Jeni Yah, kadang peringkat satu, kadang dua, pernah sih... rangking tiga." celoteh Jeni.
"Bunda kamu memang pinter," kata Rangga tiduran miring, kepalanya diangat bertopang telapak tangan. Sambil mengawasi Jeni belajar.
"Apa... pada ngomongin Bunda ya, gibah tuh namanya" Kartika datang sambil membawa teh dan kopi pura-pura kesal.
"Kita lagi ngomong... Bunda cantik" ucap Jeni sambil menunjuk pipinya sendiri. Angga lalu duduk mengacak rambut Jeni terkekeh. Menatap anaknya tampak lucu.
"Kopinya Mas..." Kartika mendekatkan kopi kedepan Angga, lalu dia ambil teh.
"Terimakasih..." Angga mengangkat gelas lalu meminumnya sedikit.
"Sudah selesai... Jeni siapin buku dulu ya Bun." kata Jeni tampak sedang membereskan buku-buku yang berserakan.
"Iya sayang, jangan lupa selesai nyiapin buku sikat gigi ya." sahut Kartika.
__ADS_1
"Yah, pengen ngemil dulu Bun" Jeni menghentikan langkahnya menatap Kartika dengan wajah memelas.
"Hehehe... iya" Kartika tertawa melihat wajah Jeni. Dan tidak luput dari perhatian Angga. Angga menatap Kartika senang, sekarang sering tersenyum tidak seperti satu bulan yang lalu masih selalu masam jika ada dia didekatnya.
"Mas, ngomong-ngomong... bagaimana tadi, keputusan pengadilan?" tanya Kartika, langsung ke inti persoalan. Sebenarnya Rangga sudah pulang dari pengadilan sore tadi, tetapi Kartika belum sempat bertanya tentang proses perceraiannya dengan Diana.
"Sudah selesai Tik, sudah diputuskan pengadilan." ucap Rangga ada kelegaan dihatinya. "Sekarang kamu mau kan Tik, pindah kerumah kita? mau ya Tik, kita hidup bahagia disana demi Jeni. Biar dia semakin senang."
Derrtt deerrrttt.
Belum sempat dijawab, handphone milik Angga bergetar.
Angga melihat nomor panggilan tertera nama Diana. Angga lantas mematikan. Ngapain sih, Diana telepon lagi? Angga sudah tidak ingin membahas apapun tentang Dia. Saham perusahaan milik Papa Hermawan sudah Rangga kembalikan kepada Mama Uly. Pikir Rangga.
Namun telepon terus berbunyi. Kartika menatap Angga yang diam mengabaikan panggilan tersebut.
"Angkat dulu Mas" titah Kartika.
"Malas Tik, dari Diana soalnya, aku nggak mau lagi membahas apapun dengannya," jujur Angga.
"Anggkat Mas, siapa tahu penting aku percaya kok sama kamu." Kata Kartika melegakan Angga. Dengan malas Angga menggeser tombol hijau dan memencet loudspeaker.
"Hallo" jawab Angga.
"Hallo Pak, anda yang bernama Ranggano?" tanya si penelepon.
"Iya, anda siapa?" Angga balik bertanya.
"Saya dari pihak kepolisian, saudara Diana mengalami kecelakaan." pihak kepolisian menjelaskan bahwa Diana mengalami kritis. Ketika masih sadar sepanjang perjalanan menyebut nama Angga dan Kartika.
"Ada apa Mas?" tanya Kartika setelah Rangga menutup handphone.
"Diana kecelakaan, dan saat ini dia kritis" Angga menjelaskan.
"Ya Allah.... kasihan, sekarang kita kesana Mas" Kartika langsung berdiri.
"Tapi Jeni bagaimana?" tanya Angga ikut berdiri.
"Sekalian berangkat, kita titipkan Mbak Rum saja." tidak bicara lagi Kartika langsung berkemas.
"Jeni... Ayah sama Bunda mau menengok orang sakit, kamu dirumah bude dulu ya," kata Kartika.
"Ya Bun"
__ADS_1
Angga membuka Ruko milik Kartika sebab motornya ia simpan disana, setelah mengeluarkan motor bergegas memboncengkan Anak dan istri menuju rumah Mbak Rum.