Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 35


__ADS_3

Angga tertegun melihat perubahan Jeni 180 derajat. Mungkin karena sudah seminggu tidak menjemputnya jadi Jeni merasa marah. Pikirnya. Angga menghembuskan napas kasar, lalu melajukan mobilnya mengikuti motor Arumi.


Lampu merah menyala, Rangga berhenti tertinggal oleh Arumi.


Arumi sampai di depan Rumah. Jeni dan Anisa segera turun. Jeni segera masuk meninggalkan Rumi dan Anisa.


Ketika Anisa ingin mengejar. Arumi menahan tangan anaknya. "Nis, biarkan Jeni istirahat nak, sebaiknya kamu masuk kamar sendiri ya."


"Baik Ma" kedua anak itu masuk kamar masing-masing. Anisa merebahkan tubuhnya dikasur. Ia mengingat-ingat kenapa Jeni bisa marah dengan Om Angga?


Anisa menepuk jidatnya. Ia baru ingat, bahwa tadi malam dia menceritakan tentang Om Rangga.


Anisa menyesal seharusnya tidak mencampuri urusan orang tua. Ia segera menuju kamar Mamanya.


Tok tok tok.


"Masuk tidak di kunci" suara Arumi dari dalam.


Anisa masuk melihat Mama sedang membaca buku sambil rebahan.


"Ada apa Nis? tumben, masuk kekamar Mama"


"Memang nggak boleh... Jeni aja suka dikeloni Bundanya."


"Waduuuh... ada yang iri... sini-sini, bokci sama Mama" Rumi menepuk bantal di sebelahnya. Anisa naik ke atas.


Langsung di todong ciuman Mama.


"Kamu sudah makan?" tanya Arumi megusap lembut pipi Anisa.


"Tadi bekalnya dimakan istirahat kedua Ma, jadi masih kenyang."


"Oh ya sudah... sekarang bobo" mencium pipi Anisa.


"Ma"


"Apa?"


"Jeni tadi marah sama Om Rangga kayaknya gara-gara Anis. Anisa jadi kepikiran terus Ma"


"Memang apa yang kamu lakukan?" Arumi langsung duduk menatap anaknya.


Anisa diam sesaat. "Maaf Ma, kemarin Anis nguping pembicaraan Mama sama Tante Kartika. Terus... Anis sampaikan ke Jeni. Jeni marah deh sama Om"


Arumi mengerutkan kening. "Pembicaraan yang mana?" Rumi menaggapi santai.


"Yang Mama bilang sama Tante tentang poligami sama dimadu Ma, apa sih... Arti dua kata itu kok Jeni jadi marah?" Anisa berbicara hati-hati.


"Lain kali, Nisa nggak boleh menguping pembicaraaan orang tua, tidak sopan itu namanya. Lalu yang kedua, jangan suka menyampaikan informasi yang hanya kamu ketahui sepenggal, apa lagi ini masalah orang lain timbulnya menjadi gibah." Bukan menjawab, Rumi justeru menasehati anaknya.


"Iya Ma"

__ADS_1


Sekarang kamu istirahat, jangan memikirkan yang aneh-aneh."


Arumi kemudian mengusap-usap kepala Anis agar tidur


*********


Diluar, Angga gelisah mondar-mondar ingin mengetuk pintu. Tetapi takut Jeni marah, kemudian Angga lebih baik duduk di kursi teras rumah.


Netranya tertuju wanita yang dicintainya baru turun dari Angkutan sambil menenteng box. Angga bergegas menghampiri.


Dengan wajah kuyu, Kartika baru pulang dari pusat kota. Sebenarnya jualanya sudah habis tadi pagi. Tetapi setelah jualan, mengantarkan kue ke Toko Bu Huri. Kartika turun dari angkot langsung disambut Angga dengan senyuman.


"Baru pulang?" tanya Angga.


"Iya. Mas Angga, pulang menjemput Jeni ya? Jeni mana?" Kartika balik bertanya. Lalu mengangkat box kosong masuk ke halaman diikuti Rangga.


Angga tidak menyahut bingung mau menjawab.


Kartika segera membuka pintu, ternyata tidak dikunci. Langkah pertama ia masuk kedalam bergegas melihat Jeni kekamar. Mendorong handle pintu pelan, menyembulkan separuh kepalanya. Melihat jeni sedang memeluk boneka kelinci, entah tidur atau hanya pura-pura Kartika tidak tahu. Kartika menutupnya kembali kemudian menemui Angga yang masih duduk di teras.


"Aku buatkan minum dulu" ucap Kartika. Tapi pergelangan tanganya langsung ditahan Rangga.


"Tidak usah, kamu duduk saja" kata Angga. Tetapi Angga menoleh kursinya hanya satu.


"Boleh aku masuk?" tanya Angga merasa takut, kemarahan Kartika dua minggu yang lalu, masih membuatnya khwatir.


Boleh Diana selalu marah-marah setiap hari, tapi masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Berbeda jika yang marah Kartika Angga tidak berani menjawab sepatah kata pun.


Mereka masuk kedalam. Kartika duduk terlebih dahulu. Tetapi bukan di kursi melainkan di karpet rasanya ingin meluruskan kakinya yang sejak pagi terus berjalan.


"Mas Rangga duduk di kursi saja" ucapnya melihat Rangga ikut duduk di bawah.


"Disini saja" netranya menatap Kartika yang sedang memijit betisnya.


"Capek ya?" tanya Angga, lalu memijit pelan jari jemari kaki Kartika.


"Nggak usah" Kartika menggeser kakinya kesamping.


Angga mendekati kaki Kartika kembali. "Ini kalau kaki terasa capek, pegal-pegal yang di pijit tidak hanya yang bagian pegalnya,"


"Nih disini" Angga memijit telapak kaki Kartika dengan jempol.


Kartika akhirnya menurut, memang benar kakinya terasa pegal, pijitan Rangga membuatnya terasa relexs.


"Dipijit titik refleksi, tidak hanya menghilangkan pegal, tapi juga dapat menghilangkan kecemasan loh." Anggak memijit bagian jempol Kartika.


"Sok tahu! memang aku sedang cemas?" Kartika mlengos.


"Siapa tahu, sedang memikirkan seseorang hingga membuatnya cemas, aku, misalnya." Angga terkekeh.


"GR!" Kartika menjeb.

__ADS_1


Kartika menatap wajah Angga, deg degan. Tidak Kartika pungkiri. Rasa cintanya masih 100 persen.


Angga terus memijit, sesekali memergoki Kartika yang sedang memandangnya. Senyum terukir dibibirnya, hingga lupa tujuan awal ingin menemui Jeni.


"Tadi Mas Angga, bukanya menjemput Jeni? kok Mas bisa duduk di luar?"


Angga berhenti memijit wajahnya berubah sedih. "Jeni nggak mau aku jemput Tik, dia marah, tapi kenapa ya?" Angga menyugar rambutnya gusar.


"Marah?" Kartika bingung. Berarti tadi Jeni pulang bersama Mbak Rum?"


Angga mengangguk.


"Iya, tadi waktu aku jemput, begitu melihat aku justeru lari sambil menangis, padahal biasanya selalu senang tiap kali aku jemput."


"Nanti aku tanya deh, sekarang lagi tidur soalnya. Aku juga heran... dari tadi pagi dia terlihat murung di tambah lagi, tadi malam sepertinya kebanyakan menangis hingga matanya bengkat." tutur Kartika.


Angga mengangkat kepala cepat. "Ada masalah apa ya Tik?"


"Mungkin karena kamu nggak jemput dia terlalu lama Mas, jadi kesal. Mas sih! betah banget ngelonin istri muda sampai nggak ingat Jeni."


Angga menatap Kartika, hatinya senang. Saat ini Kartika sudah cemburu kepadanya. Itu Artinya ada perkembangan. Rangga hanya bisa berharap hubungan mereka akan lebih baik.


"Kata siapa? aku tidur bersama Diana hingga berhari-hari, baru tadi malam kok aku menemuinya."


"Terus... tidur dimana?"


"Kan aku sudah pernah bilang, aku sudah belikan rumah untuk kamu, jadi aku tidur disitu."


Kartika tidak lagi membahas.


"Aku istirahat didalam sebentar ya, Mas Angga sebaiknya pulang. Nanti aku yang memberi pengertian Jeni."


"Aku nggak mau pulang." ucapnya, justeru ambil bantal di sofa lalu ia merebahkan tubuhnya dikarpet.


Kartika menggeleng, kemudian meninggalkan Angga masuk kedalam kamar.


"Anak Bunda... sudah bangun, kirain masih tidur?" Kartika tersenyum begitu masuk Jeni sedang memainkan boneka. Kartika duduk di sebelah Jeni memainkan rambut panjanganya.


Jeni tidak menjawab.


"Kenapa sih... cerita dong! sama Bunda. Bunda tahu, kalau Jeni sedang sedih."


Tangis Jeni pun kembali pecah. Kartika merangkul pundak anaknya, lalu menyenderkan kepala Jeni dipundaknya, sambil mengelus kening.


"Kenapa Bunda berbohong. Kenapa Bunda nggak pernah cerita kalau Jeni itu anak Om ganteng. Kenapa Bun?" Jeni menggoyang tangan Jenita.


Kartika terperangah. "Kamu tahu cerita ini darimana nak?"


"Nggak perlu dibahas darimana Jeni tahu, sekarang jawab saja Bun," Jeni memang seperti orang dewasa jika berbicara.


"Iya" jawab Kartika pada akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2