Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 29


__ADS_3

Suasana pagi menjadi hening setelah kedatangan Rangga. Kartika masih dalam edisi diam, walaupun Rangga sesekali melempar senyum, Kartika tak sekalipun menanggapi. Jeni dan Nisa lah, yang membuat suasana menjadi lebih hangat celotehnya kadang membuat tertawa.


"Kamu mau ajak mereka jalan kemana Ga?" tanya Mbak Rumi ketika selesai makan mereka siap berangkat.


"Kita mau ke Ancol Mbak?" sahut Rangga sambil menuntun Jeni.


"Mama... Nisa ikut ya..." rengek Nisa.


"Jangan... nanti Tante Kartika repot." cegah Aldi.


"Nggak apa-apa Mbak, Mas, biar Nisa ikut" Rangga yang sudah di atas mobil berucap.


"Kenapa?" tanya Kartika yang baru habis dari kamar menghampiri. Sudah berpakaian santai kaos dan celana jins membuat Rangga lagi-lagi terkesima.


"Nisa mau ikut Tan, boleh ya?" Tanganya menggelayuti lengan Kartika.


"Boleh dong, sana salin baju."


Nisa segera ganti pakaian di ikuti Rumi. "Nisa nggak boleh nakal ya, kasihan Tante Kartika jagain kamu."


"Nggak dong Ma"


"Ini Mama bawain uang, kalau kamu mau jajan, tapi Mama titipin Tante Rumi ya"


"Siap Ma"


Anisa kemudian keluar. "Aku mau duduk sama Jeni," kata Nisa.


"Nggak muat lah... kalau di depan, nanti kena razia polisi koh, kalau berdua duaan di depan." terang Aldi.


"Jeni kebelakang saja Pakde, biar Bunda kedepan."


Yes! batin Rangga, tersenyum menatap Jenita yang sedang turun dari mobil.


Deg. Lain Rangga lain Kartika. Kartika terkesiap duduk di depan dengan Angga oh tidak!


"Bunda kedepan ya, biar Jeni di belakang."


"Tapi..." Kartika kebingungan.


"Bener Tik, biarin mereka dibelakang. Asyikkan kalau ada teman ngobrol." imbuh Arumi.

__ADS_1


Tidak banyak bicara Kartika lalu turun dari mobil menutup pintu belakang. Walaupun dalam hatinya malas. Demi Jeni apa yang nggak.


"Duh... yang mau berduaan" Arumi senyum meledek. Langsung kena cubit Kartika. "Kalian tuh yang mau berduaan. Selamat bikin adik buat Anisa ya." Kartika balik meledek.


Renaldi terkekeh melihat candaan istri dan adik iparnya.


"Benar apa yang di katakan Kartika Ma, kita bikin adik yuk." Aldi memeluk pundak Rumi mengajak Rumi masuk sambil terbahak-terbahak.


Sementara Rangga membukakan pintu untuk Kartika.


"Angga usah dibukakan. Saya bukan Diana, yang manja!" ketus Kartika. Angga tidak menyahut mengelus dada. "Sabar Angga..." batin. Sambil berputar masuk kedalam mobil.


"Sudah siap kalian?" Rangga menoleh ke belakang melihat Jeni dan Anisa yang sedang bergurau.


"Siaaaap..." ucapnya serentak.


Angga mengacungkan jempol kemudian melanjutkan perjalanan. Di perjalanan Angga sesekali melirik Kartika yang dalam posisi menoleh kesamping.


"Tik"


Kartika menoleh. "Ada apa?"


"Kamu anti banget ya, lihat wajah aku" tersenyum kecut.


"Bukanya malah tambah ganteng? Jeni saja manggilnya Om ganteng" kembali tersenyum.


"Dih, gede rasa"


Tidak lama kemudian mobil sampai di taman Ancol. Setelah parkir mereka berjalan berkeling. Tercapai lah Jeni naik wahana bersama Nisa permainan tersebut yang mereka tuju.


"Hati-hati ya sayang" ucap Kartika kepada Jeni dan Anisa.


"Iya Bunda"


"Iya bude." Jeni naik wahana bersama Nisa. Sementara Kartika menunggu dibawah.


"Ini aku belikan keripik tempe, kesukaan kamu" Anggan meletakkan keripik tempe disamping Kartika. Kartika diam mengamati keripik tersebut. Kepengen juga sih, di tempat wisata jika tidak ngemil seperti tidak abdol.


"Tenang... keripik ini aku beli dengan keringatku sendiri." Angga seolah tahu apa yang dipikirkan Kartika.


"Terimakasih" Kartika pun melunak. Kemudian mencicipi keripik dan minuman kemasan, yang di beli Rangga setelah dari toilet tadi.

__ADS_1


"Tik, boleh aku cerita sedikit tentang kisahku selama di Kota?"


Kartika mengangguk.


Rangga menceritakan saat menjadi gelandangan selama tiga bulan. Pernah menjadi pengemis karena kelaparan, pernah juga mengorek-ngorek tempat sampah sekedar mencari sesuatu yang bisa dijual.


"Kenapa Mas Angga saat itu tidak pulang saja, jika tidak mendapat pekerjaan?" Kartika miris mendengar cerita suaminya.


"Mau pulang pakai apa, jalan kaki? saat itu aku nggak punya apa-apa. Punya hp butut saja hilang."


"Ya Allah... Mas..." Kartika bersedih.


Kartika menunduk. Namun hatinya tersayat mendengar penuturan Ranga.


Rangga menceritakan saat ditolong Pak Hermawan, diberi tempat tinggal, diberi pekerjaan, dan tinggal satu rumah dengan Diana. Diana akhirnya jatuh cinta kepada Angga. Karena Angga tidak membalas cintanya. Diana menghalalkan segala cara hingga menjebaknya pula.


"Begitulah ceritanya Tik, selama tiga tahun menikah dengan Diana, pergerakanku selalu diawasi. Sebenarnya aku ingin pulang, tetapi harapan tinggal harapan. Jika sampai aku nekat Diana akan menyuruh orang untuk menyakiti kamu." Rangga mengacak rambutnya gusar.


"Memang Diana tahu aku tinggal dimana?" Kartika kali ini menatap mata Angga seksama. Untuk pertama kali.


"Hehehe... tumben kamu nggak bisa mikir" Angga mengusap kepala Kartika. "Ya jelas tahu lah. Dengan uang yang berlimpah Diana bisa melakukan apa pun, dimana kamu berada, pasti dia bisa menemukan kamu. Termasuk pertama kali kita bertemu pasti kamu heran, mengapa aku bersikap kasar. Karena anak buah Diana berkeliaran, mengawasi kamu."


Kartika terkesiap. "Tapi waktu itu Diana melihat aku baik saja."


"Masa mau langsung melabrak kamu, dia juga mikir cari waktu yang tepat."


"Termasuk saat di toilet waktu itu. Daripada kamu mendapat masalah aku pura-pura marah."


"Tapi nyatanya kita disini baik-baik saja." sanggah Kartika.


"Kamu lihat pria-pria sangar yang berkeliaran sebelah sana itu anak buah Diana" Angga menunjuk pria yang berpakaian seragam hitam sedang mengawasinya.


"Terus bagaiman kalau sampai mereka menangkap kita?" Kartika kali ini merasa takut.


"Aku juga sudah menyiapkan orang-orang aku untuk mengawasi mereka."


"Kaya mau perang saja." Kartika geleng-geleng.


"Biar saja Tik aku sekarang nggak takut lagi." Angga meceritakan mengingat satu persatu kejadian yang ia alami. Jika bukan karena ingat pesan Papa Hermawan Rangga ingin menceraikan Diana. Dan hidup bahagia bersama Kartika.


"Tik" Angga menggenggam tangan Kartika. "Aku ingin kita bersama seperti dulu, aku sudah siapkan rumah untuk kamu, dan anak kita. Aku akan mencari bodyguard untuk menjaga kalian." tutur Rangga sungguh-sungguh.

__ADS_1


Kartika menarik tanganya. "Aku nggak mau dimadu Mas." pungkasnya.


"Kita lihat anak-anak dulu Mas" Kartika mengalihkan. Lalu beranjak di ikuti Rangga.


__ADS_2