Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 36


__ADS_3

Kartika merangkul anaknya, hingga membuat Jeni nyaman membenamkan wajahnya didada Bundanya. Jeni memang beda dengan anak-anak seusianya, terlalu peka terhadap kejadian sekitar. Akan mencari tahu jika menurutnya penasaran. Ranjin membaca apa pun, maka tidak heran jika Jeni tumbuh menjadi anak yang cerdas.


"Sekarang dengar ya. Bunda mau cerita" Kartika menarik nafas panjang.


"Memang benar, yang Jeni anggap Om itu adalah; Ayah Jeni. Sebenarnya, Bunda akan ceritakan semuanya sama kamu, dari awal kita bertemu. Tetapi... bunda takut nak, kamu akan membenci Ayahmu. Nah, seperti sekarang ini, begitu kamu tahu, Om ganteng itu Ayahmu... terbukti kan, kamu marah. Nggak mau dijemput sama Ayah." Kartika menjelaskan panjang lebar.


"Jeni kasihan sama Bunda," Jeni menatap Kartika berkaca-kaca.


"Memang Bunda kenapa? Bunda nggak apa-apa kok nak" Kartika mecium pipi Jeni.


"Tapi kan Ayah punya Bunda baru" kata Jeni polos.


"Hehehe... kamu masih kecil untuk tahu semua ini nak, yang penting... Ayahmu sayang sama Jeni. Jeni harus hormat sama orang tua. Lebih-lebih, Ayahmu sendiri. Dosa loh, kalau marah sama orang tua sendiri."


"Tapi kan Ayah, sudah membuat Bunda sedih, suka menangis setiap hari." Mengingat itu Jeni kesal.


"Seburuk apapun tabiat orang tua, harus kita hormati, dan kita jaga perasaannya. Karena surgamu ada padanya, ingat kan? ceramah Guru mengaji Jeni."


Jeni merenungi sikapnya disekolah tadi, ia merasa sudah tidak sopan bersikap kepada Ayahnya, Jeni kembali menangis.


"Eeee... nggak boleh menangis lagi, nanti matanya bengkak, terus nggak cantik lagi." Kartika menghapus air mata Jeni dengan jari.


"Ya deh... besok, Jeni minta maaf." mengusap sisa air matanya.


"Gitu donk, namanya anak Bunda yang solehah" Kartika menempelkan dahinya ke dahi Jeni. "Kenapa nggak sekarang saja" kata Kartika.


"Sekarang Bun, memang Ayah dimana?"


"Ada didepan"


"Didepan?" Jeni terkejut bukan main.


"Iya, sana temui beliau beri kejutan." Kartika tersenyum.


"Jeni kedepan ya Bun." Jeni bergegas kedepan. Setelah diangguki Kartika.


Kartika tersenyum menatap anaknya. Ia harus mengalah, demi menjaga psikologis anaknya. Ada kalanya harus berkorban demi orang yang dicintai dan disayangi. Walaupun harus mengorbankan diri sendiri. Namun, yang membuat Kartika was-was adalah; Cepat atau lambat Diana akan tahu, jika Rangga sudah dekat dengan anaknya. Kartika harus siap menghadapi semuanya. Tika tahu, Diana tipikal orang yang menghalalkan segala cara, demi misinya.


********


Jeni keluar dari kamar matanya membulat, tatkala melihat Ayahnya tidur dikarpet. Jeni mematung mengamati Ayahnya. Rasanya seperti mimpi bisa bertemu orang yang dicari-cari selama ini.


Rangga terlentang menutup dahinya dengan lengan sebelah.

__ADS_1


"A-- Ayah..." panggil Jeni terbata-bata.


Angga bangun mendadak. Mengucek matanya bukan karena sudah tidur, melainkan terkesiap menatap Jenita yang berdiri di depanya dan memanggilnya Ayah.


"Je-- Jeni?" Angga berkedip, memastikan jika dirinya tidak bermimpi. Bapak dan anak itupun saling diam untuk beberapa saat.


"Ayah... hu huuuu..." Jeni memeluk Ayahnya.


"Maafkan Ayah nak... maafkan Ayah..." keduanya menangis mengharu biru.


Kartika yang sejak tadi mengamati di depan pintu kamar, menahan langkahnya. Kartika memberi kesempatan, keduanya untuk melepaskan kerinduan. Kartika kembali lagi kekamar.


"Ayah jangan pergi lagi ya, Jeni ingin seperti temen-temen tinggal bersama Ayah dan Bunda." Angga hanya mengangguk perkara bagaimana nanti. Rangga tidak ingin melewatkan momen yang indah ini.


Mereka ngobrol panjang lebar hingga Jeni lelah kemudian keduanya tidur di karpet.


Kartika melihat moment seperti itu. Menitikan air mata. "Jangan pisahkan mereka. Ya. Allah..." doanya. Jeni tampak terlelap berbatalkan perut sang Ayah.


Kartika tersenyum tipis melihat Angga jika tidur matanya terbuka sedikit. "Ya Allah... masih seperti dulu" gumamnya. kemudian menyingkir dari tempat itu.


Kartika bergegas kedapur ambil rinjing berniat kepasar. Ia ingin belanja untuk pesanan kue besok. Kartika menyimpan catatan di dompet agar tidak lupa apa yang harus dibeli.


Besok sepertinya tidak akan sempat keliling. Sebab, ada pesanan 100 box kue berisi empat macam plus air mineral untuk siang hari.


Besok pagi Pun, dia minta bantuan sekar dan kedua orang temanya ketika kerja di DIANA BAKERY.


Kartika kembali melihat Jeni dan Angga yang masih terlelap. Ia menulis secarik kertas agar Jeni tidak kebingungan mencarinya. Meletakkan dimeja lalu berangkat naik angkutan.


Satu jam kemudian. "Hoam... " Jeni bangun dari perut Ayahnya.


"Kamu sudah bangun?" Angga yang masih tiduran tersenyum mengusap ubun-ubun anaknya. Yang tidak pernah ia lakukan sejak anaknya lahir. Rangga sungguh menyesal melewatkan momen itu. Menunggui saat Kartika meregang nyawa di pelaminan. Mengazani ketika Jeni baru lahir. Rangga membuang nafas kasar.


"Jeni ambil minum ya, Yah. Ayah mau nggak?"


"Boleh..."


Jeni bangun dari tidur menuju dispenser. Tidak lama kembali membawa satu gelas air putih untuh Ayahnya.


"Terimakasih ya, buat kamu mana?" tanya Angga melihat Jeni hanya membawa satu gelas air.


"Sudah minum disana tadi."


Rangga menghabiskan air satu gelas, karena memang haus. Jeni mengambil gelas bekas Ayahnya lalu meletakkan diatas meja. Mata Jeni tertuju secarik kertas yang di tulis Bundanya.

__ADS_1


"Bunda ternyata kepasar Yah" Jeni menunjukkan kertas.


"Ayah mau menjemput, kamu ikut nggak?"


"Ikut, ikut." jawabnya bersemangat.


"Pamit Bude dulu dong," kata Rangga.


"Nggak usah Om ganteng, nanti mengganggu bude kan lagi tidur"


"Oh ya sudah ayo" Angga menggandeng tangan Jeni menuju mobil setelah kekamar mandi. Mereka berangkat menjemput Kartika.


"Kok kamu masih panggil Om terus... lupa ya?" protes Rangga Jeni semenjak bangun tidur memanggil Om kembali.


"Oh iya, sudah kebiasaan" mereka terkekeh. Sepanjang jalan mereka ngobrol hingga sampai di depan pasar.


Mereka turun, lalu mencari Kartika. Angga melihat Kartika yang sudah keluar dari pasar tampak keberatan membawa tentengan cepat-cepat menghampiri.


"Bunda disana tuh" ucap Jeni.


"Iya ayo, cepat kesana, Bunda keberatan," Angga berjalan cepat, Jeni mengikuti setengah berlari.


"Ya Allah... kamu tuh ya! sampai keberatan begini sih..." Angga geleng-geleng seraya ambil belanjaan dari tangan Kartika.


"Kepasar kok nggak bangunin aku siih..." gerutu Rangga. Padahal Rangga yang membawa saja sangat berat. Rangga membuka bagasi lalu memasukkan 4 kantong plastik kedalamnya.


Rangga menoleh kebelakang tidak ada Kartika maupun Jeni. Berarti ngomel tadi Kartika tidak mendengar.


Angga kembali ke tempat semula, mencari anak, istrinya.


Ternyata Kartika menitipkan belanjaan kesalah satu ruko. Angga terkesiap, Kartika Masih membawa empat kantong lagi.


Ya Allah... Kartika, sungguh kamu wanita hebat, tidak pernah, mengeluh walaupun bersusah payah.


Dengan cepat Rangga kembali mengangkat kantong tidak bicara lagi.


"Aku bantu Mas, berat loh"


Angga tidak menyahut cepat berjalan kemobil.


Kartika dan Jeni mengikuti dari belakang.


"Mau kemana dulu ini?" tanya Angga, menatap Kartika dan Jeni bergantian.

__ADS_1


Pulang saja Mas, masih banyak pekerjaan, aku,"


__ADS_2