Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 55


__ADS_3

Kartika masuk kedalam kamar, mencoba untuk terpejam namun sulit, pikiranya menggembara kemana-mana.


Menjalani biduk berumah tangga, tentunya akan ada ujian sesuai porsinya. Hanya bagaimana pasangan itu menyikapi. Seperti yang dijalani Kartika dengan Angga.


Mereka menjalankan kapal yang terombang ambing di lautan, melawan gelombang. Entah hendak menepi dimana kapal ini? akan kah, sampai tujuan, atau justeru tenggelam kedasar lautan.


Kesetiaan pasangan diuji ketika tengah dihampiri masalah seperti yang di lakoninya. Berkali-kali Kartika menarik nafas melepasnya kasar.


Kartika Sari 🚣‍♀️🚣‍♀️🚣‍♀️


Malam berganti pagi, masing-masing disibukkan dengan kegiatan, dan tugas-tugas. Seperti yang dilakukan Kartika. Ia tampak sedang mengepak barang, karena hari ini ingin pindah.


"Jadi, nanti kita pindah ya Bun?" tanya Jeni sambil mengenakan seragam sekolah.


"Iya, enak loh... tempatnya disebelah sekolah Jeni" tutur Kartika sambil memasukkan baju kedalam tas.


"Tapi... sama Ayah kan Bun?" tanya Jeni berjongkok memegang tas pakaian yang sedang diisi baju-baju oleh Kartika. Jeni khawatir akan berpisah dengan Ayahnya lagi. Padahal sudah berdoa siang dan malam agar Ayah dan Ibunya di persatukan.


"Kamu ini ya? kalau tanya tentang Ayah, sampai negesin." Kartika geleng-geleng sambil terkekeh.


"Yah... Bunda, namanya juga Ayah... siapa sih yang nggak ingin disayang sama Ayahnya... Jeni tuh sekarang senang, Bun, bisa merasakan kasih sayang dari Ayah." tuturnya polos.


"Iya, iya... sekarang selesaikan tugasmu."


"Siap Bunda aku..."Jeni mencium pipi Kartika sudah berpakaian rapi, lalu menggendong tas rangsel.


"Ayahmu juga pindah dari sini Jen, tetapi... tidak berkumpul dengan kita. Kamu yang sabar dan tenang saja, Ayah sama Bunda akan tetap sayang sama kamu." tutur Kartika. "Ayahmu disini kok, mungkin sekarang sedang mandi, bentar lagi akan mengantar kamu sekolah."


"Oh, jadi Ayah tadi malam bobo disini ya Bun?" Jeni tampak berbinar.


Tok tok tok.


"Jen... sudah siap belum?" tanya Rangga terdengar dari luar.


"Tuh, panjang umur kan... yang kita bicarakan datang," kata Kartika. Ibu dan anak itupun tertawa.

__ADS_1


"Tunggu Yah..." jawab Jeni, langsung membuka pintu diikuti Kartika. "Hati-hati sayang... muach... muach..." Kartika menciumi pipi anaknya.


"Ayah nggak dicium..." ucap Rangga pelan di telinga Kartika, terkekeh sambil berlalu. Langsung diacungi tinju Kartika lantas membuang muka kasar.


Ternyata Rangga pagi ini pun tidak pulang, selesai sarapan, mengantar Jeni. Setelah mengantar anaknya nanti ia berniat ikut membantu Kartika mengangkat barang-barang yang akan dibawa.


"Memang benar? Ayah akan pindah juga?" tanya Jeni, mereka berjalan kehalaman Ruko mendekati motor.


"Iya... sekarang kalian dulu yang pindah, besok baru giliran Ayah" Rangga menjawab seraya memasukkan kunci kesarangnya.


"Tapi Jeni boleh mengantar, Yah? Jeni kan ingin tahu, tempat tinggal Ayah yang baru." Jeni menatap Ayahnya yang sedang starter motor.


"Tentu boleh dong... ajak Bunda, ya..." Rangga tersenyum jika yang mengajak Jeni pasti mau.


******


Di Ruko sebelah, Diana tampak uring-uringan, sambil mengacak-acak baju Rangga. Kamar tidur Rangga yang awalnya rapi menjadi berantakan.


Ia benar-benar marah, ternyata Rangga membuktikan ucapanya. Bahkan tidak pulang dari kemarin siang. Padahal dia rela tidak tidur menunggu Rangga semalaman.


"Brengsek! ternyata dia tidur bersama perempuan itu!" Giginya gemerutuk seperti Singa kelaparan, ingin rasanya melahap siapapun yang ada didekatnya. Ia lantas balik badan setelah Rangga mengendarai motor pergi meninggalkan halaman Ruko.


Mata liarnya menatap dinding terpampang adegan ciuman bibir mesra kedua mempelai walaupun sudah tampak memudar masih tampak nyata, membuat hatinya terbakar.


Ia clingak clinguk mencari sesuatu, lagi-lagi pandanganya menangkap gunting dalam kaleng, campur bersama alat-alat yang lain, pulpen, pensil stabilo.


Gredeewk... kursi ditarik, ia jadikan alat agar bisa mencapai dimana foto dipajang. Benar saja, ia berdiri di atas kursi, tanganya menarik sekuat tenaga bingkai pun terlepas kemudian tergeletak di lantai. Walaupun hampir jatuh karena kursi yang dipijak goyang. Ia lantas berpegangan lemari mengatur nafas.


Bruk. Ia loncat dari kursi memungut bingkai, tertawa puas. Melepas dari cangkangnya. Lantas menggunting dua bingkai foto-foto hingga hancur tak berbentuk.


Waktu masih setengah tujuh pagi, karyawan belum ada yang datang.


Diana turun kebawah berjalan ke pantri, berniat mencari air untuk membasahi lehernya yang terasa kering.


Tidak ada yang bisa diminum di pantri, selain air putih, terpaksa ia meneguknya. Setelah terasa hilang dahaganya ia mendengar derung motor bergegas keluar ia pikir Angga.

__ADS_1


Diana melihat Fajar dan Fadil baru turun dari motor ia menunggunya.


"Hai! kamu! ikut saya?" ucapnya dengan nada perintah.


"Ada apa Mbak?" Fadil menghampiri Diana. Fajar yang masuk belakangan menyusul.


Tanpa bertanya lagi Fadil menurut, mengikuti langkah tamu bosnya, dalam pikiran Fadil.


Buang foto-foto ini!" perintahnya sambil menunjuk bingkai yang berserakan di karpet. Setelah sampai kamar Rangga.


Fadil terperangah menutup mulutnya, kemudian beralih menatap Fajar.


"Ayo cepat! malah pada bengong kalian!" sarkas Diana.


"Ini kenapa dirobek-robek Mbak? nanti bos marah," kilah Fadil. Ketika pindah beberapa bulan yang lalu, Fadil yang memasang bingkai tersebut.


Karena takut menatap mata Diana yang menyeramkan Fadil tidak bicara lagi. Segera memasukkan barang-barang tersebut kedalam karung beras yang ia ambil dari tempat barang rongsokan.


"Ada apa ini?" tanya Angga ketika masuk melihat Fadil membawa karung.


"Pak Angga, foto pernikahan Bapak dirobek-robek sama sepupu Bapak" Fadil menjelaskan.


Angga membuka karung melihat apa yang terjadi. Matanya berubah merah langsung keatas.


"Pergi kamu! dari tempat ini!" usir Rangga dengan emosi yang meluap..


Diana ingin menjawab baru ingin membuka mulut Rangga kembali membentak. "Pergi kataku! jika tidak, saya akan lapor polisi!" Sakartis Angga.


******


Segini dulu ya reader Buna sedang tidak enak badan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2