
Rangga dan Kartika menyusuri jalanan mencari sang buah hati. Namun hingga ashar mereka belum mengetahui jejak Jenita. Mereka melewati masjid yang sedang mengumandangkan adzan. Rangga mengajak Kartika shalat berjamah lalu berdoa memohon kepada Allah, agar Jeni ditempat yang aman.
*******
Disalah satu Mall. Jeni bersama seorang wanita. Ditawari ini dan itu. Tetapi, Jenita tidak mau, dia maunya pulang.
"Tante... Jeni mau pulang, pasti Bunda mencari aku." rengek Jeni, memikirkan Bundanya, pasti sedang bersedih mencarinya.
"Kamu mau ini Nggak? boneka ini lucu loh" Tante itu menyodorkan boneka kucing kecil.
"Jeni bilang nggak mau!" bentak Jeni.
Flashback on
Dipagar sekolah seperti biasa Jeni menunggu Ayahnya menjemput. Ia tertawa gembira bersama teman-teman yang sama-sama menunggu jemputan.
"Haii... kamu yang bernama Jeni ya?" tanya wanita cantik berjongkok di depan Jeni yang masih terhalang pagar.
"Kok Tante tahu nama saya?" tanya Jeni polos.
"Tau dong, aku kan dikasih tau Ayahmu. Ayahmu... hari ini nggak bisa jemput kamu, terus... minta tolong sama Tante, untuk menggantikan Ayah menjemputmu." kata wanita itu meyakinkan.
"Memang Tante kenal Ayah, darimana?" Jeni harus tahu dengan jelas siapa yang akan menjemputnya. Sebab, Bunda pernah bilang, jangan mau dijemput siapapun kecuali, Ayah, Bunda, dan Bude Rumi.
"Tante sekretaris Ayahmu. Yang bertugas mencatat, barang-barang dagangan." bohong wanita itu.
"Nggak mau... biasanya kalau Ayah nggak bisa jemput. Bunda yang menjemput." Jenita membantah.
"Tapi Bunda kamu, sedang mengantarkan pesanan agak jauh. Ayo, sama Tante saja, daripada nanti menunggu sampai sore, terus ada penculik bagaimana?" Wanita itu sedikit menakut nakuti tidak kehabisan akal.
Jeni menimbang-nimbang, otak cerdasnya mulai berpikir. "Jika Tante memang mengenal Ayah sama Bunda, siapa namanya?"
"Hehehe... pinter" wanita itu menoel hidung Jeni. "Ya jelas tahu lah, nama Ayahmu Angga, terus... nama Bunda kamu Kartika."
"Oh ya deh, ayo pulang." Jeni mengalah, mengikuti wanita cantik.
Wanita itu menyeringai licik, menuntun Jeni masuk kedalam mobil. Namun, arahnya tidak menuju Ruko.
"Kok kesini Tante... ini bukan jalanan kerumah Jeni" Jeni mulai curiga. Tetapi Jeni tetap tenang. Jeni tidak seperti anak lain yang gampang menangis jika bukan karena kelewatan.
"Memang Ayahmu, mau memberi surprise, jadi kita bertemu Ayah di suatu tempat" tutur wanita itu.
__ADS_1
Sepanjang jalan mereka ngobrol dan tibalah disalah satu Mall.
"Kok kita kesini Tante?" Jeni mendongak menatap wajah Tante, yang berjalan disampingnya.
"Iya, kita disuruh menunggu disini sama Ayahmu" Wanita itu berdalih.
"Kata Ayahmu, kita disuruh menunggu di restoran ini. Kalau Jeni mau pesan apapun. Tante disuruh membelikan buat kamu." Wanita itu tersenyum, membuat Jeni sedikit lega.
Jeni menurut. Rangga memang selalu menuruti apa yang Jeni inginkan. Namun, karena Jeni sejak kecil di didik hemat oleh Kartika. Jeni tidak pernah minta yang aneh-aneh.
Jeni hanya mengangguk setuju. Ia percaya, Tante ini memang suruhan Ayah. Pasalnya, dia tahu apapun tentang keluarga Jeni.
Jeni tidak minta apa-apa. Wanita itu lalu melambaikan tangan kepada waitress. Memesan makan siang.
"Kamu mau makan apa?" tanya wanita itu menyodorkan buku menu, agar Jeni memilih sendiri.
"Kentucky saja, Tante"
Sambil menunggu makanan, mereka kembali ngobrol. "Jeni... kamu kalau bobok sama siapa?" Wanita itu mulai menyelidik, seraya menyeruput minuman kemasan.
"Sama Bunda" jawab Jeni menatap Tante.
"Oh gitu... berarti kalau tidur bertiga dong?" cecar wanita itu.
Wanita itu, tersenyum puas. Obrolan ditunda karena, pesanan sudah datang. Jeni ambil sepotong kentucky yang bagian paha. Menyocolnya dengan saos, lalu mengigitnya. Ia ulangi lagi hingga satu paha Ayam pun habis.
"Kok Ayah belum datang juga sih Tante... Jangan-jangan... Tante berbohong!" Jeni mulai curiga. Jeni sebenarnya sudah mengantuk, biasanya pulang sekolah setelah makan lalu tidur.
"Oh iya, kita belum kenalan, nama Tante. Diana." Diana mengulurkan tangannya.
Ya. Wanita itu ternyata Diana. Ia sedang mengalihkan, untuk mengulur waktu, agar Jeni tidak cepat minta pulang. Apa tujuan Diana mengajak Jeni ketempat ini hanya Diana yang tahu.
"Diana?" Jeni terkejut.
"Iya, kamu tahu siap Tante?" Diana tetap bersikap ramah.
"Diana... Diana... Diana" Jeni membatin. Menatap Diana, mencoba mengingat-ingat sepertinya nama ini sering ia dengar percakapan Ayah dan Bunda.
"Oh Jeni tahu... jadi Tante yang bernama Diana... wanita yang sudah mengambil Ayah dari Bunda aku!" Jeni menatap Tante jengkel.
"Tante orangnya yang sering membuat Bunda Jeni menangis? TANTE JAHAAATTT...!!" bentak Jeni sambil bertolak pinggang. Semua pengunjung restoran pun menoleh.
__ADS_1
"Tenang cantik... untuk itu... Tante membawa kamu kesini, Tante, mau minta maaf sama kamu!" Diana berusaha menahan diri. Padahal hatinya kesal. Diana mengajak Jeni kembali duduk.
"Jika Jeni mengira, Tante Diana yang sudah mengambil Ayah kamu, kamu salah. Sebenarnya... Bunda kamu yang sudah ambil Ayahmu dari Tante."
"Bohong!" Jeni menatap Diana tidak ada rasa takut. "Sekarang antar saya pulang, pasti Bunda mencari Jeni!" ketus Jeni. Sudah tahu maksud, Diana.
"Iya sebentar... Tante mau bicara sama kamu, setelah Tante selesai bicara... kamu Tante antar pulang." Diana tidak kehilangan akal.
Jeni mendudukan pantatnya kasar, melirik Diana disebelah mlengos kesal. Namun, Jeni masih berpikir positif. Menunggu apa yang akan Diana ceritakan.
"Tante cuma mau bilang, kalau Tante mengandung adik kamu. Jadi... Tante minta, tolong sampaikan kepada Ayahmu. Agar tidak menceraikan Tante." sebenarnya Diana sudah beberapa kali bicara dengan Rangga, bahwa Diana mengandung anaknya. Tetapi, Rangga tidak menghiraukan. Justeru terus melanjutkan rencananya, mengurus perceraianya dikantor agama. Tidak ada cara lain bagi Diana kecuali memanfaatkan Jeni.
"Tante bohong!" Jeni masih kekeh.
Diana berusaha bersabar padahal rasanya ingin menjewer telinga Jeni, jika perlu sampai putus.
"Okay... kamu mau pulang kan? jika kamu mau cepat pulang. Tolong berikan ini kepada Ayahmu, agar Ayahmu jangan menceraikan Tante" Diana menyerahkan hasil UDG.
Jeni berpikir, walaupun dia belum tahu arti isi dalam kertas tersebut. Namun, mendengar pernyataan Diana tentang perceraian diatas. Jeni menyimpulkan bahwa kertas itu akan membuat hubungan kedua orang tuanya hancur.
Jika ia menyerahkan hasil USG. Itu Artinya, Jeni akan berpisah lagi dengan Ayahnya. Jeni tidak mau itu. Ayah Angga hanya miliknya. Jeni kekeh dengan pendiriannya. Hingga waktu menjelang sore, Diana terus membujuk. Jika tidak berhasil Diana akan menggunakan kekerasan.
Flashback off.
"Cepat antar Jeni pulang! jika tidak, Jeni mau memanggil satpam, agar menahan Tante, karena Tante sudah menculik Jeni!" ancam Jeni.
"Kamu mulai berani mengacam Tante!" Diana mulai hilang kesabaran menatap Jeni tajam.
"Siapa takut?!" Jeni menantang.
"Ikut Tante?!" Diana mulai kasar menarik tangan Jeni. Jeni tidak kehilangan akal. Menggigit lengan Diana yang hanya memakai baju lengan pendek.
"Auw..." Diana meringis menatap lenganya, bekas gigitan Jeni hingga memar, lalu melepas tangan Jeni.
Kesempatan ini, tidak disia-siakan Jeni. Digunakan Jeni untuk berlari.
Diana mengejar sampai halaman Mall. Banyak mata yang melihat kejadian itu. Namun, semua hanya menonton, seolah ada syuting film.
Sampai di halaman. Jeni bersembunyi, selap selip di antara mobil yang diparkir rapi.
.
__ADS_1
.