
Terik Matahari tidak lantas membuat Kartika menyerah. Ia menyetop angkutan yang menuju dimana arah Jenita menuntut ilmu.
"Sekolahan minggir ya bang" ucapnya. Setelah mobil berhenti. Kartika jalan menunduk agar tidak kepentok lalu turun dari angkut.
Senyum mengembang saat Kartika turun dari angkutan melihat Jeni sedang menunggu dijemput. Kedua tanganya memegangi pagar.
"Bunda..." seru Jeni.
"Iya sayang..." dengan langkah cepat, Kartika menghampiri Jeni. Mengangguk kepada satpam seraya menuntun Jeni. Menyeberangi jalan lalu kembali naik angkutan.
"Tumben, yang menjemput Jeni Bunda, memang Ayah kemana?" tanya Jeni. Selama sebulan ini memang Rangga yang menjemputnya tanpa absen.
"Memang nggak boleh ya, kalau yang menjemput kamu Bunda." Kartika merangkul pundak anaknya.
"Bukan begitu Bun, biasanya kan Ayah yang menjemput." jawabnya.
"Ayah sedang ada urusan sayang." ucapnya. Angkutan berjalan cepat, tidak lama kemudian sampai didepan Ruko.
Ruko ukuran 40 meter berlantai dua.
Berdiri Papan bertuliskan JENITA BAKERY.
Yang bagian bawah untuk usaha, sedangkan yang atas untuk ditiduri bersama Jeni. Namun kadang Kartika merelakan Jeni tidur dengan Ayahnya diruko sebelah.
"Assalamualaikum..." Jeni mengucap salam.
"Waalaikumsalam" Sekar dan kedua temanya Riri, bersama Evi, sedang mengemas satu roti goreng, pastel isi telur, kroket kentang, ditambah lagi nogosari, memasukan kedalam box.
"Eh sudah pulang cantik?" tanya Sekar tanganya langsung dicium Jeni.
"Sudah Tante" jawabnya, lalu ambil gelas kosong dari rak piring kecil, mengisinya dengan air lalu meneguknya.
"Haus banget kayaknya." Sekar terkekeh melihat Jeni yang sedang minum tampak tergesa-gesa.
"Banget Tante" katanya, sambil tersenyum. Wajar. Sebab, biasanya Jeni dijemput Ayah dengan mobil ber ac atau paling tidak dengan motor.
"Segera cuki kaki, cuci tangan, terus bobok sayang." titah Kartika yang baru masuk kedalam. Sebab, tadi Kartika menyapa sesama pedagang diluar.
__ADS_1
"Sama Bunda ya" rengek Jeni.
"Iya"
"Aku nemenin tidur Jeni dulu ya Se" ucap Kartika berjalan keatas dibelakang Jeni setelah diangguki oleh Sekar.
Kartika mengibas-kibar kasur dengan lidi, menata bantal sambil menunggu Jenita kekamar mandi.
Jeni lantas mengganti pakaian seragam sekolahnya dengan baju yang lucu. Dengan pendingin kipas angin yang dipantulkan ketembok agar tidak mudah masuk angin, yang dipasangkan oleh Rangga, ketika mereka baru pindah dulu. Jeni merebahkan tubuhnya disisi Bunda.
"Bun" kata Jeni tidur miring menatap Kartika.
"Ada apa?" tanya Kartika menyingkirkan poni Jeni yang menutup wajahnya.
"Kenapa sih Bun, kita tidak tinggal satu rumah dengan Ayah? tidur bersama, makan bareng, seperti kak Anisa, atau seperti teman-teman Jeni?" pertanyaan ini yang sering terlontar dari bibir Jeni.
Kartika menarik nafas berat. "Sudah berapa kali Bunda bilang Jen, kamu masih terlalu dini untuk mengerti masalah orang dewasa. Suatu saat nanti jika kamu dewasa, kamu akan mengerti sendiri, dan memahami apa yang Bunda lakukan."
Jeni hanya diam memainkan kancing baju Kartika.
"Yang penting... saat ini kamu tidak kurang kasih sayang dari Bunda, maupun Ayah kan."
"Sudah... kamu sebaiknya bobok ya," Kartika mencium dahi anaknya. Mengusap usap lembut. Tidak lama kemudian, Jeni terlelap.
Setelah memastikan Jeni tidur, Kartika membetulkan posisi Jeni. Meletakan guling disampingnya lalu kembali kebawah.
Kartika melawati Sekar yang belum selesai menata kue untuk pesanan. "Masih banyak Se?"
"Tinggal lima puluh box lagi kok" Riri yang menyahut. Sebab dia yang sedang menghitung sisa kardus.
"Lanjut, masih jam empat kok, diambilnya." pesananan hari ini memang akan diambil jam empat nanti. Sekar yang bagian produksi kue basah dibantu temanya, sedangkan Kartika hanya memantau.
Kartika sendiri bertugas membuat kusus roti.
Kartika Lalu mengangkat roti dalam baskom yang Ia buat sebelum menjemput Jeni tadi. Roti bermacam-macam rasa, ada juga roti tawar. Roti dikemas dengan plastik tebal lalu di pres, bertahan hingga tiga hari, dengan pengawet yang sudah diuji BPOM sehingga tidak berbahaya. Kemasan berlogo Ibu dan anak yang sedang bergandengan dan bertuliskan JENITA BAKERY. Justeru membuat orang penasaran lalu singgah sebentar untuk membeli roti.
Disusunnya roti satu persatu dalam etalase.
__ADS_1
*******
Angga keluar dari garasi bersamaan dengan itu. Diana tampak turun dari mobil, setelah dibukakan pintu oleh supir.
"Rangga... kamu akhirnya pulang." ucapnya seraya mendekati motor Rangga yang sudah menyala. Namun belum berjalan.
"Ga" Diana ingin memeluk Rangga, tetapi dengan cepat Rangga mengangkat tangan agar Diana tidak melakukan itu.
"Aku sudah menjatuhkan talak kepadamu dua kali. Lalu sekarang aku talak kamu yang ketiga, itu artinya... kamu bukan istriku lagi. Kita akan bertemu di pengadilan, agar perceraian kita sah di mata hukum.." Pungkas Rangga, lalu menjalankan motornya yang bunyinya sudah nyaring.
"Rangga..." Diana menahan motor Rangga dari belakang, mau tak mau Rangga berhenti.
"Ga, tolong pikirkan lagi, aku nggak mau pisah sama kamu. Kamu cinta pertamaku, dan akan menjadi yang terakhir." Diana menghadang motor Rangga.
"Tetapi, aku tidak pernah mencintai kamu Diana, bukankah... itu sudah aku katakan sejak dulu pertama kali kamu menjebakku." sebenarnya Angga tidak mau mengingat itu lagi, tetapi jika menatap Diana, bayangan buruk itu kadang melintas.
"Jangan ungkit itu lagi Ga, mari kita perbaiki semua. Aku sudah siap punya anak dari kamu, aku nggak takut lagi perut aku gendut."
"Maaf sekali lagi, minggirlah... aku mau lewat." Angga tetap berbicara pelan. Namun Diana bersi kukuh.
"Mang Diman... tolong suruh minggir bos kamu, saya mau lewat." perintah Angga kepada supir.
"Nona...sudahlah, lebih baik Nona masuk lalu beristirahat." Supir menarik-narik tangan Diana.
"Tidak mau, lepaskan aku."
Begitu ada celah Rangga langsung tancap gas. Rangga melajukan motor, tidak lagi menoleh ke belakang. Suara Diana masih Samar-Samar terdengar. Terdengar pula, Mama Uly yang sedang membujuknya.
Sampai lampu merah samar-samar terdengar Adzan Ashar karena tertutup helm. Rangga menoleh padahal Masjid berada persis di tepi jalan, dimana kini ia berhenti.
Rangga mendorong motor menepi, lalu mencari tempat Parkir. Ia masuk kedalam masjid, ambil air wudhu yang berada di samping kiri Masjid.
Ada beberapa orang yang sudah siap shalat berjamah. Kaki Rangga terasa bergetar, hatinya terketuk. Ia ikut barisan makmum belakang. Kini Ia baru sadar sudah sejak kapan ia tidak pernah menjalankan rukun islam yang kedua ini.
Ia shalat dengan khusyu berserah diri kepada Allah. Kini dia menyadari semua khilaf dan salahnya. Memohon pengampunan kepada sang pemilik alam semesta. Hingga Imam mengucap sallam.
Rangga lalu berdoa, jika masih boleh meminta, dan Allah memberi kesempatan kepadanya untuk bertaubat. Ia bertekat ingin menjadi Iman yang baik untuk anak dan istrinya. Selesai sholat, Rangga keluar dengan hati yang agak tenang.
__ADS_1
.
.