
Jenita berlari ketempat parkir bersembunyi dibelakang mobil. Mata bening itu melihat kearah Diana. Yang tampak kebingungan mencari dirinya.
Kaki Jeni bergetar saat Diana melangkah kearahnya. "Ya Allah...lindungi hambamu." Jeni berjalan pelan sambil menunduk, menjauh dari Diana.
"Hai... bocah! kenapa kamu clingak clinguk mau mencuri ya!" sergah satpam.
Jeni terperangah menatap satpam. "Seeettt... Pak satpam, tolong diam, saya sedang ngumpet ada yang mau menculik." bicara pelan sambil menutup mulutnya dengan telunjuk.
"Yang benar kamu, mana orangnya?" tanya satpam memelankan suaranya.
"Itu... wanita yang pakai baju merah." bisiknya sambil menunjuk menyembulkan sedikit kepalanya dari belakang mobil.
Satpam pun percaya, mendekati Diana yang terlihat oleh satpam sedang mencari seseorang. "Mbak mau mencari siapa?" satpam pura-pura tidak tahu.
"Saya sedang mencari anak saya, dia perempuan kira-kita tingginya segini" Diana menunjukkan ciri-ciri Jeni.
Satpam hanya bingung entah siapa yang mau dipercaya. Satpam menoleh Jeni yang masih bersembunyi dari kejauhan. Jeni memberi isyarat dengan telapak tangan seolah bilang. "Jangan percaya."
"Bapak melihat nggak? anaknya putih, matanya bulat. hidungnya mancung." tutur Diana.
Satpam menatap Diana lekat, satpam berpikir kebanyakan para ibu-ibu jika kehilangan anaknya pasti, panik, sedih, kebingungan. Tetapi Diana tidak menunjukan itu. Satpam menarik kesimpulan jika wanita didepanya ini memang penculik seperti yang dikatakan anak kecil tadi.
Satpam mengawasi gerak gerik Diana tampak sedang telepon seseorang. Satpam menguping pembicaraaan Diana didalam telepon
(....)
Diana: "Hallo! ada tugas untuk kamu,"
(....)
"Sekarang! temui aku di depan Mall"
(....)
Diana langsung menutup telepon.
Satpam semakin yakin, bahwa yang dikatakan anak kecil tadi benar. Satpam mencatat nomor mobil yang saat ini untuk bersandar Diana.
Saat Diana sedang telepon, Jenita berjalan mundur secepatnya ia masuk kedalam mobil bak yang di tutup terpal diatasnya. Namun masih ada celah bagian belakang yakni tidak semuanya diikat. Jeni kemudian naik, masuk kedalam. "Ini sepertinya aman." monolog Jeni.
Didalam mobil yang gelap Jenita meraba-raba terdapat tumpukan karung-karung entah apa isinya. Jenita mencari tempat yang nyaman untuk bersandar.
Ia tiduran diatas karung yang menonjol-nonjol bagian atasnya. Memang tidak enak sih, tetapi masih lebih enak daripada ditangkap oleh Diana. Tidak kurang akal Jeni berbantalkan tas sekolah. "Ah lumayan... " ia bergumam.
Rasa lelah, letih, ngantuk, menyerang bersamaan. Jenipun akhinya tertidur.
Ada seorang pria yang masih muda masuk kedalam mobil bak tersebut. Pria yang berperawakan kurus entah siapa namanya itu ternyata supir mobil tersebut. Ia baru selesai dari toilet sebentar.
__ADS_1
Mobil berjalan tanpa Jenita tahu, hingga menjelang magrib, mobil sampai dirumah sang pemilik. Supir turun dari mobil lalu memanggil tiga rekan kerjanya agar membantu menurunkan barang-barang.
"Baru sampai Man?" tanya seorang Ibu muda, yang berperawakan langsing berjilbab rapi berdiri di teras sedang menunggu suaminya pulang, sambil menggandeng anaknya yang seusia dengan Jenita.
"Sudah Bu, jalanan macet banget tadi." sahut Parman.
"Men, bantu buka terpal" kata Parman, kepada Parmen bersama kedua temanya, yang lari tergopoh-gopoh dari belakang.
"Nggak usah lari-lari Men, santai saja" titah ibu itu.
"Iya Bu, keburu magrib." sahut Parmen, dan hanya diangguki oleh Ibu muda.
Parmen kemudian membuka tali terpal yang mengait diantara sisi kiri dan kanan. Setelah berhasil Parmen menyibak terpal tersebut.
"Parman... astagfirrullah... anak siapa ini? kamu nyulik anak orang ya?!" tuduh Parmen melihat Jeni yang masih terlelap.
"Apa maksudnya?" Parman yang masih di depan mobil segera berlari kebelakang.
"Hah?! anak siapa ini?" Parman membelalakkan mata, menutup mulutnya. Parman, Parmen dan kedua orang temanya mengerubungi mobil menatap anak SD yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap. Walapun baju putihnya terillihat kotor.
"Ada apa?" Ibu muda itu ikut turun dari teras melongok mobil.
"Ya Allah... cepat kalian angkat anak ini bawa kedalam." titah Ibu itu.
"Baik Bu"
"Nak, nak. Bangun nak" Ibu itu mengusap-usap pipi Jeni. Jeni mengerjapkan mata mengerling ke sekeliling masih tampak bingung. Tidak banyak bicara Parman mengangkat tubuh Jeni dan mendudukan dilantai teras.
"Saya dimana ini?" tanya Jeni mengucek mata.
"Kamu dirumah kami nak" Ibu itu menelisik wajah Jeni, tampak familiar.
"Man, tolong bilang Bibi, suruh buatkan susu ya." titah Ibu.
"Baik Bu" Parman segera kedapur tidak perlu minta tolong Bibi, ia membuat susu yang biasa Hanifah minum, tidak lama kemudian kembali lagi.
"Ini diminum dek," Parman memberikan gelas. Jeni minum susu hangat itu sedikit demi sedikit lalu meletakkan disampingnya.
"Sebaikanya kita kedalam saja, sudah adzan maghrib." titah Ibu muda.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Seorang Bapak berusia 35 tahun masuk kedalam setelah melepas sepatu. Ibu muda itu menyambut dengan senyuman lalu cium pipi kiri dan kanan.
"Ada apa Lin?" tanya Bapak itu melihat karyawannya berkumpul diruang tamu tidak biasanya.
__ADS_1
Linda ambil tas dari tangan suaminya, lalu mereka masuk kedalam. Linda menceritakan kepada Suaminya.
"Om, tolong antar saya pulang. Pasti, Bunda kebingungan mencari aku." Jeni menarik-narik tangan Parman.
"Rumah kamu dimana?" tanya Bapak yang berprofesi sebagai rektor disalah satu perguruan tinggi itu, berjongkok didepan Jeni.
"Saya lupa Om." Jeni menyahut sambil menggeleng.
"Ya, sudah... sebaiknya kamu mandi dulu ya." titah Pak Dosen.
"Betul, setelah mandi, makan, nanti kita bicarakan ya nak" Linda menimpali.
"Baik Om, Tante"
"Fah, ajak mandi dikamar kamu, terus... diberi ganti baju, punya kamu ya." titah Linda.
"Iya Ma"
"Ayo" Hanifah membangunkan Jeni lalu diajak kelantai atas kekamar Hanifah.
"Kamu mandi dulu, tapi tunggu, saya ambil baju ganti buat kamu." Hanifah membuka lemari ambil baju yang belum pernah ia pakai. "Ini bajunya, tapi kita belum kenalan, nama kamu siapa?" tanya Hanifah mengansungkan tangan.
"Aku Jenita"
"Aku Hanifah."
Setelah berkenalan, Jeni di antar Hanifah masuk kekamar mandi. Ia membuka seragam sekolahnya lalu melipat. Baju putihnya kotor mungkin karena tidur ditumpukan karung tadi. Jeni celingukan mencari bak mandi tetapi tidak ada.
Sebab, jika dirumah Bude Rum, maupun diruko, jika mandi memakai air di bak, lalu diciduk pakai gayung.
Tapi dikamar mandi Hanifah, tidak ada apapun selain kran dan ember kecil.
Jeni mencoba memutar kran yang terletak di atas. "Oh air nya hangat" gumamnya. Jeni belum tau, ternyata ia mandi dengan air shower.
Sementara yang diruang tamu membubarkan diri. Parman, dan Parmen menurunkan barang dengan cepat. Sebab, hampir jam tujuh mereka keburu mau shalat. Barang didalam mobil tersebut berupa kentang, jagung, ubi, dan singkong bahan untuk membuat makanan ringan yang baru Parman beli dari pasar induk.
(Jika baca dari atas tanpa skip pasti tahu siapa pengusaha ini)
*******
Dirumah Mbak Rum, diselimuti kabut tebal seiring berderainya air mata, karena terlalu lama menangis pandangannya menjadi buram. Para wanita sejak siang tadi hingga malam. Yakni, Kartika, Rumi dan juga Nisa. Telah kehilangan orang yang mereka sayang. Hingga kini waktu berganti malam tidak ada kabar berita.
Terutama Kartika separuh nyawanya terasa hilang. Sejak siang tadi setelah tidak menemukan Jeni. Ia tidak melakukan apapun selain menangis.
Hanya Sekar, Riri, dan Evi yang menghibur, sampai mereka rela tidak pulang demi sahabatnya berniat menginap dirumah Mbak Rum.
Sementara, Angga dan Aldi berkeliling mencari Jeni.
__ADS_1
.
.