Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 28


__ADS_3

Kartika masih membaca curahan hati Rangga. Ia bersandar meninggikan bantal mencari posisi nyaman.


Rangga; "Kadang manusia bertindak tidak berpikir, memilih sesuatu yang salah. Hingga membuatnya merugi, nyatanya telah menukar emas yang indah, dengan logam berkarat"


"Kadang orang berpikir harta adalah puncak kebahagian. Ternyata semua itu hanya semu, sejatinya berkumpul dengan keluarga dan saling menyayangi itulah yang akan membuat tenang"


Kartika masih menggeser bait-bait kata yang ditulis Rangga hingga hp yang ia pegang bergetar. Kartika melihat nama yang tertera, tetapi tidak mengenal


Kartika membiarkan saja justeru menarik selimut melihat jam dinding sudah jam sepuluh. Namun telepon terus berdering mau tak mau ia mengangkat walaupun dengan nada kesal.


"Assalamualaikum"


Orang yang telepon itu justeru diam, padahal masih aktif.


"Hallo... siapa ini? jika tidak ada kepentingan saya tutup ya. Maaf, sudah malam."


"Tik, tolong jangan di tutup." suara familiar itu ternyata Rangga. Waktu Rangga mengirim pesan pertama dulu Kartika tidak berniat menyimpan nomor tersebut. Ia pikir ngapain? toh Rangga sudah menikah lagi.


"Ngapain, malam-malam telepon? saya mau tidur, lagian dapat nomer saya darimana?"


"Tik, sebentar, aku minta waktu lima menit saja, aku lihat nomor kamu dari data karyawan di meja kerja Devan."


"Ada keperluan apa?" tanya Kartika cepat.


"Besok kan hari Minggu, kita ajak Jeni jalan-jalan, bagaiman?"


"Nggak tau, bagaimana besok saja!" tut.


Kartika memutuskan sambungan telepon sepihak, kemudian tidur.


******


Gelap berganti terang. Matahari pagi di balik cakrawala perlahan menyinari dunia.


Kartika sedang membuat sarapan didapur. "Bikin sarapan apa Tik?" Rumi melihat Kartika sedang menggoreng sesuatu.


"Pisang goreng Mbak, anak-anak sudah aku buatkan roti sama susu."


"Oh aku yang bikin teh ya"


"Terserah Mbak Rum saja. Oh iya, Mbak. Besok aku mau jualan saja ya"

__ADS_1


"Jualan, jualan apa?" tanya Rumi menunda membuat teh menatap adiknya.


"Aku mau jualan roti sama kue saja Mbak, pakai sepeda, terus di masukin kedalam rinjing. Itu kan Mbak punya rinjing" Kartika menunjuk rinjing yang digantung.


"Yakin Tik, kamu mau jualan keliling?" Rumi tampak tidak mengizinkan. Kasihan adiknya harus berjualan keliling.


"Yakin Mbak, daripada mencari pekerjaan susah, aku mau coba jualan saja, keliling komplek."


"Kenapa sih Tik, kamu nggak menerima nafkah dari Angga saja."


"Awalnya Mbak memang benci dengan anak itu, tapi sepertinya dia sungguh-sungguh ingin kembali kepadamu."


Kartika menggeleng cepat. "Selama Angga masih menafkahi aku dari uang istrinya, aku nggak akan terima Mbak. Aku bukan munafik. Tetapi, perkataan Diana tempo hari membuat aku terluka." tutur Kartika sambil mengangkat pisang dari penggorengan.


"Memang bilang apa Diana? Rangga kan bukan hanya onkang-ongkang kaki, dia ikut mengembangakan usaha Papanya."


"Diana bilang selama ini Rangga menafkahi aku dengan menjual diri kepadanya." Kartika menyeka air mata yang menggenang ingat perkataan Diana. "Padahal Mbak kan tahu, selama tujuh tahun, kapan Rangga pernah memberi jajan buat anaknya, enggak kan?"


"Astagfirrullah..." Arumi menutup mulutnya."Kalau kamu maunya begitu... bicarakan berdua Tik, terus cepat ceritakan sama Jeni, bahwa pria yang dipanggil Om ganteng selama ini adalah Ayahnya."


"Iya Mbak, tapi aku takut, takut jika Jeni mengetahui Rangga itu Ayahnya. Lantas, Jeni ingin tinggal sama dia, bagaiman? aku nggak mau kehilangan Jeni." Kartika mengusap air mata dipipinya.


"Jangan berpikir terlalu jauh Tik, Mbak yakin... Rangga nggak seegois itu,"


"Sudah ah, kamu malah ngelantur!" pungkas Rumi. Rumi sebenarnya ikut kepikiran kata-kata Kartika tetapi ia berusaha tenang.


"Besok aku mulai jualan ya Mbak. Boleh ya" rengek Kartika. Kembali kepembicaraan awal.


"Mbak terserah kamu saja Tik, yang penting kamu jangan terlalu lelah ya. Maaf, Mbak nggak bisa bantu kamu. Kalau saja Mbak punya tabungan, pasti kamu aku pinjami uang untuk menyewa kios biar nggak terlalu capek." sesal Rumi tidak bisa membantu adiknya.


Aldi sebagai karyawan biasa dikantor, gajinya cukup buat kebutuhan sehari-hari dan juga untuk menyicil rumah. Rumi sudah sangat bersyukur.


"Nggak apa-apa Mbak, doakan saja lancar ya, dengan jualan kue, nggak terlalu banyak modal Mbak. Paling hanya butuh bahan kue, dan box."


Sarapan pun sudah matang, mereka segera menyiapkan di meja. Kartika lalu memanggil Jeni yang masih di kamar.


"Jeni... let's have breakfast first."


"Okay... Bunda."


Kartika membuka pintu kamar melihat Jeni sedang bermain boneka kelinci pemberian Rangga.

__ADS_1


"Ma-- maaf Bun, tadi ada telepon berkali-kali terus... Jeni angkat." Jeni menjawab terbata takut dimarahi Kartika, karena sudah lancang mengangkat telepon.


"Hehehe... kamu ini kok ketakutan begitu, sih... memang Bunda monster apa?" Kartika mencubit pelan pipi Jeni yang merah gemas.


"Kirain Bunda marah"


"Terus siapa yang telepon?" Kartika duduk di samping Jeni.


"Oh iya Bun" Jeni mendekati Kartika tangan kecil itu menggenggam tangan Bunda. Ingin bicara tapi ditahan.


"Nah, Nah. Pasti kalau lagi begini ada maunya ini? mau apa?" Kartika menatap raut wajah Jeni terlihat memohon sebelum berucap menjadi gemas.


"Yang telepon tadi, sebenarnya Om ganteng Bun, terus... katanya mau ajak kita jalan-jalan, kita ikut ya Bun." Jeni menempel kan tangan Bunda ke pipi.


"Mau jalan-jalan kemana katanya?" tanya Kartika, suaminya itu gagal mendekatinya lalu gigih membujuk Jeni.


"Kata Om mau ajak naik wahana Bun. Please Bun, Jeni mau ikut." Jeni menggoyang tangan Kartika.


"Boleh... memang kenapa nggak boleh ikut" sahut Kartika enteng.


"Tapi sama Bunda, kalau sendiri Jeni nggak mau," mulutnya menyon-menyon tampak lucu.


Kartika terkekeh. "Boleh" satu kata darinya.


Membuat Jeni kegirangan.


"Yes!" Jeni mengangkat tangan keatas, lalu menariknya ke belakang.


"Sekarang kita sarapan dulu, Bunda sudah membuat roti isi coklat, kesukaan kamu loh."


Kartika menggandeng tangan Jeni menuju meja makan. Ia terkejut melihat Rangga yang sedang ngobrol bersama Aldi dan Rumi. Kartika berhenti berdiri tidak jauh dari meja makan.


Rangga menoleh tersenyum, memandangi Kartika yang sudah cantik selesai merias wajahnya tipis-tipis. Keduanya saling pandang. Dag dig dug der, terasa berdetam dada Angga. Rasanya jatuh cinta yang kedua kali kepada istrinya. "Andai... tidak ada Diana diantara kami." batinnya.


Rumi dan Aldi saling pandang keduanya pun terkekeh.


"Horee... Om ganteng sudah sampai..." Seru Jeni membuat keduanya beralih menatap Jeni. Jeni langsung duduk di pangkuan Angga, setelah mencium punggung tangannya.


"Om ganteng sudah lama?" Jeni mendongak.


"Kira-kira sepuluh menit" sahut Rangga menyugar poni Jeni yang menutup mata.

__ADS_1


"Bunda kesini... masa berdiri disitu terus" Jeni melambaikan tangan.


"Iya, iya." Kartika bergabung.


__ADS_2