
Keributan mewarnai kamar Angga. Saling sahut, saling ancam, saling tuding. Walaupun pada akhirnya Angga yang selalu kalah dan mengalah.
"Retno" panggil Angga ia tampak masih berwajah muram habis bertengkar, lalu kebawah meninggalkan Diana.
"Saya Pak." Retno yang sedang membersihkan dagangan berupa elektronik, meletakkan kemoceng yang ia pegang.
"Tolong, rapikan baju-baju saya masukkan kedalam tas ya"
"Baik Pak"
"Dan kalian, Fajar, Fadil. Kita kemasi barang-barang karena kita akan pindah hari ini." tegas Angga.
"Baik Pak" tanpa banyak bertanya. Mereka berkemas. Fajar dan Fadil tahu, Pak Rangga ingin pindah cepat pasti alasanya wanita sinting itu menurut mereka. Padahal, rencana masih lusa karena ingin membantu Kartika dulu.
"Tik, bagaiman kalau kamu pindahnya besok saja," saran Angga. Setelah memerintah anak buahnya tadi langsung menemui Kartika.
"Loh, nggak bisa Mas, soalnya Linda sudah otw kesini mau mengirimkan mobil bak untuk mengangkut barang-barang," terang Kartika.
"Oh jadi kamu dibantu Linda?" tanya Angga merasa lega, maksud Angga jika Kartika pindah hari ini Angga tidak bisa membantu.
"Iya, memang kenapa?" Kartika menatap Rangga yang sedang muram.
"Aku terpaksa harus pindah hari ini Tik, aku nggak mau lama-lama melihat Diana lebih baik menyingkir. Tapi aku tidak bisa membantu kamu." Sesal Rangga.
"Oh, kalau alasanya hanya itu... jangan dipikirkan Mas, sudah ada Linda sama teman-teman kok." Kartika yang sedang mengepak barang-barang dibantu, Sekar, Riri dan Evi sudah hampir selesai.
"Ya sudah, aku mau pesan mobil box dulu, untuk mengangkut elektronik." Rangga lalu membuka handphone mencari jasa pengangkut barang.
******
Di kamar Rangga, jika tadi Angga dan Diana bersi tegang. Sekarang Diana dan Retno. Retno masuk kedalam kamar Rangga tanpa permisi, langsung membuka lemari memasukan pakaian Pak Rangga kedalam koper, dan tas.
"Mau kamu kemana kan baju Rangga?!" Sarkas Diana.
"Mau dimasukkan ke dalam koper, Mbak," Retno menyahut enteng.
"Nggak boleh! jangan lancang." Diana semakin marah. Sebab Retno tidak menggubris terus mengepak baju. Setelah rapi minta Fadil dan Fajar mengangkut tas dan koper.
Fadil dan Fajar membawa pakaian ke tempat Kartika dulu sesuai perintah Angga. Tanpa menghiraukan Diana yang sedang teriak-teriak.
Lagi-lagi Diana dibuat emosi mengintai dari Jendela pakaian Rangga dibawa ketempat Kartika. "Brengsek! perempuan itu lagi!" umpatnya.
Belum hilang rasa jengkelnya. Fadil dan Fajar membawa dua orang kernet dan supir mobil box. Mereka menggotong lemari pakaian milik Angga, lalu menurunkan pakaian Diana kelantai.
"Hai! kurang ajar, sekali kalian?!" Diana kembali mengeluarkan sumpah serapah. Sambil menghalang-halangi langkah empat pria yang sedang sudah payah menggotong lemari.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" tanya Supir karena belum tahu siapa Diana, agak ragu-ragu.
"Jangan hiraukan, Bang" kata Fadil dan Fajar bersamaan. "Minggir Mbak! jika tidak cepat minggir, jangan salahkan kami, jika Anda, sampai tergelincir kebawah!" Pungkas Fadil.
"Brengsek kalian." berkali-kali Diana berucap begitu.
Tiga mobil box pun, membawa barang dagangan milik Rangga, bersama tiga karyawan. Sedangkan Rangga mengendarai motor. Rangga sengaja mengganti nomor ponsel agar tidak dilacak oleh Diana.
Hanya tinggal Diana sendiri di Ruko itu, entah apa yang dia lakukan. Meratapi nasib kah? Atau... menangis kejer tidak ada yang tahu.
*******
Begitu juga dengan Kartika, mobil bak terbuka yang di kendarai Parman dan Parmen sudah menuju Ruko yang baru. Tidak banyak barang yang diangkat milik Kartika. Selain etalase, tempat tidur dan juga lemari.
Sedangkan Kartika DKK, ikut naik mobil milik Linda yang di kendarai Linda sendiri.
"Jeni..." seru Hanifah ketika melihat Jeni pulang sekolah berjalan kaki langsung menyambut.
"Hani... kamu disini?" kedua anak SD itupun saling menghambur.
"Iya, aku ikut Mama, bantuin Bunda kamu pindahan" tutur Hani.
"Kamu enak ya, sekolahnya dekat dengan tempat tinggalmu"
"Iya, mulai malam nanti, aku sudah mulai bobok disini," mereka berceloteh mendekati Kartika yang sedang membantu membereskan barang-barang di Ruko.
"Waalaikumsalam" jawabnya bersamaan.
"Hai Jeni... kamu semakin cantik" Tante menoel dagu Jeni.
"Perempuan, Tante..." Jawab Jeni semua yang berada di situ pun tetawa.
"Hani diajak ke kontrakan saja Jen, kalian istirahat," titah Kartika.
"Baik, Bun" Jeni mengajak Hani masuk kedalam kontrakan. "Assalamualaikum... ucap Hani langsung dijawab Jeni.
Mereka mengobrol panjang lebar, setelah Jeni ganti pakaian. Tidak lama kemudian... Kartika dan rombongan pun datang.
"Ayo kita makan dulu" Kartika menggelar tikar di halaman depan kontrakan di bawah pepohonan, waupun agak terik matahari, tidak terasa.
"Waah... enak banget Ya Tik, biasanya sudah jarang loh di Jakarta ada tempat teduh seperti ini," Linda berdecak kagum.
"Ini salah satunya Lin, mengapa begitu melihat kontrakan ini, walaupun sederhana tetapi aku langsung suka." tutur Kartika sambil menyodorkan nasi padang satu persatu yang sudah dibungkus.
"Aku panggil Pok Riah dulu ya" Kartika ingin memanggil pemilik kontrakan ingin mengajaknya makan siang bersama.
__ADS_1
"Aku saja yang panggil Tik" kata Sekar kemudian memanggil Pok Juriah tidak lama kemudian beliau bergabung.
"Pok Juriah... maaf, kami makan disini tidak izin dulu" kata Kartika.
"Tenang saja Mbak Tika, anggap ini rumah sendiri," sahut Pok Juriah jujur.
"Mari, mari Pok, bergabung sini" Kartika memperkenalkan yang berada disitu satu persatu kepada Pok Juriah. Kemudian makan bersama.
Selesai makan semua tiduran disitu dengan tikar, hingga semilir angin sore menerpa serasa enggan untuk berlalu. Parman dan Parmen pun sampai terlelap rupanya dia kelelahan.
"Man, Men, bangun... kalian minum kopi dulu terus kita pulang" kata Linda.
Mereka pun bangun meminum kopi yang di buatkan Sekar. Sedangkan yang lain minum kelapa muda. Kebetulan suami Pok Juriah menjual ic kelapa di pinggir jalan.
Setelah ashar mereka membubarkan diri, tinggal Kartika dan Jeni. Mereka lantas merebahkan tubuhnya. Jeni langsung terlelap. Kartika tersenyum menatap Jeni belum ada lima menit berceloteh tentang banyak hal menceritakan pengalaman hari ini langsung tidur.
Kartika pun merasa lega di tempat ini semoga tidak akan diganggu lagi oleh Diana. Sudah terlalu rumit perjalan hidupnya, Kartila lalu bangun bergegas ke dapur.
*******
Sebelum magrib, Kartika sudah selesai memasak. Biasanya, jika sedang produksi kue dan roti dia hanya membeli matang. Tak jarang juga Sekar yang memasak. Kartika lantas mandi, seharian bekerja keras ingin segera mandi lalu makan.
Tok tok tok.
Terdengar suara pintu di ketuk, Jeni yang sudah santai, selesai mandi membukanya.
Ceklak.
"Ayah..." seru Jeni melihat Ayahnya datang. Langsung memanggil Kartika. "Bunda... ada Ayah..."
Kartika yang baru selesai mandi pun segera keluar.
"Kalian sudah makan belum? aku beli ikan bakar" ucap Rangga mengangkat kantong plastik ditanganya.
"Belum" Jeni yang menjawab.
"Aku juga baru selesai memasak sih," kata Kartika.
"Keluarin ya... aku kangen makan, masakan kamu," tersenyum senang.
"Ya... tapi. Aku mau shalat dulu." Kartika kembali kebelakang.
"Tunggu, Tik. Kita shalat berjamaah ya?" Angga segera mengajak Jeni wudu. Setelah Kartika mengiyakan.
Merekapun shalat berjamaah yang sudah beberapa tahun mereka lewatkan.
__ADS_1
.
.