Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 50


__ADS_3

Perjalanan dari Kota T menuju Jakarta ditempuh Parman kurang lebih satu jam. Jam enam pagi Rombongan Pak Dosen sampai sekolah Jeni. Dengan mengikuti gps tidak sulit bagi Parman. Sampai tujuan, sekolah masih sepi hanya ada cleaning service yang sedang menyapu halaman.


"Kalau sudah sampai sini, Jeni tahu jalan pulang Om." kata Jeni kepada Pak Dosen yang awalnya ingin bertanya kepada cleaning service. Pak Dosen mengurungkan niatnya.


"Oh gitu... sekarang lebih baik, kita langsung kerumah kamu saja." usul Om.


Mereka masuk kedalam mobil kemudian Parman melanjutkan perjalanan.


*******


"Hiks hiks hiks... Jeni kemana Mas? kita lapor polisi saja, agar cepat menemukan anak kita."


Kartika semalaman sama sekali tidak tidur, hanya merintih, menangis, menyebut nama Jeni.


"Iya... nanti aku berangkat, tapi kamu harus makan ini dulu, sudah dari kemarin loh, kamu nggak makan apa-apa." Rangga menyodorkan sendok, ingin menyuapi bubur kacang hijau yang dibuat Sekar. Tetapi Kartika mendorong pelan tangan Angga.


"Bagaimana mau makan Mas, Jeni pasti di luar sana kelaparan, kedinginan." Kartika menjatuhkan dahinya di atas meja makan berbatalkan tangan. Pikiranya benar-benar kacau.


Ia berpikir Jeni jalan terlunta-lunta dan tidak tahu arah jalan pulang.


Atau disekap penculik, dengan tangan terikat, di acungi pisau. Tangisnya kembali pecah.


"Tika... tidak hanya kamu yang merasakan sedih aku juga sama. Tetapi... jika kita begini terus... kita justeru akan sakit" Nasehat Angga disampingnya sambil mengelus-elus bahu Kartika.


"Kalau kita sakit, terus nggak bisa bangun, bagaimana kita akan mencari anak kita." imbuh Angga.


"Benar apa yang di katakan Rangga Tik, sebaiknya kamu mandi, terus sarapan. Nanti kita jalan mencari Jeni ke sekolah." kata Rumi sambil menyusun sarapan pagi.


Kartika tidak menyahut dengan langah yang tidak semangat. Ia ambil handuk yang tersampir di jemuran.


Angga menatap sendu langkah Kartika hingga masuk ke kamar mandi.


"Bagaimana langkah kita selanjutnya Ga?" tanya Aldi yang baru selesai mandi, hari ini sudah izin tidak masuk kerja. Ingin mencari keponakanya.


"Nanti aku akan lapor polisi Mas, disamping itu aku juga akan mencari Jeni." sahutnya lemas.


"Ya sudah... kita mencarinya berpencar, saja. Saling cooling Ga, jika ada invo langsung saling mengabari." kata Aldi.


"Iya Mas Aldi" jawab Angga.


"Sebaiknya kita pulang dulu Mas, kok feling aku Jeni ada di depan Ruko ya." kata Kartika sudah selesai mandi tampak wajahnya sedikit tenang.


Angga, Aldi, Arumi, saling pandang. Tetapi Angga cepat berdiri selagi mood istrinya baik. Angga yang sudah rapi mengeluarkan motornya. Kemudian kembali kedalam memanggil Kartika.


Kartika masih di kamar, kali ini dia sudah mau menyisir rambut, mau memakai bedak tipis tidak seperti kemarin seperti mayat hidup.

__ADS_1


Tok tok tok


Ceklak.


Kartika membuka pintu, ternyata suaminya yang mengetuk.


"Sudah siap?" tanya Angga menatap Kartika sudah mulai agak tenang. Angga mengulum senyum.


"Sudah" ucapnya. Lalu keluar dari kamar di ikuti Angga. "Kok sepi, pada kemana?" tanya Kartika melintas di meja makan memang sepi.


Mbak Rum katanya mencari sayur, kalau Mas Aldi mengantarkan Anisa ke sekolah" jawab Angga sambil starter motor.


"Pegangan yang kencang ya" Ucap Angga setelah di atas motor. Kali ini Kartika seperti di dorong hasrat ingin pulang ke Ruko. Mungkin kontak batin dengan sang anak yang kuat.


Motor di parkir didepan Ruko, mata Kartika tak lepas menatap pintu yang terbuka, memang sih hari ini ketiga karyawan Kartika sedang membuat pesanan.


Sebenarnya Kartika minta Sekar untuk menolak semua pesanan, sebelum Jeni di temukan. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Sekar. Maka Sekar nekat menerima pesanan tanpa seizin pemilik yaitu Kartika. Hanya diam menunggu Jeni, tanpa melakukan apapun justeru malah membuat Sekar ikut stres.


"Kok Sekar malah membuka Toko sih! cek" Kartika berdecak kesal.


"Biar saja, tadi setelah membuat bubur kacang hijau, Sekar izin aku ingin buka, pusing kepala katanya." terang Angga.


Kartika tidak tahu bahwa didalam Ruko sedang ada tamu yang sedang menikmati kudapan yang di suguhkan Sekar. Maklum, Linda tadi pagi belum sempat sarapan sama sekali.


"Tante telepon Bunda dulu ya" Ucap Sekar kepada Jeni, berniat menghubungi Kartika. Namun suara motor Angga terdengar nyaring.


"AYAH... BUNDA..." Jeni berlari mendekati orang tuanya sambil berteriak.


"JENI..." Kartika menjatuhkan helm yang belum sempat tersangkut. Langsung menghambur memeluk anak yang dirindukan.


"Hiks hiks hiks, kamu kemana nak... Bunda sedih tahu nggak!" Ketiganya berpelukan seperti Tingki Wingky, Lala, Vo.


"Jeni nggak apa-apa Ayah... Bunda... nanti Jeni cerita sama Bunda," Jeni mengusap air mata Bunda yang berjongkok di depan Jeni. "Lihat! Jeni sehat kan?" Jeni berlagak seperti tokoh kartun kuat yang sering Jeni tonton.


"Kamu sama siapa nak?" tanya Angga menatap mobil yang di parkir.


Tidak mereka sadari. Bahwa Linda, Pak Dos, Parman, sedang terharu menyaksikan pertemuan Orang tua dan anak itu tanpa mereka sadari, hanya terlihat dari samping.


"Assalamualaikum... " Linda mengucap salam, lantas Kartika menoleh.


"Waalaikumsalam... " Angga yang menjawab.


"KARTIKA..."


"LINDA..."

__ADS_1


Kedua sahabat SMK itupun saling menghambur. "Kenapa, anakku bisa bersama kamu Lin?" tanya Kartika melepas pelukan. Tidak disangka, Jeni bisa bersamanya.


"Ceritanya panjang" sahut Linda.


Sementara Angga dan Pak Dos yang tidak begitu saling mengenal berjabat tangan.


"Mari, mari. Masuk Mas." Mereka masuk kedalam Ruko.


"Maaf Lin, tempatnya sempit begini." ucap Kartika sambil menyingkirkan dua kursi yang biasa digunakan Riri dan Evi untuk menjaga dagangan roti didepan etalase.


Sedangkan Rangga bersama Pak Dos, berbincang akrab, entah apa yang mereka bicarakan.


"Tenang saja Tik, kamu jangan sibuk, kita ngobrol mumpung bertemu." kata Linda.


"Mam, mam..." Rifka mengoceh di pangkuan Linda.


"Ini anak kedua mu, ya Lin? lucu banget..." Kartika mencolek-colek pipi Rifka gemas.


"Ayah... Bunda... nanti Jeni minta adik ya..." ucap Jeni polos. Langsung disambut gelak tawa Linda dan Pak Dos.


Sedangkan Rangga tersenyum kecut, menatap Kartika yang tidak ada reaksi apapun.


"Jeni... Mbak ajak kekamar gih, biar dedeknya bisa bermain bebas." Kartika mengalihkan.


"Oh iya, ayo Mbak... dedek Rifka di ajak kekamar Jeni" Jeni mengajak pengasuh. Pengasuh menatap Linda minta persetujuan. Setelah diangguki mereka kelantai dua.


"Linda, tolong ceritakan, kenapa Jeni bisa bersama kamu?" Kartika mengulangi pertanyaan.


"Iya Mas, kok bisa kebetulan begini?" sambung Angga kepada Pak Dos.


Linda menceritakan dengan detail kejadian yang dialami Jeni, hingga sampai kerumahnya.


"Ya Allah... terus siapa perempuan yang menculik Jeni itu?" Kartika berkaca-kaca.


"Itu yang kami tidak ketahui Mbak Kartika, jika Jeni sudah beristirahat nanti... tanyakan, mungkin Jeni ingat ciri-ciri wanita penculik itu." saran Pak Dos.


"Apapun itu... saya banyak terimakasih Mas, ternyata Jeni bisa bertemu orang baik seperti keluarga Mas Dosen."


"Ya, semua yang terjadi sudah diatur Ga, saya juga tidak menyangka bahwa anak kalian dikirim Allah untuk memperkuat tali silaturahmi kita." Pungkas Pak Dos.


*****


"Haii reader... terimakasih, yang sudah mengikuti sampai Bab ke 50. ❤


Besok Buna sudah mulai kerja, nggak bisa up dua sampai tiga kali seperti minggu ini.🙏

__ADS_1


Tapi insyaallah... Buna usahakan up sehari sekali. Selamat hari minggu, selamat berkumpul dan berbahagia dengan orang yang terkasih.💪💪.


__ADS_2