
"Aku kangen masakan kamu," ucap Rangga terkekeh.
Kartika mencebik sambil berlalu, tidak menyahut lalu berjalan kedapur. Ia memanaskan sop ayam masakan reques putri tercinta.
Meletakkan tempe goreng dalam piring. Tidak lupa menuang sambal terasi yang masih dalam cobek, ia tuang dalam mangkok kecil.
"Baunya harum banget... masak apa sih..." suara berat mengagetkan. Angga sudah berdiri di belakang.
"Ih, ngagetin deh" ucap Kartika mengusap dadanya.
"Mau dibantu usap dadanya... hahaha" Angga terbahak-terbahak.
"Nggak lucu tahu!" mlengos kesal.
"Aku bantu membawa kedepan," Angga mengangkat nasi yang masih panas dengan serbet.
Kartika melirik langkah suaminya dari belakang tersenyum. Ah... pria itu, yang membuat hidupnya berubah-rubah, kadang benci, sebel, marah, tetapi masih ada indahnya rasa cinta dalam hati nya.
"Ah... mikir apa sih aku..." gumamnya. Kartika Kemudian mengangkat sop dalam panci, menyusul suaminya kedepan.
Hidangan sudah terkumpul lantas mereka makan.
"Mau pakai ikan nggak sayang..." tanya Kartika sebab Jeni sudah mengisi piringnya dengan sop ayam dan tempe.
"Sudah cukup Bun, sudah pakai Ayam sama tempe kok" sahutnya sambil menggigit tempe yang masih hangat.
"Oh, gitu... kalau mau, ambil sendiri ya" titah Kartika. Kartika ambil piring menyendok nasi untuk Angga.
Angga rasanya ingin jungkir balik sangking senanganya. Sudah lama ingin merasakan momen seperti ini.
Kartika ambil mangkok menyiduk sayur sop, lantas meletakkan didepan Angga. Angga lagi-lagi bersorak dalam hati, Kartika masih ingat kepadanya. Setiap makan sayur berkuah pasti dipisah.
"Terimakasih ya..." Angga menangkap tangan Kartika, lantas menggengam-nya. Keduanya saling pandang. Mata itu, bibir, hidung, dan wajah, tidak ada yang berubah masih seperti dulu. Yang mampu mengobrak abrik cinta mereka.
Keduanya kembali tenggelam dalam gelombang asmara yang sempat dihempaskan badai.
Kehadiran orang ketiga nyaris meruntuhkan kokohnya pondasi rumah tangga mereka. Dalam hati keduanya berharap agar rumah tangganya kembali utuh.
Buah hati mereka sebagai jembatan yang kokoh untuk menautkan hati keduanya. Dan semoga Tuhan memberi pendar untuk menerobos jalan yang gelap menuju tempat yang terang benderang bagi keduanya.
Hingga beberapa menit tangan Kartika masih dalam genggaman tangan kokoh Angga. Angga rasanya enggan untuk melepas.
Mereka tidak menyadari sepasang bola mata bening tersenyum senang menatapnya. "Cie... cieee..."
__ADS_1
Suara gadis kecilnya membuat mereka cepat menarik tanganya.
"Hihihi... terus Ayah... Bunda... kok dilepas sih? Jeni nggak mengganggu kok," Jeni tertawa-tawa. Padahal secara tidak langsung dia sudah menggangu Ayah Bundanya.
Kartika cepat menarik tanganya lalu menyendok nasi untuknya, rasanya malu sekali kepada anaknya yang masih mentertawakan.
"Sudah... jangan tertawa terus Jen... takut keselek." kilah Kartika memang benar adanya.
Mereka lalu melanjutkan makan, Angga tampak lahap menyantap sop sampai nambah, ternyata benar yang dia katakan memang kangen masakan istrinya. Tidak hanya kangen masakanya siiih... tapi semuanya.
Selesai makan, Kartika membawa piring kotor kedapur, meletakan di lantai tempat pencucian piring. Tidak ada wastavel seperti dapur modern pada umumnya. Maklum namanya kontrakan yang harganya terjangkau.
"Aku saja yang mencucu piring" Angga berjongkok disamping Kartika yang sudah menggulung kaos lengan panjang nya, berniat mencuci piring.
"Nggak usah" Jawab Kartika.
"Aku saja yang mencuci piring ya, tolong buatkan kopi saja. Aku kangen sama buatan kopi kamu," Kata Angga memegang pundak Kartika.
"Ya deh, aku beli kopi dulu ya" Kartika berniat membeli kopi.
"Jangan... aku tadi sudah membeli kopi, masih di depan didalam plastik," ucap Rangga.
Kartika keruang depan menyambar plastik putih, bertuliskan minimarket tertentu. Lalu menelisik isi plastik ternyata bukan hanya kopi. Banyak cemilan didalamnya.
"Jajanan" jawab Kartika hanya ambil kopi lalu meletakkan kembali plastik tersebut.
"Buat Jeni kali ya Bun?" Jeni memegang tangan Kartika.
"Mungkin? tapi sebaiknya kamu tanya Ayah dulu"
"Siap Bun" Jeni berlari kedapur tidak lama kemudian kembali.
"Beneran Bun, buat Jeni sama Bunda katanya," Jeni membuka plastik tampak senang.
Kartika tersenyum, lantas kedapur ingin membuat kopi. Sampai di dapur, Kartika tertegun menatap suaminya dari belakang tampak sedang menggosok pantat panci, membuat bahunya bergoyang-goyang terlihat semakin keren.
Buru-buru Kartika menoleh, saat kepergok Angga ketika Kartika sedang melamun memandangnya kagum dari belakang.
Angga menoleh tersenyum lalu melanjutkan mencuci piring.
Kartika segera mengalihkan pandangan, ambil air dalam tempayan menyiduknya dengan gayung menuang dalam panci, kemudian merebusnya. Kartika menyeduh kopi, ia sudah tahu takarannya dulu sering membuatkan kopi untuk Angga.
"Aku bawa kedepan ya Mas" kata Kartika sambil mengangkat nampan.
__ADS_1
"Ya sayang..." Jawab Angga membuat Kartika menoleh lagi mendengar panggilan Rangga. Mendapati Angga yang sedang menyimpan piring dalam rak.
Sampai depan, Kartika melihat Jeni ketiduran di depan televisi. Ia meletakan kopi diatas meja kemudian hendak mengangkat Jeni.
"Biar aku saja" rupanya Angga sudah selesai mencuci piring lantas menyusul Kartika. Angga mengangkat Jeni, memindahkan ketempat tidur.
Angga kembali kedepan televisi duduk di karpet lalu mencicipi kopi sedikit. Senyum mengembang dibibir Angga. Kopi buatan istrinya ini memang enak. Diseduh dengan air 100 derajat bukan dari termos.
"Malam-malam minum kopi, memang bisa tidur entar?" tanya Kartika masa minum kopi jam delapan malam.
Rangga lantas sadar dari lamunan meletakkan gelas kembali.
"Sengaja," jawabnya mengulas senyum.
"Sengaja?" Kartika menatap Rangga berkerut-kerut.
"Iya... aku mau begadang memandangi kamu semalaman, ahahaha," Angga menertawakan gombalanya sendiri.
Tidak ada jawaban dari Kartika hanya mencebikan bibir.
"Kalau lagi manyun gitu pengen nyobain bibirnya deh" ucap Angga terkekeh. Seraya menggeser sedikit demi sedikit duduknya hingga tinggal beberapa senti.
Dengan sigap Rangga merengkuh tubuh istrinya lantas menyecap bibir Kartika yang selalu ia rindukan.
Kartika pun menikmati sensasi yang diberikan suaminya, bau kopi dari mulut Rangga yang wangi membuat Kartika terlena. Kali ini tidak menolak justru mengalungkan lengan di leher suaminya.
Angga menidurkan Kartika ke karpet, lantas mulai mendaki dua gunung. Keduanya benar-benar dibelit Asmara. Rasa rindu kian lama sedikit demi sedikit terobati.
"Bundaaa..." pekit Jeni dari kamar membuat keduanya menyudahi aksinya. Secepatnya Rangga mendekati tempat tidur Jeni, tetapi Jeni masih pulas.
"Jeni bangun Mas?" Kartika setelah mengancingkan baju piamanya yang sudah terbuka lantas menyusul kekamar.
"Tidak, mimpi kayaknya," jawab Angga kemudian keduanya tertawa. Setelah membetulkan posisi tidur Jeni dan menyelimuti mereka kembali kedepan televisi. Namun sebelumnya Kartika kekamar mandi dulu.
"Ini aku beli keripik ubi ungu makan gih, biasanya kamu suka" Angga mengeluarkan seluruhnya dari kantong plastik putih, makanan yang ia beli tadi.
"Ini kan kripik salah satu produk milik Linda Mas" tutur Kartika, mengunyah keripik ubi sambil menelisik kemasan plastik yang bertuliskan. Macam-macam keripik. (ENDI MENEH) dalam bahasa Jawa yang artinya. (MANA LAGI.)
"Masa?" Angga turut menyemil keripik untuk teman kopi.
.
.
__ADS_1