Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 49


__ADS_3

Jeni keluar dari kamar mandi sudah rapi. Setelah mandi langsung ganti baju yang diberikan oleh Hanifah.


Ia duduk disofa kamar Hanifah, wajahnya murung memikirkan Ayah Bundanya pasti sedang mencarinya.


"Kamu jangan sedih, sebaiknya kita makan dulu" Hanifah membujuknya.


"Aku tidak lapar" ucapnya, tangan kananya melukis disofa membayangkan sketsa wajah Kartika. Tangan kirinya menopang dagu.


"Aku tahu, jika aku diposisi kamu, berpisah dari Mama, pasti sedih. Tetapi... kalau kita makan dulu, pikiran kita menjadi tenang, terus kita bisa berpikir mencari jalan keluar." nasehat Hanifah dengan bahasa anak-anak yang mudah dimengerti.


"Ayo, Papa sama Mama aku, pasti sudah menunggu dimeja makan." sambung Hanifah.


Jeni mengalah, benar juga apa yang dikatakan Hanifah lalu mereka turun.


Jeni berhenti menatap meja makan dari anak tangga. Tampak Linda sedang mengambilkan makan untuk suaminya sambil menggendong anak laki-laki yang berumur satu tahun. Hanifah yang berjalan lebih dulu menguyek-uyek pipi adiknya yang montok, sang adik pun tertawa sambil meronta-ronta. Sungguh pemandangan yang indah dimata Jeni.


Jeni menarik napas panjang. Ia hanya bisa berharap bisa berkumpul dengan Ayah, Bunda. Diberikan adik yang lucu seperti yang Jeni lihat saat ini.


"Nak turun... kok malah berdiri disitu." Linda melambaikan tangan. Membuyarkan lamunan Jeni.


"Iya Tante..." Jeni sampai dimeja makan, bersamaan dengan itu, ART yang masih muda ambil anak laki-laki dari gendongan Linda. membawanya kekamar.


"Duduk nak" kata Linda.


"Sini Jen, duduk disebelah aku" Hanifah menarik kursi di sebelahnya.


"Siapa namanya?" tanya Pak Dosen.


"Jenita Om." Jeni menatap pria yang ia panggil Om itu tersenyum.


Mereka makan bersama. Setelah makan semua berkumpul diruang keluarga sambil menonton televisi.


"Kenapa kamu bisa berada dimobil kami nak?" tanya Mama Linda memulai pembicaraan.


Jenita menceritakan saat Diana menjemputnya di sekolah dari A sampai Z. Tetapi Jeni tidak meceritakan motip penculikan tersebut.


"Ya Allah... jadi kamu diculik? kurang ajar sekali perempuan itu." ujar Linda geram. Linda lalu merangkul Hanifah disebelah, seraya berdoa dalam hati jangan sampai menimpa anaknya.


"Jika kami mengantar kamu, apa kamu kira-kira ingat arah jalan pulang?" sambung Linda.


"Lupa Tante... tapi Jeni ingin pulang, pasti Bunda Jeni lagi nangis, mikirin Jeni." walaupun sejak tadi menahan tangis. Jenipun akhirnya menangis.


"Terus, bagaimana ini Mas, benar juga apa yang dikatakan Jeni. Pasti dirumahnya kebingungan?" tanya Linda kepada suaminya.


"Baju seragam kamu tadi mana nak?" tanya Pak Dosen.


"Di bawa ke belakang sama Bibi" Hanifah yang menyahut.


"Coba foto alamat di baju seragam Jeni, dimana dia sekolah." titah Papa kepada Hanifah.

__ADS_1


Hanifah ke tempat laundry, membawa handphone milik Papanya lalu menjepret alamat yang tertera di seragam, dimana Jeni sekolah.


"Sudah Pa" Hanifah menyerahkan handphone kepada Papa nya. Papa lalu ZOOM alamat. "Astagfirrullah... jauh ini Ma, di Jakarta" Papa menatap Istrinya.


"Jeni... sekarang begini saja, Om mau mengantar kamu, tetapi besok pagi ya." Pak Dosen berpikir, jika dia mencari alamat sekolah malam ini. Tidak ada yang bisa dilakukan. Pasti tidak ada yang bisa ditanya, sekolah pun pasti tidak ada orang.


"Tapi..." Jeni tidak melanjutkan ucapanya. Tentu tidak sopan, dan merepotkan juga, minta orang mengantarkan dirinya malam-malam begini. "Baik Om." Pada akhirnya Jeni mengalah.


"Anak pinter... sekarang... Jeni istirahat bersama Hanifah, besok kita ke sekolah. Menanyakan kepada Guru dimana alamat kamu. Okay..." kata Papa panjang lebar.


Jeni menurut, kemudian diajak Hanifah masuk keruang belajar. "Kamu istirahat dulu ya, aku mau mengerjakan PR" Hanifah membuka buku matematika.


"Kamu memang kelas berapa?" tanya Jeni.


"Kelas empat" sahut Hanifah.


"Oh sama seperti kakak aku." Jeni membuka buku pelajaran milik Hanifah.


"Kamu punya kakak?" Hanifah menatap wajah Jeni yang duduk berhadapan dengannya.


"Punya sih... tapi anaknya bude aku"


"Oh, itu namanya saudara sepupu." pungkas Hanifah kemudian mengerjakan PR. Tetapi berkali-kali Hanifah membuang napas kasar.


"PR nya susah banget Jeni, aku minta diajari Papa dulu." Hanifah ingin beranjak.


"Ya coba dulu, siapa tahu bisa," Jeni meneliti soal-soal. "Oh ini rumus kelipatan. Bla, bla, bla. Selesi" ucap jeni. Lalu meletakan pensil di atas meja.


"Kamu yakin? jawabanmu benar Jen?" Hanifah belum yakin. Sebab Jeni mengerjakan soal hanya sebentar.


"Menurut aku sih benar, soalnya sering membantu kak Nisa, tapi nggak pernah salah kok."


"Sekarang untuk meyakinkan, tanyakan kepada Papa kamu saja"


Karena membahas rumus matematika bisa sedikit menghibur Jeni, tidak terlalu bersedih memikirkan Bunda. Jeni kemudian mencoba untuk tidur, walaupun dalam tidurnya gelisah.


Sepanjang malam Jeni selalu memimpikan Ayah Bunda.


Keesokan harinya Jeni mendengar adzan subuh. Ia membuka mata perlahan. "Bunda... Bunda, bangun, sudah subuh..." Jeni miring menggoyang tubuh Hanifah.


"Tumben, Bunda belum bangun biasanya sudah shalat" katanya dengan suara serak.


Hanifah menggeliat miring menghadap Jeni, matanya masih terpejam entah bangun atau belum.


"Oh iya, ini kan Hanifah bukan Bunda, ya ampuuun..." Jeni duduk memulihkan kesadaran. Ia menoleh Hanifah yang masih terlelap. "Shory Han, aku mengganggumu."


Jeni kemudian kekamar mandi. Mandi dan shalat subuh lalu mendoakan Ayah Bunda. Selesai shalat melipat mukena milik Hanifah meletakan di tempatnya.


Ia kemudian kebawah melihat Pak Dosen sudah pulang dari masjid menggunakan kopiah hitam dan sarung Jeni pikir itu Ayahnya.

__ADS_1


"Ayah..." tak tak tak.


Jeni berjalan cepat menuruni tangga lalu memeluk Pak Dosen. Jeni terpejam yang ada dipikiranya saat ini hanya orang tuanya.


Pak Dosen tersenyum mengusap kepala Jeni lembut. Beliau terharu anak ini benar-benar merindukan Ayahnya.


"Kamu sudah siap, kita berangkat sekarang biar sampai sekolah pagi, kamu bisa langsung sekolah." titah Pak Dosen.


Jeni merenggakan pelukan tersenyum malu. "Maaf Om, tadi Jeni kira. Om Ayah Jeni."


"Tidak apa-apa. Om malah senang kok."


"Hani belum bangun ya?" sambung Pak Dosen.


"Belum"


"Tunggu disini dulu ya, Om ajak Tante dulu, kita mencari alamat sekolah kamu." kata Om sambil berlalu.


"Om" Jeni menahan langkah Pak Dosen. Pak Dosen menoleh.


"Sebelumnya terimakasih ya Om." ucapanya.


"Sama-sama nak"


"Sudah siap Lin" Pak Dosen menemui Linda dikamar tampak sedang menggendong sibungsu, padahal belum bangun tetapi sengaja digendong akan diajak serta mengantar Jeni.


"Sudah Mas. Ayo."


"Mana yang harus dibawa Lin?"


"Itu tas kecil Mas" Dosen membawa tas perlengkapan Rifka adik Hanifah. Mereka berjalan keluar.


"Ayo nak" Om menuntun Jeni.


"Tapi... Jeni masih pakai baju Hanifah om" Jeni menunjuk baju yang ia pakai.


"Nggak apa-apa nak, baju seragam kamu sudah dimobil, yang itu pakai saja." terang Linda.


"Bibi... tolong bangunkan Hanifah suruh shalat, kalau dia tanya bilang ya... saya mengantar jeni dulu."


"Baik Bu"


Jeni masuk kedalam mobil duduk di samping Parman sang supir. Lalu Pak Dosen, duduk ditengah bersama Linda, memangku Rifka.


Jok paling belakang ART yang biasa mengasuh Rifka.


.


.

__ADS_1


__ADS_2