
Lelah marah-marah di hotel. Diana pun tidur juga, mereka tidur saling memunggungi.
Keesokan harinya, Angga bangun lebih dulu lalu mandi. Sarapan di lantai dasar kemudian check out menjalankan mobilnya menuju kantor tanpa Diana tahu.
Dikamar. Diana menggeliat tanganya meraba kasur sebelah ternyata kosong. Diana kesal membuka selimut dengan kasar. Setelah mandi dan ganti pakaian mencari Rangga kebawah tetapi sudah tidak ada. Marahnya sampai ke ubun -ubun.
Setelah sarapan Diana beranjak meninggalkan hotel menuju DIANA BAKERY.
"Selamat pagi ibu" sapa karyawan ketika Diana memasuki Toko dengan wajah suntuk.
"Pagi." jawabnya singkat sambil berlalu kemudian masuk kedalam ruangan.
Diana berkerja hingga menjelang siang. "Selamat siang Bu Diana... Ibu memanggil saya?" Devan menemui Diana. Sebab, lima menit yang lalu, Diana menghubunginya.
"Siang Dev, duduklah," Diana meletakkan kertas di atas meja, menggeser kursi kemudian duduk berhadapan dengan Devan. "Kamu harus segera membuat surat pemecatan karyawan yang bernama Kartika," perintah Diana tanpa perasan.
"Dipecat?!" Devano terkesiap.
"Ya. Kesalahannya sudah sangat fatal saat ini tidak usah di berikan kesempatan."
"Jika saya boleh tahu, kesalahan fatal apa yang di lakukan Kartika di pabrik ini bu Diana?"
"Lakukan saja perintah saya, tidak usah banyak tanya!"
Devan menggeleng cepat. "Saya tidak bisa memecat karyawan jika tidak ada kesalahan yang pasti, saya tahu Kartika adalah karyawan yang rajin dan hati-hati dalam bekerja." tolak Devan.
"Baiklah anda silahkan keluar, jika anda menolak saya bisa lakukan sendiri."
"Tapi bu?"
"Keluar! kata saya!" bentak Diana, berkilat marah.
"Baik bu" Devan keluar dari ruangan Diana, tidak menoleh lagi. Ia masuk keruangan sendiri, membuka data Kartika meneliti kesalahan. Tetapi nilai kehadiran bagus, performance kerja, juga tidak kurang. Hanya pernah bolos dua kali.
"Aahhh... bu Diana maunya apa sih? batin Devan dia bingung entah apa yang mau dilakukan.
Membantah bu Diana sama saja menentang, tetapi jika memberhentikan Kartika sama saja dia berbuat tidak adil. Devano duduk terpekur.
Pemberhentian kerja sangat meresahkan. Terlebih, Devan harus memberhentikan Kartika sungguh membuat dirinya tidak manusiawi dan bertindak kesewenangan. Betapa tidak? keputusan ini tentu akan berdampak dalam kelangsungan hidup Kartika dan anaknya. Sebagai single parent tentu kartika membutuhkan perkerjaan ini.
*******
__ADS_1
"Tika" panggil Bu Yoyoh pengawas dapur.
"Saya Bu" Kartika yang baru masuk kedapur setelah istirahat makan siang bersama Sekar, menghampiri bu Yoyoh.
"Bu Diana memanggil kamu"
"Ada apa ya bu?" Kartika menoleh Sekar seolah bertanya "kenapa lagi?"
Sekar menggeleng, membalik telapak tangan.
"Saya tidak tahu lebih baik kamu segera keruangannya."
"Baik bu"
"Paling kamu dipecat! siap-siap saja!" sambar Adelia dengan ucapan pedas.
"Kalau nggak tahu, lebih baik diam saja Lia" Sekar menjawab sembari steril telapak tangan, dengan cairan anti septik.
"Huh nggak percaya! keburukan kamu itu sudah aku catat dalam kamusku."
Kartika segera melangkah tanpa mendengarkan ocehan Adelia. Dengan jalan tergesa-gesa Kartika menuju ruangan bu Diana, dengan membawa banyak pertanyaan.
Tok tok tok. Sampai di depan pintu ruangan Kartika mengetuk .
Ceklak.
Kartika masuk memperhatikan Diana yang sedang meneguk air dalam gelas didepan komputer.
"Selamat siang Bu" Kartika berdiri di depan Diana meremas kedua telapak tangan, menatap sekilas wajah bos lalu menunduk. Sorot mata Diana yang penuh dengan kilatan kemarahan, bak guntur yang siap menyambar. Membuat Kartika ngeri.
"Mulai hari ini, kamu saya pecat!" kata Diana to the point. Diana keluar dari meja kerja mendekati Kartika yang masih bingung apa kesalahanya. Masalah pribadi kah? jika iya. Sungguh bu Diana tidak profesional.
"Tapi... salah saya bu?" tanya Kartika basa basi, walau dia semakin yakin, pasti masalah pribadi yang disangkut pautkan dengan pekerjaan.
"Benar kamu ingin tahu kesalahan kamu dimana?" Diana menekan meja dengan siku.
"Tentu bu" Kartika masih berusaha menjawab biasa walaupun dadanya gemuruh.
"Sebelum saya jawab, saya ada penawaran buat kamu, jika kamu masih ingin bekerja disini. Jauhi Rangga. Jangan sekali kali bertemu dengannya! karena dia adalah miliku dan akan terus menjadi miliku. Selamanya." Diana percaya diri.
Kartika terkesiap lalu mengangkat kepala cepat. "Maksud ibu apa?"
__ADS_1
"Jangan pura-pura tidak tahu, Kartika! kamu istrinya Rangga kan?" Diana berputar mengelilingi tubuh langsing Kartika.
"Iya" satu kata dari mulut Kartika.
"Bagaimana? kamu terima tawaran saya? jika kamu terima, saya tidak hanya membiarkan kamu bekerja disini. Tapi saya akan memberi jabatan, walaupun kamu hanya lulusan SMK."
Kartika mundur dua langkah menatap wajah licik sang bos. Ternyata istri kedua Rangga orang yang tidak punya urat malu.
"Tidak bisa bu Diana, karena dia adalah Ayah anak saya, sampai kapanpun kami akan tetap berhubungan untuk membesarkan anak kami." tegas Kartika. "Seharusnya ibu yang harus melepas suami saya, karena saya menikah sebelum Angga merantau."
"Lagi pula, saya tidak akan menjual suami saya!" Kartika mulai tersulut.
"Plok plok plok... hahaha... tidak ingin menjual suami? katamu?!" Diana tertawa meledek. "Kamu pikir selama ini Rangga mendapat uang darimana? karena suami kamu sudah saya beli." Diana bertingkah sombong.
"Hehehe... tapi saya tidak pernah mencicipi uang Rangga selama menjual dirinya kepada ibu, suami saya hanya khilaf sebenarnya dia pria baik, mungkin karena terpengaruh orang jahat, maka dia bisa berubah menjadi kurang punya harga diri!"
"Apa maksudmu orang jahat? kamu menyindir saya?" Gigi Diana gemerutuk menahan marah.
"Hehehe... ya sudah, kalau ibu sekarang menyadari dan bisa bertaubat, karena sudah berani merebut suami orang. Bukankah Ibu banyak uang? sehingga Ibu bisa membeli pria lajang bahkan lebih dari satu!" kata Kartika bak pisau belati.
Tangan Diana mengayun ingin menampar wajah Kartika ketika hampir menyentuh, dengan cepat Kartika menangkis dan mencengkeram kuat tangan Diana. "Jangan berbuat kasar bu. Jika tangan Ibu tidak ingin saya patahkan."
"Tidak usah repot, ibu Diana memberikan penawaran kalau hanya karena ibu ingin memecat saya. Saya akan segera keluar dari pabrik ini."
"Saya minta maaf karena sudah berbuat tidak sopan, kepada ibu yang usianya lebih tua dan harusnya saya hormati."
"Ibu perlu catat, dan harus tahu, saya akan mengambil suami saya kembali, karena saya lebih pantas mendampingi."
"Sebelum suami saya jatuh terjerumus semakin dalam bergelimang dosa, isyaAllah, kami akan memperbaiki bersama."
Diana tidak berkutik. Ia mengepalkan tangan.
"Terimakasih bu untuk semuanya, saya tidak akan menghilangkan kebaikan ibu selama saya bekerja disini. Saya juga terimakasih karena karya saya di pabrik ini banyak yang menyukai termasuk ibu sendiri."
"Permisi" Kartika membuka pintu menoleh ibu Diana yang masih tercengang Kartika menutup pintu dan benar-benar pergi.
"Prang... prang...prang" penyakit Diana mulai kambuh dia melempar gelas besar, bingkai fhoto dan apa pun yang bisa dia jadikan sasaran.
*****
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Reader yang masih setia membaca kisah ini, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan."
Jangan lupa komentar & like ya... biar Buna semangat.