Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri
Bab 45


__ADS_3

Pesanan makan malam sudah matang. Ikan bakar, bebek goreng, dan pecel lele sudah disediakan oleh pramusaji. Namun, Rangga tampak tidak menikmati makanan tersebut.


Sebentar-sebentar membuka handphone sedang chating dengan Bibi. Sebenarnya ingin memberi tahu Kartika, tetapi tidak ingin merusak momentum yang sudah Rangga nantikan seperti sekarang ini.


"Kenapa sih Mas? dari tadi gelisah terus..." Kartika rupanya peka terhadap kegelisahan suaminya.


"A-- anu" Rangga gagap. "Diana mencoba melakukan bunuh diri, dan sekarang kritis diruang ICU."


"Innalillahi..." Kartika menutup mulutnya.


"Terus, Mas mau kesana?" Kartika menatap Rangga yang tampak bimbang.


"Tetapi kalau aku kesana, kamu bagaiman?" Rangga khawatir kalau Kartika marah lagi.


"Kesana saja Mas, dia itu kan istrimu, walaupun Diana tidak sakit pun kamu kan kebanyakan disana." Sebenarnya Kartika tidak ikhlas tetapi demi kemanusian apa salahnya.


"Aku cuma mau memberi dukungan Mama kok Tik, aku dengan Diana sudah tidak ada apa-apa lagi. Aku sudah talak dia, tetapi masalahnya, Mama saat ini juga pingsan." terang Rangga.


"Kalau nggak percaya kamu boleh ikut. Ya, ikut ya, Jeni kita titipkan dirumah Mbak Rum dulu."


Kartika diam, sebenarnya bukan karena masalah percaya, nggak percaya. Karena kepercayaan Kartika terhadap Rangga sudah hilang. Namun, yang ada dibenak Kartika. Segitu kejamnya jika ia tidak menengok orang yang sedang sekarat.


"Baiklah" pada akhirnya Kartika menyetujui. "Sekarang habiskan dulu makannya Mas, baru kita berangkat."


Rangga mengangguk lalu mulai menyuap pecel lele didepanya.


"Mau kemana Bun, sama Ayah?" Jeni yang dari tadi menyimak pun bertanya.


"Ayah sama Bunda, mau nengok orang sakit, Jeni sama bude dulu ya sayang." kata Kartika.


"Siap Bun" Jeni senang karena Ayah dan Bundanya ingin pergi bersama. Inilah yang Jeni tunggu-tunggu.


Mereka menghabiskan makanannya, meminum jeruk hangat hingga habis. Kemudian melanjutkan perjalanan mengantar Jeni kerumah Rumi. "Mbak Rum, aku titip Jeni ya" ucap Kartika setelah menceritakan tentang kejadian yang menimpa Diana.


"Tenang saja Tik, Jeni biar menginap disini saja, tidak usah dijemput, besok hari sabtu ini," terang Rumi.

__ADS_1


"Jen, kamu langsung kekamar kak Nisa ya." titah Mbak Rum.


"Baik Bude" Jeni langsung menyusul kakaknya setelah mencium tangan Ayah Bunda.


"Saya berangkat Mbak" Kata Rangga, kemudian keluar setelah diiyakan Mbak Rum. Rangga merogoh kunci motor dari saku celana, lalu menyalakan.


Saat ini sudah jam sembilan malam, angin malam tampak dingin, tentu tidak baik untuk kesehatan. Rangga menatap Kartika yang hanya mengenakan kaos lengan pendek, dan celana bahan. Rangga lalu membuka baju koko yang ia kenakan, kemudian memberikan kepada Kartika. Hingga terlihat kaos dalaman berwarna hitam tampak pas melekat di tubuh Rangga.


"Baju kokonya kok dicopot?" tanya Kartika, sambil memandangi baju koko yang Rangga sampirkan dipundak Kartika, baunya wangi.


"Kamu pakai saja, biar nggak kedinginan" titah Rangga


"Tapi... jadi kaya ondel-ondel akunya" keduanya pun terkekeh. Selama bertemu baru kali ini Kartika mau tertawa dengan Rangga.


Dengan sigap Rangga mengangkat tangan Kartika. Lalu memasangkan baju koko. Wajah mereka sangat dekat. "Cup" satu kecupan mendarat dibibir Kartika.


"Iiihh... modus" Kartika mendorong dada Rangga pelan. Rangga menyahut dengan kekehan. Motor pun segera berlalu meninggalkan rumah Arumi. Sepanjang jalan mereka ngobrol walaupun tidak terdengar. Tertutup helm dan derung kendaraan yang bersahutan.


Sampai rumah sakit. Angga menemui resepsionis, menanyakan dimana pasien yang bernama Diana dirawat. Sebenarnya sudah tidak diizinkan berkunjung. Namun, dengan berbagai alasan akhirnya mereka diperbolehkan. Toh, tidak akan masuk keruang ICU. Cukup dari luar.


Rangga menggandeng Kartika masuk lift, ternyata Diana dirawat dilantai tiga. Keluar dari lift, tampak Mama Uly ditemani Pak Diman, Satpam dan juga Bibi. Mereka berkumpul diruang tunggu.


"Yang sabar ya Ma, sebaiknya Mama pulang beristirahat. Tidak ada yang bisa Mama lakukan, walaupun menunggu disini." nasehat Rangga.


"Sudah saya ajak pulang, tetapi beliau tidak mau Tuan." adu Pak Diman.


"Nyonya sebaiknya pulang dengan Pak Diman. Biar saya dengan Bibi yang menuggu disini." usul Satpam. Lalu di angguki Mama, setelah melepas pelukanya. Mama menatap Kartika yang dari tadi hanya diam saja, disamping Rangga.


"Kenalkan Ma, ini Kartika Istri saya." Rangga memperkenalkan Kartika.


"Saya Kartika Bu." Kartika menangkupkan kedua tangan didepan dada.


"Maafkan kami nak, sudah membuat kamu menderita bertahun-tahun." Mama Uly menatap sendu Kartika.


"Saya sudah memaafkan Ibu, lalu bagaimana keadaan Bu Diana?" tanya Kartika. Tujuan awal ingin menengok Diana pun sampai lupa, karena terbawa perasaan oleh Nenek tanpa cucu ini.

__ADS_1


"Masih belum boleh dikunjungi nak." Sahutnya sambil menangis tiap ingat Diana.


"Sudah Ma, jangan menangis lagi, saya melihat Diana dulu ya."


"Iya, Ga" Lirih Mama Uly.


Rangga mengajak Kartika menengok Diana hanya dibalik kaca. Diana tampak memakai alat medis dimana-mana.


Timbul rasa kasihan dihati Kartika terhadap Diana, karena cintanya dengan suaminya, dan takut diceraikan sampai nekat bunuh diri. Tetapi... dalam hal ini, ada kalanya harus egois memperjungkan Ayah Jeni. Karena selama ini, Kartika sudah banyak mengalah.


Kartika memutar bola matanya, melirik Rangga yang sedang menatap Diana. Kedua tanganya mengusap-usap kaca. Entah apa yang Rangga pikirkan, mengenai Diana saat ini. Rindu, kasihan, atau ingin kembali kepadanya? hanya Rangga yang tahu.


Kartika menarik nafas berat, inilah alasanya mengapa dirinya belum bisa percaya dengan Rangga. Kartika tahu, pasti akan berat bagi keduanya untuk melepaskan. Betapa tidak? Rangga dengan Diana sudah hidup bersama selama kurang lebih enam tahun, pasti bukan waktu yang mudah untuk berpisah.


Sedangan dengan dirinya, baru setahun. Itupun sudah tujuh tahun yang lalu.


Kartika meninggalkan Rangga yang masih termangu di depan kaca. Ia bergabung dengan yang lain.


"Saya pulang ya nak" Pamit Mama Uly. "Rangga mana?" sambungnya.


"Masih didepan kaca Bu" Kartika menunjuk Rangga. Kali ini, Rangga menekan kaca dengan satu tangan. Pandangannya belum beralih.


Mama pun pulang, Kartika ngobrol dengan Bibi. Satu jam, dua jam, hingga jam sebelas malam, Rangga belum mengajaknya pulang. Bukan tidak mengerti dengan penderitaan Diana. Namun, Kartika pun sudah tidak kuat menahan kantuk.


"Pulang yuk"


Kartika tidak menimpali, lalu beranjak, jalan lebih dulu menuju lift, setelah pamit dengan Bibi.


"Kita jalan kemana gitu yuk, sekalian quality time" kata Angga setelah diatas motor.


"Pulang lah Mas... Sudah jam berapa ini?" Kartika geleng-geleng.


Rangga melihat jam tangannya. "Astagfirrullah... sudah hampir jam dua belas,"


Kartika tersenyum kecut.

__ADS_1


.


.


__ADS_2