
Kini sang ratu sudah sampai di aula belakang istana, dimana biasanya sang raja berlatih pedang.
"Jadi ini tempatnya. " Seru ratu Pancawati dengan tersenyum lembut.
"Benar yang mulia ratu. " Jawab dayang Sumi dengan menundukkan kepalanya penuh dengan hormat.
"Bi Sumi, aku ingin kamu mengambilkan dua cangkir teh manis untuk kami berdua. " Ucap Adelia atau ratu Pancawati.
"Sendiko dawuh yang mulia ratu. " Jawab dayang Sumi.
Dayang Sumi pun pergi dari sana. Setelah itu Adelia berjalan mendekati yang mulia raja yang tengah berlatih pedang.
"Pok... pok... pok... " (Bunyi suara tepuk tangan yang dilakukan oleh Adelia atau ratu Pancawati).
Raja Anton Atmaja yang tengah berlatih pedang pun menoleh ke arah sumber suara,sang raja pun menghentikan latihan nya. Melihat itu, ratu Pancawati pun angkat bicara.
"Kenapa berhenti yang mulia raja...? " Tanya yang mulia ratu Pancawati ketika melihat sang raja Anton Atmaja berhenti bermain pedang.
Yang mulia raja Anton Atmaja pun tersenyum lembut, dan berkata.
"Sejak kapan engkau suka melihatku bermain pedang ratu Pancawati...? " Tanya yang mulia raja kepada yang mulia ratu.
Ratu Pancawati pun berkata, "Sejak saat aku bangun dari tidur panjangku yang mulia raja. Sejak itulah aku berubah, jadi jika yang mulia raja Anton Atmaja melihatku bertingkah aneh. Mohon di maafkan. " Jawab ratu Pancawati dengan tersenyum.
"Benar katanya, dia berubah. " Batin Sang raja dalam hati.
Dayang Sumi pun datang dengan membawa sebuah nampan yang berisikan dua cangkir teh manis hangat, sesuai perintah dari yang mulia ratu.
"Ini yang mulia ratu, teh manis hangat nya. " Ucap dayang Sumi.
"Terima kasih bi Sumi, taruh lah di sini...! " Jawab ratu Pancawati dengan menyuruh dayang Sumi untuk meletakkan teh manis nya di atas meja.
"Baik gusti ratu. " Ucap dayang Sumi.
Setelah itu Adelia atau yang mulia ratu Pancawati, mengambil secangkir teh manis tersebut dan memberikan nya kepada yang mulia raja.
"Ini teh manis hangat untuk yang mulia raja. " Ucap ratu Pancawati sembari menyerahkan secangkir teh manis hangat kepada yang mulia raja Anton Atmaja.
Bukannya menerima teh manis tersebut, yang mulia raja Anton Atmaja malah membuang nya dengan kasar. Melihat hal itu Adelia pun tercengang. Melihat tingkah laku kasar dari yang mulia raja.
"Sejak kapan kita seromantis ini ratu Pancawati...? " Tanya yang mulia raja kepada ratu Pancawati dengan nada suara sinis.
"Seingatku, kita tidak pernah seperti ini sebelum nya. " Ucap raja Anton Atmaja lagi.
Adelia pun tersenyum lembut menghadapi pertanyaan dari yang mulia raja.
"Bukankah tadi hamba sudah bilang kepada yang mulia raja,kalau hamba sering berbuat aneh setelah hamba bangun dari tidur panjang hamba. " Jawab ratu Pancawati.
__ADS_1
"Lagi pula, jika yang mulia raja tidak menyukai teh manis ini. Yang mulia raja tak perlu membuangnya, yang mulia raja cukup bilang tidak. Tidak mau, " Ucap Adelia atau ratu Pancawati.
"Berani sekali engkau menasehati aku ratu Pancawati...! " Geram sang raja dengan keras.
"Mohon ampun yang mulia raja,ampunilah ratu Pancawati... " Ucap dayang Sumi tiba-tiba dengan bersujud dihadapkan sang raja.
Tanggapan sang raja pun berlebihan dengan mengayunkan pedang tepat di leher dayang Sumi.
Melihat hal itu Adelia pun murka, namun diri nya dapat mengontrol emosi nya.
"Tak perlu berlebihan seperti ini yang mulia raja. Ini hanya sebuah masalah kecil, dan tak perlu di besar-besarkan. " Ucap ratu Pancawati dengan nada bicara tenang, seolah tak terjadi apa-apa pada saat ini.
Datang lah selir Praweswari dengan membawakan sebuah nampan berisikan sebuah cangkir teh.
"Yang mulia raja, pasti yang mulia raja haus. Ini hamba bawakan secangkir teh manis hangat untuk yang mulia raja. " Ucap selir Praweswari tiba-tiba dengan berpura-pura tidak melihat keberadaan sang ratu yang duduk di hadapan raja.
Dengan hangat,yang mulia raja pun menyambut kedatangan selir Praweswari dengan senyuman.
"Terima kasih selir Praweswari. " Jawab yang mulia raja Anton Atmaja.
"Terima kasih yang mulia raja. " Ucap selir Praweswari dengan tersenyum nakal.
"Oh... ternyata yang mulia ratu Pancawati ada di sini,salam hormat hamba yang mulia ratu Pancawati. " Kata selir Praweswari dengan tatapan mata tidak suka.
"Selir atau pelakor...?" Gumam Adelia pelan.
"Apa yang ratu ucapkan barusan, hamba tidak mendengar nya...? " Tanya selir Praweswari sembari duduk di pangkuan yang mulia raja.
Dan ucapan nya di dengar oleh selir Praweswari. Dengan sinis selir Praweswari berucap.
"Jika yang mulia ratu tidak menyukai pemandangan ini,yang mulia ratu Pancawati bisa meninggalkan tempat ini sekarang juga...! " Ucap selir Praweswari dengan nada bicara dingin.
Mendengar ucapan dari selir Praweswari, bukan nya menegurnya. Sang raja malah mendukung nya.
"Ya, pergilah ratu Pancawati. " Ucap raja Anton Atmaja, tanpa menoleh ke arah sang ratu.
Di perlakuan seperti itu, Adelia pun tambah murka. Namun lagi-lagi ia dapat mengendalikan emosi nya.
"Hamba mohon pamit yang mulia raja. " Ucap Adelia atau ratu Pancawati.
Namun tidak mendapat sahutan dari sang raja, raja Anton Atmaja malah seolah-olah tidak menganggap nya ada.
"Kurang ajar...! " Gumam Adelia dalam hati.
Adelia pun pergi dari tempat itu, diikuti dengan dayang Sumi yang setia mengekor di belakang nya.
Di sepanjang perjalanan menuju kamar nya, Adelia hanya diam membisu. Hati nya begitu sakit, di perlakuan seperti itu oleh yang mulia raja.
__ADS_1
Di jalan menuju kamar nya ia pun bertemu dengan ibu Suri, ibu dari yang mulia raja Anton Atmaja.
"Ratu Pancawati...! " Ucap Ibu Suri menyapa sang menantu.
"Hormat hamba yang mulia ibu Suri. " Sahut Adelia.
"Engkau dari mana saja, sejak tadi ibu mencarimu. " Ucap Ibu Suri kepada Adelia.
Mendengar hal itu, Adelia pun berucap.
"Hamba dari aula belakang, ibu Suri. " Jawab Adelia atau sang ratu.
Ibu Suri pun tersenyum dan berkata, "Seharusnya engkau jangan kemana-mana dulu ratu, karena kondisimu baru membaik. Kamu butuh istirahat yang cukup, bukankah sebelum berjuang kita memerlukan tenaga. " Kata ibu Suri kepada ratu Pancawati dengan tersenyum.
"Berjuang...? " Tanya Adelia kepada yang mulia ibu Suri.
"Ya, berjuang,memperjuangkan cintamu...? Kamu harus berjuang untuk mendapatkan cinta dari yang mulia raja Anton Atmaja. " Tutur ibu Suri kepada ratu Pancawati.
"Ibu akan membantumu, karena ibu selalu mendukungmu. Beristirahat lah, ibu akan menemui yang mulia raja. "Titah yang mulia ibu Suri.
"Jadi ini lah alasan,kenapa ratu Pancawati selalu mengalah dengan tingkah laku dari raja Anton Atmaja yang menyebalkan itu...? " Tanya Adelia kepada dirinya sendiri di dalam hati.
"Baik ibu Suri, hamba mohon undur diri. " Ucap ratu Pancawati dengan hormat.
Setelah sampai di dalam kamarnya, ratu Pancawati pun bertanya kepada dayang Sumi mengenai ibu Suri.
"Bi Sumi,apa engkau tahu jika selama ini ibu Suri selalu mendukung diriku, sebelum aku koma...? " Ucap ratu Pancawati kepada dayang Sumi.
"Iya yang mulia ratu, selama ini ibu Suri memang selalu mendukung yang mulia ratu. Ada apa yang mulia ratu...? " Kata dayang Sumi.
"Bi Sumi, tolong ceritakan semua tentang diriku selama ini. " Ucap Adelia kepada dayang Sumi.
"Baiklah yang mulia ratu. " Jawab dayang Sumi patuh.
"Ya, mulai lah. " Ucap ratu Pancawati atau Adelia.
"Yang mulia ratu sangat mencintai yang mulia raja Anton Atmaja. Namun cinta yang mulia raja hanya untuk selir Praweswari. " Ucap dayang Sumi yang belum selesai bicara namun sudah di sela oleh sang ratu.
"Kalau yang mulia raja tidak mencintai aku,lantas kenapa ia menjadikan aku ratu nya...? " Tanya Adelia kepada dayang Sumi.
"Alasan raja menjadikan yang mulia ratu Pancawati sebagai ratu nya ialah, sebab yang mulia ratu adalah kekasih musuh dari raja Anton Atmaja. Sebab itulah yang mulia raja sangat membenci yang mulia ratu. " Ucap dayang Sumi yang belum selesai bicara karena lagi-lagi Adelia memotong ucapan nya.
"Apa hubungannya denganku, jika aku hanya kekasih dari musuh nya. Dan kenapa, sungguh alasan yang aneh. " Tutur Adelia.
"Mohon ampun yang mulia ratu, hamba tidak tahu alasan yang mulia raja berbuat demikian. " Jawab dayang Sumi sembari menundukkan kepalanya.
"Sudah jangan dilanjutkan...! " Ucap ratu Pancawati.
__ADS_1
"Baik yang mulia ratu. " Jawab dayang Sumi.
"Aku harus menyelidiki nya sendiri, apa alasan raja Anton Atmaja sangat membenci ratu Pancawati. " Batin Adelia.