
Adelia kini tengah berpikir keras bagaimana caranya ia bersikap acuh dengan pangeran Agra.
"Bagaimana aku menghindari pangeran Agra ya...?(sejenak Adelia pun berpikir).Aku tahu, raja...!!"( Ungkap Adelia setelah berpikir keras).Ya pangeran Agra pernah bilang jika ia ingin mengantarkan aku pulang ke istana raja. Dengan begitu aku bisa terbebas dari perasaan aneh ini. "Ucap Adelia bersemangat.
" Aku akan menemuinya lagi. "Ucap Adelia dengan tersenyum.
Adelia pun mencari keberadaan pangeran Agra, namun sayang ia tidak dapat menemukan nya.
" Dimana pria aneh itu...! Sudah kucari-cari tapi tidak ada. "Ucap Adelia sedikit kecewa.
" Para pengawal istana juga tidak ada, pergi kemana mereka....? "Tanya Adelia kepada diri nya sendiri.
" Aku akan mencari nya di luar. "Ucap Adelia lagi. Adelia pun pergi keluar istana mencari keberadaan pangeran Agra.
Setelah sampai di luar istana, ternyata Adelia melihat pangeran Agra tengah terikat di pohon. Bukan hanya terikat,tubuh pangeran Agra pun di penuhi dengan luka dan cairan kental berwarna merah yang berbau amis. Sedangkan para pengawal istana pangeran Agra sudah di lumpuhkan tak tersisa.
" Pangeran Agra...!! "Seru Adelia atau ratu Pancawati dengan nada terkejut. Ia pun berlari menghampiri pangeran Agra yang tengah terikat di pohon tersebut.
" Siapa yang melakukan ini semua, pangeran Agra...? "Tanya ratu Pancawati kepada pangeran Agra yang terlihat lemah tak berdaya. Sang ratu pun melepaskan tali yang mengikat tubuh sang pangeran.
Pangeran Agra mengumpulkan seluruh tenaga nya untuk menjawab pertanyaan dari sang ratu.
" Per.. pergilah ratu, se... se....selamatkanlah di... dirimu. "Ucap pangeran Agra kepada ratu Pancawati dengan nada bicara terbata-bata.
" Me... mereka masih disini, ja... jadi pergilah...!! "Ucap pangeran Agra lagi dengan nada bicara tersendat-sendat.
" Dimana mereka...? "Tanya ratu Pancawati atau Adelia dengan nada bicara datar.
" Jangan kamu mencari masalah dengan mereka ratu,kamu pergilah...! "Ucap pangeran Agra dengan meneteskan air mata.
" Jaga dirimu,dan pergilah...! Aku mohon ratu Pancawati, selamatkan dirimu. Mereka bukan tandinganmu, mereka sangat banyak. "Ucap pangeran Agra mengingatkan ratu Pancawati.
" Baiklah, tapi ikutlah denganku pangeran Agra. "Jawab Adelia atau ratu Pancawati kepada pangeran Agra memutuskan.
" Aku hanya akan menghambat perjalananmu ratu Pancawati, mereka akan menangkap kita berdua. "Ucap pangeran Agra.
"Kenapa engkau sangat keras kepala ratu Pancawati...! " Ucap pangeran Agra.
"Kenapa kita berdua harus pergi, bukankah ini rumahmu, " Jawab ratu Pancawati bersikeras.
Ratu Pancawati memapah pangeran Agra yang terbaring lemah.
"Kau harus kuat pangeran Agra,ayo kita pergi dari sini...! " Ucap ratu Pancawati mengajak pergi pangeran Agra.
"Percuma ratu, mereka telah mengambil alih istanaku. Mereka telah menguasainya, aku bersyukur kerana mereka tidak menangkapmu. " Jawab pangeran Agra.
__ADS_1
"Siapa mereka...! " Ucap ratu Pancawati atau Adelia.
"Mereka adalah anak buah komplotan Mahesa. " Terang pangeran Agra kepada ratu Pancawati.
"Mahesa, siapa dia...? " Tanya ratu Pancawati kembali kepada pangeran Agra.
"Mahesa adalah sebuah singkatan dari Manusia Hebat dan Sadis.Mereka adalah komplotan pembunuh bayaran yang kejam. " Ucap pangeran Agra kepada ratu Pancawati.
"Jadi maksud pangeran, mereka adalah pembunuh bayaran...? " Tanya Adelia atau ratu Pancawati kepada pangeran Agra.
"Benar." Jawab pangeran Agra menjawab pertanyaan dari ratu Pancawati.
"Siapa yang telah menyuruh mereka,pangeran Agra...??! " Ucap Adelia kepada pangeran Agra dengan nada bicara penuh tanda tanya.
"Entahlah ratu, saya sendiri juga tidak tahu. " Jawab pangeran Agra dengan menahan rasa sakit akibat tubuh nya yang di penuhi oleh luka.
"Kenapa mereka masih membiarkanmu hidup pangeran Agra...? Jika mereka pembunuh bayaran. " Ucap Adelia kepada pangeran Agra.
"Aku tidak tahu dengan apa yang mereka inginkan ratu Pancawati. " Jawab pangeran Agra menjawab pertanyaan dari ratu Pancawati atau Adelia.
"Jika mereka pembunuh bayaran,lantas kenapa mereka masih membiarkan pangeran Agra hidup...? " Tanya Adelia kepada diri nya sendiri di dalam hati.
"Pangeran Agra, sebaiknya kita pergi dari sini. Sebelum mereka kembali lagi. " Ucap Adelia atau ratu Pancawati kepada pangeran Agra.
Pangeran Agra pun menganggukkan kepala nya.
"Ayo pangeran,! " Ucap Adelia sembari memapah pangeran Agra.
"Kita harus kemana, pangeran Agra...?" Tanya Adelia kepada pangeran Agra.
"Istana raja Anton Atmaja. " Ucap pangeran Agra.
"Baiklah kita kesana,tapi aku tidak tahu menahu jalan ke arah istana,pangeran Agra...!? " Ucap Adelia kepada pangeran Agra sembari memapah pangeran Agra.
"Aku yang akan tunjukkan ratu. " Jawab pangeran Agra.
"Pangeran Agra, sebaiknya kita obati dulu lukamu. Baru setelah itu kita lanjutkan lagi perjalanan kita. " Ucap Adelia atau ratu Pancawati kepada pangeran Agra.
"Baiklah ratu Pancawati,tapi dengan apa...? " Jawab pangeran Agra menjawab pertanyaan dari ratu Pancawati.
"Dokter...!ya kita pergi ke dokter dulu untuk menyembuhkan lukamu itu. " Kata Adelia dengan sumringah.
Sedangkan pangeran Agra hanya di buat melongo, sebab tidak tahu atau mengerti ucapan yang dikatakan oleh ratu Pancawati barusan.
"Maaf ratu Pancawati, dokter. Apa itu dokter...?Apakah dokter itu sejenis dengan obat luka...?" Tanya pangeran Agra kepada ratu Pancawati.
__ADS_1
Kini ratu Pancawati yang melongo,mendengar pertanyaan dari pangeran Agra. Ia pun kemudian mengembangkan senyuman.
"Hehe... aku lupa jika kini aku berada di zaman kuno, mereka tidak tahu kata dokter. Karena yang mereka tahu hanya kata tabib. " Batin Adelia.
"Ratu Pancawati aku sedang bertanya kepadamu...! " Ucap pangeran Agra lagi.
Belum sempat ratu Pancawati atau Adelia menjawab nya, pangeran Agra sudah kembali bertanya.
"Apakah dokter itu, adalah obat yang sangat mujarab...? " Tanya pangeran Agra lagi kepada ratu Pancawati atau Adelia.
"Bukan,pangeran Agra... " Jawab ratu Pancawati atau Adelia.
"Dokter itu sebuah panggilan untuk seseorang yang berjasa atau bergelut di bidang kesehatan. Dokter itu manusia seperti kita, pangeran dan bukanlah obat. " Terang Adelia atau ratu Pancawati kepada pangeran Agra.
"Mungkin pangeran Agra, sering menyebut nya dengan kata tabib. " Ucap Adelia lagi kepada pangeran Agra.
"Maksudnya tabib. " Jawab pangeran Agra singkat.
"Ya, seperti itu. " Kata ratu Pancawati.
"Ayo kita pergi mencari tabib dulu. " Ucap Adelia.
Pangeran Agra pun menuruti ratu Pancawati mencari tabib untuk menyembuhkan luka-luka nya.
"Aku merasa jika kau,kembali seperti dulu ratu Pancawati. " Batin pangeran Agra di dalam hati sembari melirik ke arah ratu Pancawati yang tengah menuntun nya itu.
"Aku tidak tahu rumah tabib pangeran,apakah kita harus bertanya pada mereka...!? " Ucap Adelia sembari menunjukkan jari tangan nya ke arah segerombolan ibu-ibu yang tengah menumbuk padi.
Pangeran Agra pun menganggukkan kepala nya.
"Baiklah sebentar. " Ucap Adelia atau ratu Pancawati kepada pangeran Agra. Ia pun mendudukkan pangeran Agra di bawah pohon yang ada tempat duduk nya yang terbuat dari bambu. Setelah itu barulah Adelia menghampiri segerombolan ibu-ibu yang tengah menumbuk padi tersebut.
"Permisi, ibu. Saya mau nanya..." Ucap Adelia kepada salah satu ibu-ibu tersebut.
"Iya, ada apa...? " Tanya balik ibu-ibu tersebut kepada Adelia.
"Saya sedang mencari tabib, apakah ibu tahu dimana rumah tabib...? " Ucap Adelia.
"Ya saya tahu, rumah nya lima rumah dari sini. " Jawab ibu tersebut menunjukkan rumah si tabib, sembari tersenyum.
"Terima kasih bu,saya permisi kalau begitu. " Ucap Adelia.
Ibu tersebut pun menganggukkan kepala nya, sembari tersenyum lembut. Adelia pun kembali ke tempat di mana pangeran Agra berada.
"Pangeran Agra, aku sudah menemukan rumah tabib. " Ucap Adelia kepada pangeran Agra tanpa melihat ke arah pangeran Agra berada.
__ADS_1
"Pangeran Agra...!! " Ucap Adelia terkejut.