
Ratu Pancawati mengendap-endap keluar dari kamarnya tanpa sepengetahuan dari dayang Sumi. Malam ini ia berencana untuk menemui dayang Siti yang telah ia beri hukuman, sekaligus ingin menyabut hukuman yang ia berikan kepada dayang Siti.
Setelah sampai di tempat dayang Siti berada,Adelia atau sang ratu melihat dayang Siti hendak mau dilenyapkan. Saat pedang mau di ayunkan ke arah leher dayang Siti, ratu Pancawati terlebih dahulu mengagalkan aksi si pelenyap. Dengan cara melemparkan sebuah kerikil kecil, tepat pada tangan si pelenyap. Yang membuat si pelenyap menjatuhkan pedang yang ia pegang. Kemudian Adelia atau sang ratu Pancawati pun keluar dari tempat persembunyian nya.
"A... apa yang terjadi...? " Ucap ratu Pancawati dengan berpura-pura ketakutan karena melihat beberapa orang mengacungkan pedang ke arah dayang Siti.
"Ratu...!" Seru dayang Siti ketakutan.
"Tolong hamba yang mulia ratu, hiks... hiks... hiks... " Mohon dayang Siti di tengah tangis isakan nya.
"Prok... prok... prok... " (Bunyi suara tepukan tangan dari si pelenyap).
"Wah yang mulia ratu rupanya, " Seru si pelenyap melihat kedatangan yang mulia ratu Pancawati.
"Siapa kamu...? " Ucap ratu Pancawati atau Adelia.
"Oh ya, hamba lupa memperkenalkan diri hamba kepada yang mulia ratu. Perkenalkan yang mulia ratu,hamba adalah Sutanto. " Ucap Sutanto memperkenalkan diri.
Ratu Pancawati mengamati wajah Sutanto dengan seksama. Dari raut wajah Sutanto, ratu Pancawati atau Adelia dapat menyimpulkan kalau Sutanto adalah bapak dari selir Praweswari.
"Ayah si pelakor...!" Ucap ratu Pancawati atau Adelia dengan tersenyum mengejek.
"Apa yang di ucapkan oleh yang mulia ratu Pancawati barusan...! " Bentak Sutanto.
"Aku hanya bilang kalau kau adalah romo dari selir Praweswari. " Ucap ratu Pancawati santai.
"Dari mana yang mulia ratu tahu, kalau hamba adalah romo dari selir Praweswari...? " Jawab Sutanto heran.
"Wajahmu...! " Ucap ratu Pancawati lagi.
Mendengar ucapan dari sang ratu, Sutanto pun geram. Sebab sang ratu mengetahui identitasnya,yang sudah ia sembunyikan cukup lama.
"Sial,bagaimana mungkin ia bisa mengenali aku. Kalau aku adalah romo dari selir Praweswari, selama ini tidak ada yang pernah menyadari nya. " Gumam Sutanto dalam hati.
"Dia memang bukan ratu biasa,karena dapat mengenali orang lewat wajah. " Batin Sutanto lagi di dalam hati.
__ADS_1
Sutanto memberikan isyarat kepada para anak buah nya untuk menangkap ratu Pancawati. Mereka pun dengan patuh melakukan nya, walaupun mereka tahu apa konsekuensi nya menyentuh yang mulia ratu tanpa izin.
Belum sempat mereka menyentuh tangan yang mulia ratu. Mereka sudah terlebih dahulu ketakutan, bukan tanpa sebab mereka lari ketakutan. Ternyata yang mulia ratu Pancawati tidak sendirian. Di belakang nya juga ada yang mulia raja, yang sengaja membuntuti nya. Yang mulia raja juga tidak sendiri, beliau mengajak dua orang pengawal nya untuk mengepung Sutanto.
Tinggallah yang mulia raja, yang mulia ratu, dayang Siti dan Sutanto yang tidak bisa kabur karena terkepung dari dua sisi.
"Yang mulia raja... " Ucap ratu Pancawati.
Yang mulia raja tidak menanggapi nya,raja malah mendekati dayang Siti yang masih duduk berlutut.
"Apa kau baik-baik saja...? " Tanya yang mulia raja kepada dayang Siti.
Sedangkan Sutanto sudah di tangkap oleh kedua pengawal raja,mereka menggiring Sutanto ke dalam penjara atas perintah sang raja.
Merasa tidak di anggap oleh sang raja, akhirnya ratu Pancawati pun pergi dari sana tanpa berpamitan kepada yang mulia raja.
Melihat sang ratu pergi tanpa berpamitan, raja Anton Atmaja pun mencibir.
"Bukan hanya tutur kata nya yang berubah,namun ternyata tingkah laku nya juga ikut berubah. " Ucap sang raja.
"Raja, raja kita. " Sahut orang tersebut dengan berjalan santai ke arah yang mulia ratu Pancawati.
"Kakak iparku, apa kabar...? " Tanya orang tersebut kepada yang mulia ratu Pancawati.
"Siapa kamu...? " Tanya balik ratu Pancawati kepada seorang pemuda di depan nya.
"Ternyata benar, kabar angin itu. " Ucap orang tersebut kepada yang mulia ratu Pancawati dengan penuh menyelidik.
"Kau benar-benar kakak iparku kan...? " Tanya pemuda tersebut kepada yang mulia ratu Pancawati.
"Apa maksudmu...? " Tanya balik ratu Pancawati.
"Sudahlah, tak penting semua itu. Perkenalkan namaku Agra Atmaja, adik kandung dari yang mulia raja Anton Atmaja. " Ucap Pemuda tersebut memperkenalkan diri nya kepada yang mulia ratu Pancawati.
"Lantas...!? " Ucap ratu Pancawati dengan nada bicara dingin.
__ADS_1
Pangeran Agra Atmaja hanya menggelengkan kepala nya saja.
Ratu Pancawati melanjutkan langkah kaki nya menuju kamar nya,namun belum sempat ratu Pancawati melangkahkan kaki nya, lagi-lagi pangeran Agra menghentikan nya.
"Tunggu yang mulia ratu Pancawati. " Seru pangeran Agra dengan tersenyum yang dibuat seimut mungkin.
Ratu Pancawati pun membalikkan badan nya untuk menatap pangeran Agra.
"Ya, ada apa...? " Jawab ratu Pancawati dengan nada bicara datar.
"Apa kau benar-benar lupa, tentang janji kita...? " Ucap pangeran Agra kepada yang mulia ratu Pancawati.
"Apa...? " Tanya yang mulia ratu Pancawati semua penuh tanya.
"Aku menjemputmu,dan kita akan pergi dari istana ini. " Terang pangeran Agra kepada yang mulia ratu Pancawati.
"Memang nya, apa hubungan kita. Dan kenapa aku harus ikut denganmu pergi...? " Tanya ratu Pancawati kepada pangeran Agra Atmaja.
"Karena itulah rencana kita dari awal. " Jawab pangeran Agra.
"Tidak bisa di percaya,mana satu cerita yang sebenarnya. Keterangan dari dayang Sumi atau keterangan dari pangeran Agra Atmaja. " Gumam Adelia atau ratu Pancawati dalam hati.
"Benar-benar kisah ini membingungkan saja. " Gumam Adelia atau ratu Pancawati kemudian.
Di zaman modern.
"Bagaimana Alex, keadaan bos kita...? " Tanya Jimi kepada Alex.
"Keadaan nya masih sama, tapi bagaimana pun juga kita harus tetap menjaga bos kita. " Jawab Alex.
"Ya, aku mengerti. Itu pasti akan kita lakukan. " Ucap Jimi.
"Semalam aku berhasil menangkap orang yang menyebabkan bos Adelia menjadi seperti ini. " Kata Jimi lagi.
"Siapa dia...
__ADS_1