Kehidupan Santri Di Penjara Suci

Kehidupan Santri Di Penjara Suci
Saingan


__ADS_3

Setelah mengambil barangnya, Nia pun kembali ke kelas. Dia berjalan sambil termenung mengingat ucapan Faisal tadi. Dia tidak ingin, hanya karena kata-kata Gus Anas ia menjadi berharap.


Ingin sekali Nia bercerita. Namun pada siapa?. Pada kakaknya? mereka berjauhan. Pada temannya? Dikira menghayal. Akhirnya dia memendam seorang diri. Entahlah. . . .


Nia yang hendak masuk ke kelas terhenti didepan pintu. Dia melihat teman sebangkunya sedang duduk dan berbicara dengan teman Faisal.


Nampak sekali temannya itu enggan berbicara. Namun lawan bicaranya seolah tak memperdulikan keengganan teman nia. Ingin Nia menghampiri temannya, tapi dia takut mengganggu.


Dia pun memutuskan untuk menunggunya diluar kelas. Namun baru saja dia membalikkan badan, temannya memanggil.


"Nia. . . " ucap Fatim


"Kamu sudah selesai? "


"iya. " jawab Nia


"Kalau begitu temani aku ke perpustakaan yuk. Aku mau cari buku. " ajak Fatim sambil mngedipkan matanya


Nia pun langsung melihat Fatim dengan heran. Dan tanpa pikir panjang dia mengiyakan ajakan Fatim.


"Ayo. Tapi aku taruh dulu barangku. Oke? " ucap Nia


Fatim pun hanya mengangguk merasa lega bisa pergi dari Iqbal.Saat Nia sedang menyimpan barang yang dibawanya dia hanya tersenyum sambil menganggukan kepala pada Faisal.


"Kang Iqbal permisi ya. Aku mau ke perpustakaan dulu sama Fatim." ucap Nia


"Iya. " jawab Iqbal


"Aku juga mau ke kantin nyamperin Faisal. "


"Dia masih disana kan? "


"Tadi sih masih kang. " ucap Nia


"Duluan kang. Monggo. "


Akhirnya Iqbal pun Pergi ke kantin.Sedangkan Fatim dan Nia pergi ke perpustakaan. Saat Fatim hendak mencari buku yang dia butuhkan, Dia melihat Gus Anas sedang duduk membaca buku sambil menjelaskan satu pelajaran pada Mita.

__ADS_1


Karena jam istirahat selesai, Nia menghampiri Fatim.


"Sudah ketemu Tim? " tanya Nia


"Eh.... belum. " ucap Fatim


"Sudah masuk ya? "


"Iya. " jawab Nia


" Ya sudah yuk. Balik ke kelas. " ajak Fatim


"Ayo. " ucap Nia


Saat hendak keluar mereka berpapasan dengan Gus Anas dan Mita. Fatim pun menganggukkan kepalanya, sedangkan Nia hanya menunduk.


"Cari buku Tim? " tanya Gus Anas


"Nggih Gus.Tapi sudah masuk. " jawab Fatim


"Monggo Gus. Kami duluan. "


Gus Anas hanya bisa memandang kepergian Nia dengan tersenyum. Mita yang memperhatikan arah pandangan Gus Anas pun mulai tak suka.


"Ayo Gus. Kita juga harus ke kelas. " ucap Mita membuat Gus Anas tersadar


"Ayo." ucap Gus Anas


Dikelas . . .


"Nia. " panggil Fatim


"Iya. " jawab Nia


"Kamu tadi lihat kak Mita waktu di perpustakaan ngga? " tanya Fatim


"Ngga. Memangnya kenapa? " tanya Nia

__ADS_1


"Kak Mita tuh kayak yang lagi caper sama Gus Anas. " ucap Fatim


"Hus.... Ngga boleh bilang gitu ah. " ucap Nia


"Memang gitu kok. " ucap Fatim


"Dia itu seolah-olah ngga paham. Terus minta dijelaskan sama Gus Anas. "


"Padahal dianya saja ngga dengerin penjelasan Gus Anas. "


"Yang ada dia tuh mandangin wajah Gus Anas terus. " lanjutnya


"Ya mungkin kak Mita memang ngga paham. " ucap Nia


"Sudah ah jangan suudzon gitu. Ngga baik. "


Dan pembicaraan mereka terhenti saat pak Budi masuk kelas.


Dikelas lain . . . . .


"Gus. " panggil Faisal


"Njenengan dari mana? "


"Tadi dari perpustakaan. " jawab Gus Anas


"Mita ada yang ngga paham sama pelajaran Pak Mul."


"Oh... " Faisal mengangguk


"Nia ngga percaya Gus. "


"Tadi dikira saya ngerjain. "


Gus Anas pun hanya tersenyum mendengar ucapan Faisal. Sedangkan Mita yang sedari tadi sengaja menguping merasa bahwa Nia akan menjadi saingannya untuk mendapatkan Gus Anas.


Terima kasih teman-teman untuk doanya. Alhamdulillah bapak saya sudah mulai membaik.

__ADS_1


Mohon dukungannya juga. Jangan lupa tekan jempolnya. Mohon maaf bila masih banyak kekurangan. Ditunggu juga kritik saran yang membangun


__ADS_2