Kehidupan Santri Di Penjara Suci

Kehidupan Santri Di Penjara Suci
Berangkat ke Pesantren


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Keadaan Ning Zahra sudah membaik. Rencananya ia juga akan berangkat ke pesantren besok pagi. Sebelum berangkat, ia akan belanja sebentar untuk membeli oleh-oleh teman sekamarnya. Ia juga sudah meminta Nia untuk membuatkan kue dan menemaninya belanja.


Karena Abah dan Ummi sedang tindak ke rumah temannya yang memiliki hajat, akhirnya Ning Zahra pergi berbelanja dengan Nia.


Saat hendak berangkat belanja, Gus Anas mencegah Ning Zahra pergi berdua saja. Karena ia takut terjadi apa-apa. Apalagi mereka perempuan.


"Mba Nia bisa bawa motor kan? " tanya Ning Zahra


"Saged (bisa) Ning. " jawab Nia


Mereka pun akhirnya berangkat menggunakan motor matic. Nia membonceng Ning Zahra dan diikuti Gus Anas dibelakangnya.


Mereka berhenti di toko yang menjual oleh-oleh khas kota itu. Ning Zahra mencari sale pisang yang menjadi favorit teman sekamarnya.


Setelah mendapat beberapa jajanan, Ning Zahra mengajak Nia membeli martabak manis. Ia juga mengajak kakaknya.


"Mas mau yang rasa apa? " tanya Ning Zahra


"Coklat kacang dek. " jawab Gus Anas


"Kalo mba Nia? ".tanya Ning Zahra lagi


"Terserah saja Ning. " jawab Nia


Akhirnya Ning Zahra memilih rasa coklat kacang, keju dan coklat. Setelah itu mereka pun pulang. Sedangkan Gus Anas pergi mencari barang yang dia cari.

__ADS_1


Saat sampai, Ning Zahra dan Nia langsung membawa belanjaannya ke ndalem. Dan ternyata Abah dan Ummi sudah kondur (pulang).


"Abah sama Ummi kondur kapan? " tanya Ning Zahra


"Sudah dari tadi. " jawab Ummi


"Belanja apa Zah? " tanyanya


"Jajan buat teman sekamar Mi. " jawab Ning Zahra


"Tadi juga beli martabak nih. "


Nia yang hendak keluar ditahan sebentar oleh Ning Zahra. Ia diberi satu porsi martabak rasa coklat. Dan disuruh berbagi dengan Dila.


Nia pun menerimanya dan keluar dari ndalem. Ia menghampiri Dila yang sedang bersama Gus Daffa di kantor. Ia memakan martabak itu bersama Dila dan Gus Daffa.


Keesokan harinya


"Sudah semua Zah? " tanya Abah


"Sampun Bah. " jawab Ning Zahra


"Sampaikan salam Abah dan Ummi buat Pak Kiyai ya. " ucap Abah


"Nggih Bah. " jawab Ning Zahra


Setelah siap, Ning Zahra pun berangkat ke pesantren. Ia diantar oleh Kang Lihin dan Gus Anas. Dalam perjalanan Gus Anas menanyakan banyak hal tentang pesantren Ning Zahra. Dengan senang hati Ning Zahra menjawab setiap pertanyaan dari kakaknya.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian sampailah mereka di pesantren Ning Zahra. Saat Ning Zahra dan Gus Anas turun dari mobil banyak pasang mata menatap mereka. Terutama santri putri . Mereka melihat Gus Anas dengan tatapan kagum. Mereka berbisik-bisik membicarakan Gus Anas.


Gus Anas merasa risih melihatnya. Ia pun bergegas ke ndalem Kiyai Anam. Ia sowan pada Kiyai Anam. Menyampaikan salam dari Abah dan Umminya. Dan juga meminta maaf karena adiknya terlalu lama dirumah. sehingga melanggar izin pulang yang diberikannya. Ia juga menyampaikan alasannya sehingga Kiyai Anam mengangguk paham.


"Jadi kamu yang namanya Anas? " tanya Kiyai Anam


"Nggih Bah. " jawab Gus Anas


"Pripun kabarnya Abah dan Ummi kamu? " tanya Kiyai Anam


"Alhamdulillah sehat Bah. " jawab Gus Anas


"Beliau juga menitip salam untuk Abah dan keluarga. " lanjutnya


"Syukur alhamdulillah kalau begitu. " ucap Kiyai Anam


"Sekarang sudah sehat Zah? " tanyanya pada Ning Zahra


"Sampun Bah. " jawab Ning Zahra


"Sudah hafal belum? " tanya Kiyai Anam


"Sampun Bah. " jawab Ning Zahra


"Tapi belum lancar. " lanjutnya


"Terus di ulang hafalannya, biar tambah lancar. " ucap Kiyai Anam

__ADS_1


"Nggih Bah. " angguk Ning Zahra


__ADS_2