Kehidupan Santri Di Penjara Suci

Kehidupan Santri Di Penjara Suci
Sayur Bening


__ADS_3

Setelah satu jam lebih, akhirnya Nia pun terbangun. Dia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Dia lalu bangun saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 13:49. Nia teringat bahwa dirinya belum sholat.


Dia pun langsung turun ke bawah sambil memakai kerudung. Suasananya sepi karena semua santri sedang sekolah diniyah.


Setelah Nia mengambil wudlu, ia bergegas sholat. Karena takut waktu sholat dzuhur akan segera habis.


Setelah sholat Nia merasa lapar. Ia pun pergi ke kantin membeli roti untuk mengganjal perutnya.


"Ngga sekolah Diniyah Nia? " tanya Aminah selaku penjaga kantin putri


"Ngga mba. Tadi pulang sekolah Aliyah pusing. " jawab Nia


"Sudah minum obat? " tanya Aminah


"Sudah. Alhamdulillah ini sudah mendingan. " jawab Nia


"Mau pilek kali yah? " duga Aminah


"Mungkin mba. Soalnya dari kemarin hidungku sudah mampet. " ucap Nia


"Ini berapa mba? " tanya Nia setelah mengambil beberapa roti


" 5000 Nia. " jawab Aminah


Lalu Nia pun memberikan uang lima ribuan pada Aminah.


"Makasih ya mba. " ucap Nia saat hendak keluar kantin


"Sama-sama. Semoga lekas sembuh. " ucap Aminah


Nia pun hanya mengangguk. Dia pun lantas pergi ke kamar. Tiba-tiba Ning Zahra memanggil Nia saat Nia hendak naik ke atas.


"Mba Nia. " panggil Ning Zahra


"Dalem Ning. " jawab Nia

__ADS_1


"Sudah sembuh? " tanya Ning Zahra


"Alhamdulillah sudah mendingan Ning. " jawab Nia


"Syukur alhamdulillah kalau begitu. " ucap Ning Zahra


"Mba Nia lapar? " tanya Ning Zahra saat melihat Nia membawa roti dalam keresek


"He he he. " Nia tersenyum malu


"Nggih Ning. " jawab Nia


"Ayo ke dapur. " ajak Ning Zahra


"Tadi mba Dila nitip pesen. Kalau Mba Nia tadi belum makan. Jadi sudah disiapkan di dapur." ucap Ning zahra sedikit berbohong.


"Nggih Ning. " ucap Nia sambil mengikuti Ning Zahra


Ning Zahra mengeluarkan nasi, sayur bening dan tempe goreng dari dalam lemari. Nia pun merasa tak enak hati karena Ning Zahra memperlakukannya sedemikian rupa. Namun juga tak bisa menolak karena takut membuat Ning Zahra berkecil hati.


"Ayo mba dimakan. " ucap Ning zahra menyodorkan piring dan sendok


"Mba saja.Tadi Zahra sudah makan. " tolak Ning Zahra


Flash back on


"Dek. " panggil Gus Anas


"Nih bawa ke dapur pesantren putri. " perintah Gus Anas menyodorkan semangkuk sayur bening


"Apa sih Mas? " tanya Ning Zahra


"Ini sayur bening buat Nia. " ucap Gus Anas


"Dia kan lagi sakit. Katanya biar tambah enak makannya. "

__ADS_1


"Kata siapa mas? " tanya Ning Zahra


"Kata Ummi. " jawab Gus Anas


"Perhatian amat mas. " ucap Ning Zahra


"Jangan-jangan ada sesuatu nih. " lanjutnya yang membuat Gus Anas gugup


"Katanya kamu mau belajar bikin kue kan? "


"lah yang mau ngajarin saja lagi sakit. "


"Makanya dikasih ini biar cepat sembuh. "


"Kalau sudah sembuh, kan kamunya senang jadi belajar. "


"Ngga uring-uringan terus dikamar. " ucap Gus Anas beralasan


"Iya iya. Makasih ya Mas. " ucap Ning Zahra


"Sama-sama. "


"Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. " pinta Gus Anas


"Memang kenapa? " tanya Ning Zahra


"Ya ngga apa-apa. "


"Sudah ah. Mas mau sekolah Diniyah dulu. "


"Assalamualaikum. " ucap Gus Anas


"Waalaikum salam. " jawab Ning Zahra


Ning Zahra pun langsung menyimpan sayur bening itu di dapur pesantren putri.

__ADS_1


flash back off


Mohon dukungannya teman-teman. Jangan lupa tekan jempolnya ya. Mohon maaf bila masih banyak kekurangan. Ditunggu juga kritik saran yang membangun


__ADS_2