
Hari ini di lapangan sekolah akan mengadakan pengumuman tentang acara perkemahan yang biasa di adakan setahun sekali, dan kebetulan tahun ini acara perkemahan itu belum dilaksanakan.
"Ada apa sih? " tanya Berlin yang berada di pinggir lapangan, bersama dengan Anggun dan juga Daniel.
"Kayaknya ada pengumuman soal acara perkemahan deh, " balas Anggun sambil menatap ke arah tiang bendera, karena guru-gurunya berada di samping tiang bendera.
"Memangnya di sini suka ada perkemahan? " tanya Daniel sambil menatap ke arah Berlin, entah kenapa setelah bertemu dengan gadis ini ia malah langsung ingin melindunginya.
"Ada, di adakan setiap setahun sekali, " balas Berlin, tanpa melihat ke arah Daniel.
"Baiklah anak-anak kami dari pihak sekolah akan mengadakan perkemahan yang biasanya di adakan setiap setahun sekali pada hari Sabtu, " ucap seorang kepala sekolah.
"Jadi saya minta pada kalian yang berkenan untuk mengikuti perkemahan, untuk segera bersiap-siap karena waktunya hanya tinggal 2 hari lagi, kami juga dari pihak sekolah meminta maaf karena tidak memberitahu kalian dari awal-awalnya, " sambung sang kepala sekolah tersebut.
"Kalian mau ikut gak? " tanya Berlin sambil menatap Anggun dan juga Daniel bergantian.
"Boleh juga tuh, kayaknya seru, " balas Daniel sambil menatap Berlin.
"Gue juga mau ikut ah, seru soalnya, " timpa Anggun yang juga menatap Berlin.
"Baiklah hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, kalian hari ini di persilahkan pulang lebih awal, untuk mempersiapkan keperluan yang akan kalian bawa, " Lanjut sang kepala sekolah, lalu setelah itu mereka langsung bubar ke masing-masing kelasnya untuk mengambil tasnya karena hari ini kelas di bubarkan.
Beberapa menit berlalu dan saat ini Anggun juga Berlin sedang menunggu Daniel di parkiran, tadi Daniel bilang kalau misalkan akan pulang bareng, kebetulan sebelum pulang juga mereka akan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa perlengkapan perkemahan nya.
"Kemana sih tuh anak, gak tau apa aku udah pegel nungguin dia dari tadi, " kesal Anggun yang sudah mulai kesal dengan Daniel.
__ADS_1
"Sabar sahabat yang paling aku sayang, bentar lagi juga dia pasti datang deh, " balas Berlin sambil merangkul Anggun.
Apa yang dikatakan Berlin ternyata benar, Daniel saat ini sudah berada di parkiran dan mulai berjalan mendekati Mereka, namun Anggun sudah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Lu lama amat sih abis ngapain aja luh? " tanya Anggun curiga.
"Enggak biasa temenku ngajak ngobrol dulu sebentar, " balas Daniel enteng.
"Udah ah jangan berantem kalian, " ujar Berlin yang memisahkan pertengkaran mereka.
"Ya udah yuk, gue mau cepet-cepet ke mall, " ucap Anggun sambil berjalan masuk ke mobilnya.
Mereka pergi ke mall akan menggunakan mobil Anggun, karena kan Berlin tidak membawa mobil, sedangkan Daniel ia ke sini menggunakan motor, dan motor nya ia suruh temannya membawa motornya pulang.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil Anggun dengan Daniel yang menyetir nya sedangkan yang duduk di samping Daniel adalah Berlin sedangkan di belakang ada Anggun. Daniel pun mulai memajukan mobilnya keluar dari lingkungan sekolah.
"Sudahlah mungkin ini yang terbaik untuknya dan juga untukku, " lanjutnya, saat ini pria itu langsung pergi menaiki motor kesayangannya.
Jujur seberapa besar pun Berlin berusaha melupakan Sam dari ingatannya ia tetap tidak bisa melakukan hal itu, bahkan saat ini pun yang terlintas di otaknya hanya Sam, bukan siapapun.
"Oh Tuhan kenapa kau malah membuatku terperangkap dalam rasa ini, apa yang sebenarnya kau rencanakan untuk hidupku, surat apa yang telah kau takdir kan untuk kisah hidup ku, apakah hanya akan ada kisah sedih saja? tolong beri aku jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan ku Tuhan, " gumamnya dalam hati sambil menatap ke luar jendela mobil.
"Kamu kenapa? kok bengong sih? " tanya Daniel yang sedari tadi memperhatikan Berlin.
"Hah apa? " tanya Berlin yang tidak fokus.
__ADS_1
"Yeh, kamu kenapa bengong aja? " tanya kembali Daniel sambil menatap Berlin dengan tatapan sekilas.
"Gak kok gak papa, aku cuman bingung izin sama orang tuaku, untuk ikut perkemahan ini," balas Berlin berbohong, sambil menatap ke arah Daniel.
"Nanti gua bantu ngomong deh sama bokap dan nyokap luh, " timpa Anggun dari bangku belakang.
"Makasih yah, " ujar Berlin sambil menatap ke arah Anggun, sebenarnya kalau bicara dengan orang tuanya itu sangat gampang untuk Berlin ia hanya tinggal memohon kalau masih tidak di kabulkan ia tinggal menangis saja.
Mereka pasti akan mengabulkan semua permintaan Berlin apapun itu, namun tetap jika yang tidak membahayakan bagi dirinya yah.
Di tempat lain Sam sedang bersama dengan kedua temannya di sebuah kafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolahnya.
"Lu kenapa Sam? dari tadi kerjaannya bengong terus? " tanya Bayu yang melihat Sam hanya terdiam sambil melamun saja.
"Iya kek mau latihan jadi patung aja, emangnya ada kontes jadi patung? " timpa Jeremy sambil meminum sebuah kofi yang telah ia pesan tadi.
Bukannya menjawab Sam hanya menatap kedua temannya dengan tatapan dingin, lalu setelah itu ia kembali menatap ke arah jendela cafe yang berada di sampingnya.
"Yeh ni anak bukannya jawab malah kek orang beneran mau belajar jadi patung aja, " tanggapan Bayu yang melihat kelakuan Sam akhir-akhir ini menjadi semakin dingin.
Memang Sam itu setelah masuk SMA kelakuannya menjadi lebih dingin dari waktu sekolah SMP namun saat ini ia malah jadi Sedingin kutub utara.
"Lu mah kalau ngomong kayaknya mahal banget gitu kayaknya, " ujar Jeremy.
Tak ada suara yang di keluarkan oleh Sam, ia saat ini hanya ingin terdiam tanpa ingin di tangan kenapa.
__ADS_1
Terkadang ada di mana waktunya kita hanya ingin sendiri, dimana kita hanya ingin terdiam dan juga membisu, tak ada kata-kata yang ingin kita keluarkan padahal di dalam hati kita sejujurnya sedang kacau. Bukannya tidak percaya sahabat, namun memang ada kalanya waktu yang seperti itu memang ada, dimana kita tak mau membicarakan masalah kita dengan siapapun tidak terkecuali sahabat kita sendiri.