
Berlin sudah berada di rumahnya, kini hari sudah mulai malam. Saat ini Berlin sedang berada di balkon kamarnya memandang indahnya bintang di malam hari.
"Berlin kamu dimana? makan malam yuk, " Berlian ibunya memanggil dirinya dari balik pintu kamar Berlin.
"Iya mah, bentar. Aku akan keluar, " balas Berlin sambil berdiri dari tempat duduknya.
Saat ini Berlin sudah melangkahkan kakinya, lalu membuka pintu kamar itu dan pergi bersama ibunya menuju meja makan untuk makan malam. Di makan malam juga sudah ada ayahnya dan juga kakaknya, mereka sudah mulai makan malam.
Berlin duduk di samping ibunya, " Kamu mau makan apa? " tanya Berlian sambil berniat untuk mengambilkan makan.
"Tidak usah mah, biar aku saja, " balas Berlin, ia mengambil piring yang berada di tangan ibunya, lalu mengambil makanannya sendiri.
"Udah besar kali gak usah terlalu di manja, " ujar kakaknya Berlin sambil tersenyum kecut ke arah depan.
"Kamu tuh bicara apa sih? " balas Ayahnya Berlin sambil menatap ke arah Tio.
"Bicara Indonesia, karena kalau bicara bahasa Perancis gak bisa, " Ujar Tio tanpa menatap ke arah ayahnya yang sedang bicara.
Ayahnya menggelengkan kepala, ia benar-benar tidak mengerti dengan anaknya yang saat ini, sudah tau kenapa kedua orang tuanya memberikan hal yang berbeda pada adiknya karena mereka tau kondisi Berlin saat ini bagaimana.
__ADS_1
Memang orang tua mereka tidak memberitahukan kondisi yang sebenarnya pada Tio, mereka hanya tidak mau membuat Tio cemas. Tio hanya tau kalau Berlin itu sakit jantung biasa saja, walaupun sakit jantung biasa juga tetap berbahaya sebenarnya.
👑👑👑👑👑👑
Beberapa jam berlalu, kini matahari sudah mulai menampakan sinarnya, seorang gadis cantik sudah bangun dan baru saja keluar dari kamar mandi, ia akan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah selesai ia mulai turun menuju meja makan untuk sarapan.
Setelah sarapan ibunya memberikan dua kotak makanan untuk Berlim makan siang, sedangkan kotak yang satunya untuk Sam. Setelah itu Berlin langsung berpamitan untuk berangkat ke sekolahnya bersama dengan kakaknya Tio.
Di dalam mobil Tio tak mau bicara pada Berlin, sementara Berlin juga Canggung untuk memulai pembicaraan, beberapa menit berlaku akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah Berlin. Berlin langsung saja turun dan berpamitan untuk sekolah, sementara Tio hanya membalasnya dengan menganggukkan kepalanya.
Berlin pun saat ini mencari keberadaan Sam, akhirnya ia dapat menemukan Sam sedang bersama dengan beberapa teman wanitanya, dengan cepat Sam langsung berlari ke arah Sam dan berdiri di hadapan Sam.
Sam mengambilnya, dan Berlin pu tersenyum karena Sam mau menerimanya.
"Aku gak butuh makanan dari orang tuamu, " balas Sam sambil melemparkan kotak makanan itu ke sampingnya.
Berlin menatap nanar pada kotak makanan yang di lempar begitu saja oleh Sam, ia benar-benar tidak percaya apa yang Sam lakukan, bahkan wanita yang berada di samping Sam juga tidak percaya dengan apa yang Sam lakukan pada Berlin. Tiba-tiba air mata Berlin mengalir membasahi pipinya.
"Kalau kamu gak mau gak usah di lempar bisa kan? mamahku udah sudah payah buatkan ini untuk mu, kamu malah melemparkan begitu saja, " kesal Berlin, ia benar-benar kesal pada Sam, bagaimana bisa ia sampai melempar kotak makan itu.
__ADS_1
"Aku sudah peringatkan kamu satu hal, jangan pernah dekat dengan ku lagi, dan bilang pada orang tuamu jangan pernah berharap dengan ku, " bentak Sam sambil menatap tajam Berlin.
Berlin pergi ke letak kotak makannya, ia berniat untuk membereskan itu namun tiba-tiba Daniel datang dan menarik tangan untuk kembali berdiri, biarkan dia yang membereskan kotak makan itu, setelah Daniel membereskan itu ia langsung membuang semuanya ke tong sampah, karena kotak makannya juga ikut hancur.
Sam menatap ke arah mereka dengan tajam namun entah kenapa ada rasa sesak di dadanya saat ini, saat Sam akan melangkahkan kembali kakinya tiba-tiba ada Anggun berdiri di hadapan Sam.
"Aku gak ngerti dengan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran dan otak lu saat ini, kalau lu gak suka sama temen gue bukan berarti lu harus benci juga kan? " ucap Anggun sambil tersenyum kecut di hadapan Sam.
"Urusan lu apa dengan hidup gue? " tanya Sam tegas.
"Aku tau Sam kamu masih suka pada Berlin, benar kan? " yakin Anggun.
Sam tertawa meremehkan, " Gue udah bilang sama lu dan juga sama semua orang yang berada di sini, kalau gue gak suka sama orang yang penyakitan, " tegas Sam, memperjelas apa yang sudah ia katakan.
"Iya lu emang gak suka sama penyakitnya, tapi tidak pada Berlinnya kan? " ledek Anggun sambil memegang pundak Sam.
Namun Sam melepaskan tangan Anggun dengan kasar, " Lu kalau ngomong gak usah ngada-ngada, " balas Sam.
"Ya sudahlah kalau gak mau ngaku, aku cuman mau mengingatkan saja sama kamu, kalau suatu saat nanti akan ada yang mengingatkan mu untuk terakhir kalinya, dan pengingat nanti akan membuat mu menyesalinya untuk selama-lamanya, " ujar Anggun sambil memberikan buku yang ia temui kemarin.
__ADS_1
Setelah itu ia berjalan menuju ke arah Berlin dan membawanya ke kelas, sementara Sam saat ini malah menjadi patung sambil memandang buku yang di berikan Anggun padanya.