
Hari sudah mulai pagi, dan Berlin saat ini sudah berada di sekolah bersama ibunya, Berlian datang ke sekolah untuk menemui Sam, ia ingin membicarakan masalah Berlin yang ingin ikut berkemah besok.
"Mah itu Sam, " Berlin menunjuk Sam yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah.
"Sam, " panggil Berlian sambil melambaikan tangannya ke arah Sam.
Sam menghentikan langkahnya, sebenarnya ia sudah mengetahui siapa orang yang memanggilnya, karena suara itu sudah benar-benar terdengar familiar di otaknya. Sam kembalikan tubuhnya lalu berjalan ke dekat Berlian dengan wajah dan tatapan yang datar.
"Ada apa tante? " tanya Sam yang sudah berada di sana.
"Jadi begini Sam, besok Berlin mau ikut perkemahan tolong jagain dia yah. Tante gak bisa menitipkan Berlin selain sama kamu, " minta Berlian.
Sam pun mengangguk sambil menatap Berlin sekilas.
"Baiklah kalau begitu tante pergi dulu, " pamit Berlian sambil kembali masuk ke mobilnya.
Setalah mobil Berlian tak dapat lagi mereka lihat, tiba-tiba Sam menarik paksa Berlin menuju taman belakang sekolah, ia mendudukkan Berlin di kursi putih panjang yang berada di sana, sambil menatap Berlin dengan tatapan tajam.
"Lu kenapa sih? bisanya cuman nyusahin orang aja, " bentak Sam.
"Kamu tuh bilang apa sih? " tanya Berlin, ia kembali berdiri dan menghadap ke arah Sam.
"Kamu besok jangan ikut, kamu tau? kamu tuh cuman bakal buat aku susah doang di sana, " balas Sam tegas sambil menunjuk Berlin menggunakan jari telunjuknya.
Berlin menjatuhkan air matanya, " Kamu gak perlu jagain aku, di sana kamu bebas bermain sama siapapun, jangan pernah peduli sama aku, " ujar Berlin yang sudah lelah dengan Sam.
Berlin berjalan menabrak Sam, namun tiba-tiba ia di tahan oleh Daniel. Saat ini Sam menatap Daniel dengan tatapan tak suka, karena saat ini juga Berlin tengah menangis di pelukan Daniel.
"Anda tidak perlu menjaga Berlin, biarkan dia menjadi tanggung jawab saya, " ucap Daniel berwibawa sambil menatap tajam Sam.
Sam tersenyum kecut sambil berjalan menghampiri Daniel, " Bagus kalau memang itu yang ingin kau lakukan, " balas Sam, ia berjalan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Namun saat di persimpangan tiba-tiba tangannya Sam di tarik oleh seorang wanita yang membawa Sam menuju lorong kamar mandi, wanita itu memdorong Sam membentur tembok.
"Hey lu ngapain buat sahabat gue nangis lagi? " tanya Anggun sambil menatap horor Sam.
Bukannya menjawab pria di depannya ini malah tertawa, seakan-akan menertawakan Anggun.
"Hey aku bertanya pada mu, bukan sesang berkomedi, " Ujar Anggun yang kesak dengan kelakuan Sam.
"Aku melakukan ini juga untuk keselamatan Berlin, aku yakin Daniel orang yang baik, ia pasti menjaga Berlin ku dengan benar, " balas Sam sambil tersenyum dan berjalan meninggalakan Anggun yang masih menatap kesal Sam.
"Dasar pria gila, " teriak Anggun yang kesal dengan apa yang di katakan Sam.
Sam berjalan dengan santainya menuju kelasnya, namun tiba-tiba kedua sahabat nya datang dengan terburu-buru ke hadapan Sam dan nafas mereka juga tidak beraturan.
"Lu berdua kenapa? " Sam menghentikan langkahnya sambil menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Sam, Berlin Sam, " ucap Bayu menggantung.
"Lu kalau ngomong yang bener dong, jangan kek gitu, " balas Sam yang penasaran.
Tanpa menunggu apa-apa lagi Sam langsung pergi berlari menuju UKS untuk memastikan keadaan Berlin, namun saat ia sudah sampai di depan UKS ia melihat kalau Daniel juga berada di sana, dan ia sangat terlihat khawatir sekali pada Berlin. Akhirnya Sam memutuskan mengundurkan niatnya untuk pergi melihat Berlin, ia memilih untuk menunggu saja di kelas Berlin.
"Ngapain lu ke sini? " tanya Anggun sinis sambil duduk di sebelah Sam.
Sam hanya menatap datar pada Anggun, setelah itu ia menatap ke arah depan. Karena bel masuk sudah berbunyi pertanda guru juga akan segera datang. Anggun duduk di samping Sam sambil menatap aneh pada Sam, ia benar-benar tidak mengerti dengan manusia berkepala batu ini.
Guru yang akan mengajar di kelas itu pun masuk dan segera memulai pelajaran hari ini, " Sam? " panggil Anggun perlahan, ia tidak mau ada orang yang mendengarnya selain Sam
Sam menatap ke arah Anggun sambil mengangkat kan kedua alisnya.
"Lu bakal ikut besok? " tanya Anggun perlahan.
__ADS_1
"Iya, " balas Sam agak acuh.
"Jagain si Berlin yah, " pinta Anggun.
"Lu udah tau dong orang tuanya Berlin percaya banget sama lu, gue juga percaya banget kok sama lo, " sambung Anggun.
"Lu gak perlu nyuruh gue lagi, udah pasti gue jagain dia, " balas Sam datar tanpa menatap Anggun.
Sementara itu di ruang UKS saat ini Berlin sudah sadar ia di sana bersama dengan Daniel yang setia menemani dirinya dari tadi.
"Kamu gak papa kan? " tanya Daniel khawatir.
"Aku gak papa kok, ini udah biasa, " balas Berlin yang kini sudah mendudukkan tubuhnya di kasur.
"Berlin, " panggil Daniel lembut.
"Iya apa? " saur Berlin sambil menatap wajah Daniel.
"Jangan pernah buat aku khawatir lagi yah, stop pikirin Sam! dia bukan lagi sahabat kamu yang dulu, ingat dia sudah berubah, " ujar Daniel yang kasihan dengan Berlin yang selalu dikasari oleh Sam.
"Tapi aku merasa Sam masihlah Sam yang dulu, " bela Berlin, entah kenapa ia selalu yakin kalaulah di dalam hatinya Sam, Sam masihlah dirinya yang dulu ia kenal.
"Gak ada, kamu lupain dia saat ini juga, aku siap mengantikan peran Sam di hidup kamu, " ujar Daniel, ia sudah mulai memiliki rasa pada Berlin. Ia tidak tega kalau melihat gadis ini terus-menerus terluka karena kelakuan kurang ajar Sam.
"Aku akan belajar melupakan dia sebisanya, karena melupakan seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita itu sulit, " Balas Berlin, ia akan belajar melupakan Sam, namun itu mesti w menghabiskan waktu yang cukup lama.
"Itu tidak masalah, aku akan selalu menemani mu, " Daniel berjanji kalau dirinya akan selalu menemani Berlin.
"Boleh aku peluk kamu? " pinta Berlin ragu.
Daniel tersenyum lalu merentangkan tangannya, sambil mengangguk. Berlin pun langsung memeluk Daniel, " Dulu Sam suka meluk aku, jadi kalau kamu mau gantiin Sam kamu harus siap aku peluk kapan pun, " ujar Berlin sambil tersenyum di pelukan Daniel.
__ADS_1
"Aku akan siap menerima pelukan dari mu, " balas Daniel sambil mengelus-ngelus punggung Berlin.
Melupakan seseorang yang sudah jelas sangat berarti untuk hidup kita itu bukanlah hal yang mudah, tak ada orang yang baik-baik saja saat di suruh melupakan orang yang dia sayang secepat mungkin.