
"Ngapain ketawa? " tanya Anggun sambil menatap Bayu dan Jeremy.
"Gak papa, bukan urusan kalian juga. Kalau mau berantem terusin lagi aja sana, " balas Bayu.
"Tau ahhh, " ujar Anggun malas.
Di tempat lain Berlin sedang mencari keberadaan Anggun, " Tuh anak kemana sih? " tanya Berlin pada dirinya sendiri sambil kebingungan.
"Hey kalian liat Anggun gak? " tanya Berlin pada murid wanita yang berada di sebelahnya.
"Enggak tuh, tadi sih liat cuman setelah lu pergi gue gak liat dia lagi deh, " balas murid itu yang tak tau keberadaan Anggun.
"Ya udah makasih yah, " ucap Berlin yang berjalan menuju kantin, siapa tau aja Anggun ada di sana.
Saat sampai di kantin benar saja wanita itu ternyata berada di kantin, " Hey, " sapa Berlin yang sudah berdiri di samping Anggun.
Anggun menatap Berlin dengan tatapan malas, " Apa? " tanya Anggun malas.
Berlin duduk di sebelah Anggun, " Kok di sini sih? kan sekarang Daniel lagi main, " tanya Berlin ramah.
"Bukan urusan lu, " balas Anggun sinis.
"Lu kenapa sih? " tanya Berlin yang merasa Anggun hari ini berbeda.
"Itu juga bukan urusan lu, " balas Anggun sambil berdiri dan pergi dari hadapannya.
"Hey lu mau kemana? " tanya Berlin sambil teriak.
"Gue udah bilang kan bukan urusan lu, " balas Anggun tanpa menatap Berlin.
Berlin langsung menatap Bayu dan Jeremy, sedangkan Bayu dan Jeremy menggelengkan kepalanya pertanda bahwa mereka tak tau apa-apa soal ini.
"Sam Anggun kenapa? " tanya Berlin pada Sam.
"Tau, " balas Sam sinis tanpa menatap balik Berlin.
"Ahhhh percuma aja gue tanya sama lu, " ucap Berlin yang merasa percuma jika bertanya pada Sam, pria itu pasti tak akan menjawabnya.
Sam juga ikut berdiri dan pergi dari hadapan Berlin, Berlin yang melihat ini semakin kebingungan. Ia tak tau kalau dirinya salah kalaupun ia salah tapi mereka bisa cari tahu dong salahnya di mana? bukan langsung seperti sekarang ini.
"Mereka tuh kenapa sih? Kalau emang aku salah bisa kan ngomong baik-baik sama aku, jangan kayak gini, " gumam Berlin sedih.
Tiba-tiba jantungnya malah berdebar tidak normal, dadanya terasa sakit. Berlin memegang dadanya sambil merintis kesakitan.
"Lu kenapa? " tanya Bayu khawatir.
__ADS_1
"Gue gak papa kok, " balas Berlin yang merasa ini tak akan berlangsung lama.
"Kita ke UKS aja yuk, " ajak Jeremy yang takut terjadi apa-apa pada Berlin.
"Gue gak papa kok beneran, " balas Berlin yang masih kekeh.
"Ya udah lu tenang aja yah, jangan mikirin mereka dulu, nih minum dulu minum dulu, " Bayu memberikan minumannya pada Berlin.
Berlin dengan perlahan meminum air yang Bayu berikan, setelah beberapa menit akhirnya detak jantungnya kembali normal. Rasa sakitnya juga perlahan-lahan sudah mulai hilang, Berlin sudah tenang saat ini.
"Gue ke kelas dulu yah, " ucap Berlin lemah sambil berdiri.
"Kita anterin yah? gue takut lu pingsan di jalan, " balas Bayu yang mau mengantarkan Berlin ke kelas.
"Gak usahlah ngerepotin kalian aja, " ucap Berlin.
"Gak papa, " timpa Jeremy.
Kini mereka berdua pun berjalan dengan berdampingan ke kelasnya, setelah sampai di tempat duduk Berlin langsung duduk dan menidurkan kepalanya di atas meja.
"Eh lu panggil Daniel sana, " bisik Bayu pada Jeremy.
"Lu mau makin besar masalahnya? " balas Jeremy.
"Kalau di pikir-pikir iya juga sih, " balas Jeremy yang kalau memang di pikirkan nyawa Berlin lebih berharga.
"Ya udah gue pergi dulu yah, " sambung Jeremy sambil berlari ke luar kelas untuk mencari Daniel.
Sementara Bayu menunggu Berlin, karena di kelas itu tak ada siapapun selain mereka berdua. Bayu duduk di depan meja Berlin sambil menatap kasihan pada gadis itu.
Berlin mendongkrak kepalanya menatap Bayu, " Kalau lu mau pergi, pergi aja. Gak papa kok, " ucap Berlin.
"Gak gue nungguin orang dulu, " balas Bayu yang merasa tak tega jika harus meninggalkan Berlin.
Beberapa menit kemudian Daniel datang dan langsung berjongkok di hadapan Berlin dengan nafas yang tak beraturan.
"Lu gak papa? " tanya Daniel khawatir.
"Emangnya gue kenapa? " tanya balik Berlin.
Daniel langsung menatap Jeremy, sedangkan Jeremy hanya cengengesan sambil menarik Bayu untuk pergi dari sana.
"Ya udah kita pergi dulu yah, " ucap Bayu sambil melambaikan tangannya.
Daniel langsung duduk di lantai sambil menormalkan nafasnya, Berlin ikut duduk di lantai menghadap ke arah Daniel sambil tersenyum.
__ADS_1
"Menang gak? tadi tuh aku mau liat kamu cuman aku malah nyariin Anggun. Maaf yah?" ucap Berlin yang merasa bersalah karena tidak melihat Daniel tadi.
"Menang dong, it's okay gak papa, " balas Daniel dengan wajah sombongnya.
"Nih, " Berlin mengeluarkan minuman dan sapu tangan dari tasnya, yang langsung ia berikan pada Daniel.
"Mau sama lu, " manja Daniel sambil menyodorkan wajahnya ke hadapan Berlin.
"Manja deh lu jadi orang, " balas Berlin yang langsung membersihkan keringat yang berada di wajahnya Daniel.
"Udah tuh, " sambung Berlin sambil melemparkan sapu tangan itu ke wajahnya Daniel.
Daniel tersenyum sambil menatap hangat Berlin, " Minum, " pinta Daniel.
"Ya ampun nih ambil, masa mau aku bukain juga? " balas Berlin sambil memberikan botol minum itu pada Daniel.
"Ya udah deh iya aku buka sendiri aja, " ucap Daniel sambil memasang wajah bete.
Setelah minum Daniel langsung menyimpan botol minum itu di samping kanannya, " Nanti pulang sekolah nya sama gue aja yah, " ucap Daniel.
"Ok, " balas Berlin datar.
Tanpa mereka sangka tiba-tiba suara pintu di tutup dengan paksa membuat Berlin dan Daniel kaget dan langsung menatap ke arah pintu, rupanya yang melakukan itu adalah Anggun.
Berlin dan Daniel memang tak merasa melakukan apapun jadi mereka bersikap biasa saja, mereka bangun.
"Napa sih lu? " tanya Daniel sinis sambil menatap Anggun.
"Kenapa? gak boleh? " tanya balik Anggun sambil duduk di kursinya.
"Kalau misalkan Berlin kenapa-napa gimana? lu barusan bikin kaget kita aja, " balas Daniel kesal.
"Hey, lu bisa liat kan kalau sekarang Berlin gak kenapa-napa? ya udahlah orang dia masih hidup kok, " ucap Anggun sambil tersenyum sinis.
"Lu tuh kenapa sih? kenapa lu sekarang kayak gini? " tanya Daniel yang tak mengerti kenapa Anggun menjadi seperti ini.
"Lu tanya sama dia, " balas Anggun sambil menunjuk Berlin.
"Gue? apa salah gue? " tanya Berlin yang emang tak tau salahnya apa.
"Pikir aja sendiri, " balas Anggun.
"Apa susahnya sih lu ngomong gue salah apa, biar kalau emang gue salah gue bakal perbaiki tapi kalau lu salah paham nanti gue jelasin, " jelas Berlin.
Bukannya menjawab Anggun malah tersenyum sinis ke arah Berlin.
__ADS_1