
"Yah aku tau kalau pada dasarnya dia tidak akan pernah mencintaiku, aku juga tau kalau aku hanyalah benalu dalam hidupnya, aku tau aku hanyalah noda di hidupnya. Tapi kenapa hatiku masih mencintai nya? padahal apa yang sudah ia lakukan padaku hanya menitipkan perih saja, dan pada dasarnya aku tau dia tidak akan pernah mencintaiku, " ucap Berlin sambil menatap datar sahabat nya yang sudah dengan setia mendengarkan ucapan seperti itu setiap harinya dari mulut Berlin.
"Aku sudah bilang kan padamu, lupakan dan tinggalkan dia, kau tidak capek apa bicara panjang lebar itu di setiap paginya pada ku, aku saja sudah pegal mendengar kalimat itu, " balas Anggun yang sudah muak mengingatkan Berlin. Karena pada akhirnya Berlin akan tetap mengejar-ngejar Sam, pria yang bahkan tidak punya perasaan sama sekali pada dirinya.
"Andai aku tau pada akhirnya Sam akan seperti ini padaku sekarang, mungkin dulu pas dia ingin berkenalan dengan ku. Aku tinggalkan saja dia, " ucap Berlin sambil memegang kepalanya yang sudah benar-benar mau pecah.
"Udah ah jangan mikirin orang yang gak punya perasaan itu, kalau pala lu pecah gue yang repot, " ujar Anggun.
Sementara itu di tempat lain Sam sedang bersama dengan Jeremy dan juga Bayu, " Kenapa lu bengong aja? " tanya Bayu yang melihat Sam sedari tadi hanya bengong.
"Sudahlah aku benar-benar pusing, " balas Sam sambil menyimpan kepalanya di atas meja, mereka saat ini sedang berada di kantin sekolah.
"Tumben lu tadi nolongin si Berlin, " heran Bayu.
Sam menatap Batu dengan tatapa tajam, bahkan ketajamannya mengalahkan Elang, " Gue nglakuin itu cuman karena orang tuanya, jangan pernah berpikir yang tidak-tidak, " balas Sam tegas, setelah itu ia kembali memalingkan tatapannya dari Bayu.
"Alah bisa aja kalau lu ngomong, emangnya kita gak bisa liat apa kalau itu begitu menghawatirkan Berlin, " timpa Jeremy, ia tau kalau pada dasarnya Sam sedang berbohong padanya.
"Jangan pernah buatku marah, " balas Sam, ia kesal dengan kedua temannya lalu ia berjalan meninggalkan mereka menuju rooftop.
"Tungguin napa, jangan marah nanti lu cepet tua, " ujar Bayu sambil mengejar Sam, diikuti oleh Jeremy yang juga mengejar Sam menuju rooftop sekolah.
__ADS_1
Di ruang UKS Berlin sudah mulai bosan, lalu setelah itu ia bersama Anggun berniat untuk pergi ke kantin, rupanya Berlin saat ini sudah sangat lapar sedari tadi cacing di dalam perutnya berteriak minta makan terus. Namun saat di perjalanan ia malah menabrak seorang pria.
"Sorry gue gak sengaja, " ucap Berlin sambil menunduk meminta maaf pada pria yang barusan ia tabrak.
"Gak papa kok, " balas pria itu sambil tersenyum ke arah Berlin.
"Bentar, " Berlin menarik tangan pria itu lalu memutarkan pria itu.
"Kamu anak baru yah? " tanya Berlin sambil menghentikan putarannya.
"Iya memangnya kenapa? ada yang salah denganku? " tanya pria itu heran.
"Tidak aku hanya baru melihat mu saja, " balas Berlin sambil membalas senyuman pria tampan di depannya itu.
"Iya, aku masih belum terbiasa dengan sekolah dan lingkungan di sini, " jawab pria tersebut.
"Perkenalkan namaku Berlin dan ini sahabat ku namanya Anggun, " Berlin memperkenalkan dirinya beserta ia juga mengenalkan sahabat nya.
"Gue Daniel, " balas pria yang namanya adalah Daniel tersebut.
"Ya udah ikut kita ke kantin aja kalau gitu, " tawar Berlin ia merasa kalau pria ini benar-benar butuh teman.
__ADS_1
"Baiklah, " Daniel menyetujui ajakan Berlin saat ini ia dan Berlin juga Anggun sedang berjalan berdampingan menuju kantin.
Hingga sampailah mereka di kantin, dan mereka memesan makanan untuk mereka makan dan juga memesan minuman untuk minuman, dan pesanan mereka saat ini sudah datang.
"Kamu pindahan dari mana? " tanya Berlin dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kamu tuh kalau makan jangan banyak bicara, " yang membalas ucapan Berlin bukanlah Daniel melainkan Anggun, Anggun kesal kenapa sahabat selalu berbicara.
"Memangnya ada apa, masalah buat kamu? " tanya Berlin sambil menatap ke arah Anggun.
"Bukannya begitu tidak enak di lihat saja, " balas Anggun yang merasa apa yang di lakukan Berlin benar-benar sangat tidak sopan.
"Kalian sudah berteman cukup lama yah? " Tiba-tiba Daniel berbicara membuat keduanya langsung menatap ke arah Daniel.
"Kalau kalian gak mau jawab gak papa kok, tapi jangan liatin aku dengan tatapn yang seperti itu dong, " sambung Daniel yang merasa di tatap aneh oleh mereka berdua.
Berlin pun tersenyum, " Ah sorry kebiasaan, kita emang temenan udah lama, jadi dimaklumi aja la yah kalau kosa sering berantem atau berbeda pendapat, " balas Berlin.
"Seru yah kayaknya kalau aku punya persahabatan sama kayak kalian, " ujar Daniel.
"Gak semua ikatan persahabatan itu seru, kadang persahabatan juga membawa malam petaka buat kita, " balas Berlin ia menyindir dirinya sendiri, tentang persahabatan nya dengan Sam yang pada akhirnya hanya membuat sebuah luka yang mendalam, dalam hatinya.
__ADS_1
Luka yang bahkan ia juga tidak tau bagaimana cara menyembuhkannya. Mereka pun meneruskan acara makannya sampai bel tanda masuk pun berbunyi dan membuat mereka kembali ke Jelasnya untuk melakukan pembelajaran.