
"Nih, " Sam melemparkan snack yang ia bawa dari kantin untuk Berlin.
"Jangan geer, gue beliin ini buat lu cuman supaya lu tutup mulut sama guru, jangan bilang kalau gue ada di sini, lagi males belajar, " Sam memotong ucapan yang akan Berlin katakan.
"Ih ngapain juga gue geer sama lu, gak bakalan pernah lagi, " balas Berlin yang membantah perkiraan Sam.
"Tapi ngomong-ngmong makasih yah, kebetulan gue emang lagi laper, " sambung Berlin yang langsung membuka snack itu.
Sam juga memakan snack yang ia bawa sendiri dari kantin, sambil menatap layar ponselnya. Sam sedang bermain Game, Sam memang akan sangat sulit di ganggu jika sedang main Game.
"Sam, ngapain sih serius amat? " tanya Berlin penasaran sambil memperhatikan Sam dari jauh.
"Lagi tidur, " balas Sam ngasal.
"Teh ditanya juga, " ucap Berlin.
"Lu gak liat apa gue lagi ngapain? masih aja nanya, gak punya mata lu, " balas Sam ketus.
"Ampun deh Sam, lu lagi PMS yah? dari tadi kerjaan nya marah-marah mulu, gue juga tau lu lagi main game, cuman yah basa-basi aja kali. Biar gak bosenin gitu, kan ponsel gue mati, " ucap Berlin kesal karena Sam benar-benar tukang marah-marah.
"Kalau mati kubur aja napa, " balas Sam.
"Eh, lu kira HP gue mayat, di kubur, " ucap Berlin sambil mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Kan kata lu mati tadi, " ujar Sam tanpa menatap ke arah Berlin sedikit pun.
"Tau ah, pusing gue bicara sama lu mah, " balas Berlin sambil memalingkan tatapannya dari Sam, bisa-bisa kalau Berlin kembali menatap Sam terlalu lama ia akan kembali suka lagi.
Tadi para petugas PMR izin keluar karena ada panggilan dari gurunya, jadi di ruangan itu hanya ada mereka berdua saja. Setelah Sam bosan dengan gamenya ia langsung menyenderkan tubuhnya di senderan kursi sambil menatap Berlin yang sedang makan snack yang tadi ia belikan.
"Mau minum, " ucap Berlin sambil menatap Sam dengan tatapan memelas.
"Ambil aja sendiri, " balas Sam sambil memalingkan tatapannya dari Berlin.
"Ih kalau aku bisa, aku bakalan ambil sendiri, tapikan kakiku sakit, " ucap Berlin manja. Tapi memang Berlin belum bisa berjalan sih, apalagi tempat minum tuh jauh dari tempat Berlin duduk.
"Gak mau, " balas Sam yang benar-benar tak mau mengambilkan minum itu.
__ADS_1
"Ih kalau aku mati kehausan gimana? " tanya Berlin.
"Jangan pernah bawa-bawa kematian bisa gak, lu tuh suka banget yah main-mainin kata itu. Lu gak tau seberapa menakutkannya kematian? " Sam malah menceramahi Berlin.
"Iya-iya, ya udah sekarang ambilin minum, " balas Berlin sambil menujuk tempat minum.
Sam berdiri lalu mengambilkan minuman untuk Berlin, setelah itu Sam langsung memberikannya pada Berlin, " Nih minum sekalian sama gelasnya, " ucap Sam, setelah itu ia kembali duduk di sofa.
"Tapi kan kalau aku minum sama gelasnya nanti aku-" ucapan Berlin di potong oleh Sam.
"Sekali lagi lu bilang mati, gue gak bakalan maafin lu, " potong Sam tegas.
Berlin langsung terdiam sambil menatap Sam, Sam terlihat menakutkan saat ini, " Sudah yah kalau bercanda sama orang yang emang udah jahat dari lahir, untung lu ganteng jadi terselamatkan, " balas Berlin namun sedikit takut.
"Mati tuh gak bisa di bercandain tau gak? " ucap Sam kembali membentak Berlin.
"Iya-iya, bawel banget si lu jadi orang, bawelnya itu melebihi cewek tau gak, " balas Berlin yang sudah pusing mendengar ocehan dari mulutnya Sam.
Beberapa waktu kemudian bel pulang pun berbunyi, Anggun datang ke ruangan itu sambil membawakan tas Berlin, tapi Anggun tak datang sendirian ia datang bersama dengan Daniel.
Sam berdiri lalu pergi dari sana, Berlin hanya menatap kepergian Sam dengan tatapan kesalnya.
"Dia kok ada di sini sih? " tanya Daniel yang baru sadar atas kehadiran Sam di sana.
"Tau ah gue gak peduli, " balas Berlin malas.
"Udah ah mendingan kita pulang sekarang, kita Party-part deh di kafe, " timpa Anggun yang langsung membantu Berlin untuk turun dari kasurnya.
Berlin melihat ponsel Sam yang tertinggal di sofa, sepertinya Sam tak sengaja meninggalkan ponselnya.
"Eh ambilin ponsel itu dong, " pinta Berlin pada Daniel.
Daniel langsung menatap ponsel itu dan langsung mengambilnya, ia memberikan ponsel itu pada Berlin.
"Ponselnya Sam yah? " tanya Anggun yang kenal dengan ponsel itu.
"Iyah, " balas Berlin yang langsung menyimpannya di saku bajunya.
__ADS_1
"Gimana kalau gue aja yang kasih tuh ponselnya, " Daniel berniat memberikan ponsel itu pada Sam.
"Gak papa biar gue aja, sekalian ada beberapa hal yang mau gue omongin sama Sam, " balas Berlin berbohong, sebenarnya tak ada hal apapun yang ingin ia katakan pada Sam.
"Em, kayaknya ke kafe nya kita undur besok aja yah, gue masih ngeri sama kaki lu, " ucap Daniel sambil menatap kaki Berlin yang masih bengkak.
"Ahhh gagal deh, " ucap Anggun yang merasa sedih.
"Tapi gak papa kok, demi sahabat tercinta ku, kamu mau pulang sama siapa? " tanya Anggun sambil menatap Berlin.
"Aku pulang di jemput sama kak Tio, tapi aku udah telpon dia kok, " balas Berlin.
Kini mereka bertiga langsung meninggalkan ruangan itu dan pergi menuju parkiran, saat di parkiran mobil Tio sudah stanby menunggu Berlin.
"Aku pulang duluan yah, " pamit Berlin sambil melambaikan tanganya ke arah Daniel dan Anggun.
"Bisa sendiri? " tanya Daniel yang masih khawatir.
"Aku bisa kok, " balas Berlin sambil berjalan dengan keadaan kaki yang sudah tidak terlalu sakit.
Berlin saat ini sudah masuk ke mobil Tio, tanpa banyak bicara kembali Tio langsung menyalakan mobilnya, tak ada obrolan di dalam mobil itu.
"Aku mau ke rumahnya Sam dulu, " ucap Berlin sembari memecahkan keheningan.
Tak ada jawaban dari mulutnya Tio, ia hanya terdiam sambil menatap kedepan. Berlin tertawa ketus saat melihat kakaknya benar-benar tak menjawab ucapannya.
"Kayaknya kalau aku mati kakak bakalan gak peduli juga yah, " ucap Berlin sambil tertawa namun hatinya sangat merasakan sakit.
Tio benar-benar tak berniat menjawab apapun yang Berlin katakan.
"Aku bersyukur deh kalau kakak emang gak bakalan ngerasa kehilangan kalau aku benar-benar mati, jadi sekarang sudah ada dua orang yang paling aku sayang dan mereka gak peduli sama kematian aku. Terusin ya kak, aku juga bakal lakuin itu sama mereka yang masih sayang sama aku, " ucap Berlin panjang lebar sambil menahan air matanya.
"Aku gak mau mereka sedih saat aku benar-benar meninggalkan dunia ini, tapi aku janji di kehidupan selanjutnya aku akan membuat kalian jatuh cinta kembali pada ku, " sambungnya sambil tersenyum.
"Aku juga sekarang sudah tau kok apa yang sebenarnya terjadi padaku, tapi ya sudahlah aku harus tetap semangat menjalankan sisa hariku, " lantunya, sekuat apapun Berlin menahan air matanya ia tetap menjatuhkan air mata itu.
Namun dengan cepat Berlin menghapusnya kembali.
__ADS_1