
Hari sudah mulai sore saat ini Berlin di tenda bersama dengan Anggun. Mereka baru selesai membereskan tenda mereka, sedangkan yang lainnya seperti nya sudah berada di lapangan. Kegiatan pertama seperti nya akan segera di mulai.
"Ke luar yuk, " ajak Berlin sambil berdiri.
"Bentar, " balas Anggun sambil mengambil ponselnya yang berada di tas.
Setelah mengambil ponsel mereka berdua langsung berjalan keluar dari sana, mereka pergi ke arah peserta lain yang sudah menunggu di lapangan perkemahan.
Sedangkan Sam saat ini masih terdiam di tendanya bersama dengan kedua sahabat nya, " Mau pergi ke sana gak lu? " tanya Bayu yang sudah siap pergi ke lapangan perkemahan.
Bukannya menjawab Sam malah menatap datar ke arah Bayu.
"Gue nanya Sam, jawab napa sih. Mulut itu di gunakan untuk berbicara bukan buat pajangan doang, " kesal Bayu yang pertanyaannya tidak di jawab oleh Sam.
Tiba-tiba jeremy memukul pundak Bayu, " Terus kalau yang bisu kayak gimana? kan dia punya mulut tapi gak bisa bicara. Dengan nama lain mulutnya cuman di jadiin pajangan doang dong, " timpa Jeremy sambil berpikir.
Bukannya bicara Sam malah pergi duluan menuju lapangan meninggalkan kedua sahabatnya yang sedari tadi menunggunya. Jeremy dan Bayu malah saling tatap.
"Gue tungguin juga dari tadi, " kesal Bayu sambil menatap punggung Sam.
"Eh lu belum jawab pertanyaan gue, " timpa Jeremy sambil kembali memukul Bayu.
"Pertanyaan yang mana bambang? " tanya Bayu sambil menatap Jeremy kesal.
"Yang tadi, yang orang bisu itu, " balas Jeremy.
"Ah berisik luh ah, " ujar Bayu sambil berjalan meninggalkan Jeremy yang masih terdiam di tempat.
"Ya udahlah nanti gue cari tau sendiri aja gunanya bibir selain di jadiin pajangan di orang bisu, " gumam Jeremy sambil berjalan mengejar Bayu dan juga Sam yang sudah agak jauh darinya.
Sam berjalan mencari Berlin, rupanya saat ini Berlin sudah bersama dengan Anggun dan juga Daniel membuat dirinya kesal. Sam mempercepat langkahnya ke arah Berlin.
"Eh tuh anak mau kemana sih? cepet amat jalannya, " ujar Bayu yang masih mengejar Sam.
__ADS_1
Sam berdiri di samping Berlin menyenggol Daniel dari sana, padahal di samping kanan Berlin masih kosong. Berlin sempat kaget dengan kedatangan Sam yang langsung memegang tangannya, Berlin menatap ke arah Sam sambil tersenyum.
Sedangkan Sam terlihat masih jual mahal, ia masih menatap angkuh ke arah depan. Kedua temannya Sam datang dengan nafas yang tidak beraturan, "Lu-Lu malah ni-ninggalin kita, " ujar Bayu.
"Iya, capek tau gak, " timpa Jeremy.
"Siapa suruh lu ngikutin gue? " tanya Sam sinis sambil menatap ke arah keduanya dengan tatapan dinginnya.
"Akhirnya lu ngomong juga, gue udah khawatir lu bisu tau gak, " ujar Bayu kegirangan sambil mendudukkan tubuhnya di tanah.
"Emangnya sedari tadi dia gak mau bicara? " tanya Berlin sambil menatap ke arah mereka berdua dan mengerutkan keningnya.
"Asal lu tau aja yah, gue udah kayak ngomong ama patung. Di jawab kagak apalagi di tanggepin, kayaknya bentar lagi gue bakalan mundur ada deh, " balas Bayu.
"Mundur? ngapain mundur? " tanya Anggun yang juga mendengarkan ucapan mereka.
"Iya kita akan mengundurkan diri dari persahabatan gue sama dia. Iya gak jer? " ujar Bayu sambil menatap ke arah Jeremy.
"Gue gak peduli kalian gak mau jadi temen gue lagi, asal kalian harus siap aja kehilangan apa yang kalian sudah dapat saat ini, " balas Sam tampak acuh.
"Bercanda gue Sam, " ucap Bayu sambil berdiri dan menatap melas pada Sam. Ia hanya bercanda dengan semua ucapan yang ia ucapkan barusan.
Karena pada kenyataannya apa yang saat ini mereka berdua dapatkan berkat Sam, dari mulai ketenaran bahkan fasilitas mereka Sam lah yang menanggungnya. Jadi mereka tidak akan benar-benar meninggalkan Sam, kalaupun mereka mau berarti mereka harus siap kehilangan semuanya.
"Ya udah, " balas Sam singkat. Pria itu masih memegang tangan Berlin yang mungil itu.
Sedangkan saat ini Daniel sedang kesal dengan Berlin, ia berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan mendapatkan hatinya Berlin bagaimana pun caranya, ia tidak peduli dengan hal itu. Jujur saja kepolosan dan kecantikan Berlin dapat merebut hatinya Daniel.
Anggun pindah tempat, ia saat ini berdiri di samping Daniel berniat untuk menyemangati nya. Ia tau kalau pada dasarnya Daniel memang sudah suka dengan Berlin, namun ia masih belum bisa mengungkapkan semuanya pada Berlin, ia takut kalau Berlin malah akan menjauhinya.
Panitia penanggung jawab acara ini datang ke depan dan memberikan sambutan dan memberi tahu kegiatan apa saja yang harus mereka lakukan saat ini.
"Baiklah anak-anak sore ini kita mulai dengan acara makan terlebih dahulu. Kemarin bapak sudah bilang kan kalau makan pertama kalian harus bawa dari rumah, jadi untuk kali ini kalian makan-makanan yang kalian bawa terlebih dahulu, " ujar Panitia itu.
__ADS_1
"Jika tidak ada yang bawa makanan kalian bisa ngambil makan di tenda panitia, " lanjutnya kembali.
"Baiklah kalian bisa makan bersama di sini, sekarang kalian bawa bekal kalian terlebih dahulu, " Lanjutnya lagi.
"Kamu bawa makan? " tanya Berlin pada Sam.
Sam menatap datar ke arah Berlin, " Enggak, " balasnya sambil menggeleng.
"Ya udah aku juga gak bawa makan, aku bawa ke tenda panitia aja yah, " Berlin berniat mengambilkan makanan untuk Sam.
Namun tiba-tiba tangannya di tarik oleh Sam, " Biar aku aja yang ngambil, kamu tunggu di sini aja, " ucap Sam sambil melepaskan tangannya Berlin lalu kini Sam berjalan menuju tenda panitia.
Berlin terlihat tersenyum kegirangan menatap kepergian Sam, bahkan kini jantungnya berdetak tak karuan, namun bukan karena penyakitnya. Berlin memegang jantungnya sambil tersenyum manis.
"Lu kenapa? jantung lu sakit lagi? " tanya Anggun panik.
Berlin menatap ke arah Anggun, " Bukan sakit karena penyakit jantungku, tapi karena aku sedang kembali merasakan debaran jatuh cinta, " balas Berlin yang benar-benar sedang kegirangan.
"Alah luh, " ujar Anggun yang kesal pada Berlin, dia sudah khawatir dengan keadaan Berlin. Namun tau-taunya dia hanya kegirangan karena kelakuan Sam yang mendadak manis dan mulai kembali seperti dulu.
"Gue gak lagi mimpi kan? " tanya Berlin sambil menatap ke arah Anggun.
"Kagak, " balas Anggun acuh.
"Ah beneran? " tanya Berlin sekali lagi.
Tiba-tiba Anggun memukul tangan Berlin dan Berlin meringis kesakitan, " Ngapain lu mukul gue? " tanya Berlin sambil memegang tangannya.
"Katanya lu gak percaya kalau ini bukan mimpi, " balas Anggun.
"Waoo ternyata bener ini bukan mimpi, ahhhh seneng banget gue, " teriak Berlin kegirangan. Bukannya marah pada Anggun kini Berlin malah memeluk Anggun dengan sangat erat.
Daniel merasa ia mungkin hanya akan mendapatkan kesempatan kecil untuk mendapatkan hatinya Berlin. Melihat sebahagia ini Berlin ketika mendapatkan perlakuan yang terbilang sangat biasa saja dari Sam, mungkin Daniel hanya bagian kecil di hidupnya Berlin. Namun pria ini tetap tidak akan menyerah apapun itu.
__ADS_1