
Daniel, Berlin dan Anggun kini sudah berada di depan kelasnya Berlin, Daniel menghadapkan Berlin agar menatapnya, Berlin pun menatap mata Daniel.
"Gue bakal bantu lu lupain pria brengsek itu, " ucap Daniel, ia berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan membantu Berlin untuk melupakan Sam, pria yang tidak punya hati sama sekali.
Berlin melebarkan senyumnya, " Makasih udah mau bantuin gue, " balas Berlin ia juga menghapus air matanya menggunakan punggung tangan.
"Ya udah kamu belajar yang rajin yah, " ucap Daniel sambil melepaskan tangan Berlin, lalu setelah itu Anggun menggandeng tangan Berlin untuk masuk ke kelasnya.
Anggun mendudukkan Berlin di kursi ternyaman nya, sedangkan Anggun duduk di kursi dirinya, "Gue bakal bantuin lu buat lupain si brengsek itu, " ucap Anggun sambil menatap Berlin dan tersenyum, memberikan dorongan pada Berlin untuk dia berubah.
"Makasih yah, " balas Berlin sambil memeluk Anggun.
"Aku akan selalu menemanimu, " ujar Anggun sambil membalas pelukan Berlin, lalu setelah itu mereka berdua melepaskan pelukannya karena guru sudah mau masuk.
Bel tandanya masuk pun berbunyi menggema di seluruh sudut penjuru, bahkan sampai di kamar mandi, di gudang, termasuk di kantin, suara Bel masuk akan sangat berbunyi keras, katanya sih biar tidak ada alasan murid yang telat bilangnya tidak denger Bel masuk.
Itu akan menjadi alasan untuk orang yang tidak dapat mendengar saja. Jam pelajaran sudah mulai di mulai dan saat ini di kelas Berlin sedang belajar tentang Matematika, pelajar yang hampir membuat semua orang pusing di buatnya setelah Fisika dan kimia.
Beberapa jam berlalu, kini sudah mulai waktu nya istirahat, Daniel sudah menunggu Berlin dan Anggun di depan pintu masuk kelas.
"Sejak kapan kamu ada di sini? " tanya Berlin yang saat ini mereka tengah berjalan menuju kantin.
"Beberapa menit sebelum Bel berbunyi, " balas Daniel sambil menatap ke arah depan.
"Kok bisa sih? bukannya kalau belum Bel kan belum bisa keluar kelas, " heran Anggun yang ia tau soalnya kalau belum Bel berbunyi semua murid tidak di perkenankan untuk keluar dari kelasnya.
__ADS_1
"Aku kan Sultan jadi bebas mau ngelakuin apapun, " balas Daniel sambil cengengesan.
"Iya deh Sultan mah bebas, " ujar Berlin sambil tersenyum, kini mereka sudah berada di kantin dan duduk di meja yang berada di pojok kanan kantin.
"Mau pesan apa? " tanya Berlin.
"Biar aku yang beliin, kalian mau apa? " tanya Daniel.
"Oh iya aku lupa, (Berlin memukul keningnya sendiri), kamu kan Sultan yah, " balas Berlin sambil terkekeh pelan, di ikuti oleh tawa dari Anggun yang juga menertawakan Daniel.
"Udah jangan menertawakan Sultan nanti kalian bisa di hukum loh, " goda Daniel, sambil menatap mereka dengan memincingkan tatapannya.
"Baiklah, aku tidak akan menertawakan mu lagi, " balas Berlin sambil menutup mulutnya menggunakan tangannya.
"Ok aku akan memesankan mie instan buat kalian, minumnya mau apa? " tanya Daniel kembali.
"Apa aja lah terserah Sultan, " balas Berlin sembari meledek Daniel, ia juga menahan tawanya.
"Ok terserah Sultan ajalah, " kini Daniel pun berjalan menuju penjaga kantin untuk membuatkan atau memesankan makanan yang kedua sahabat nya inginkan.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanan mereka dan juga Daniel datang dan duduk di samping Berlin dan di depan Anggun.
"Nih makanan dan minumannya sudah datang, " ujar Daniel sambil menyodorkan makanan itu pada kedua wanita di mejanya.
Di tempat lain ada satu pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan tak suka, pria itu benar-benar tidak suka dengan kedekatan Daniel dan Berlin, padahal bukannya itu yah yang pria aneh ini inginkan.
__ADS_1
"Kalau makan tuh jangan belepotan kayak anak kecil aja, " ucap Daniel, ia mengeluarkan saputangan dari sakunya lalu mengelap mulut Berlin dengan lembut.
Membuat mata mereka saring bertemu dan bertatapan, mereka saling bertatapan beberapa menit hingga akhirnya mereka saling memalingkan tatapannya ke arah lain.
"Hem ah, " goda Anggun sambil memegang dadanya.
"Apaan sih lu, " balas Berlin sambil menyenggol Anggun.
"Gak udah malu-malu, " goda Anggun sambil mengedipkan matanya.
"Kalian tuh kenapa sih? " tanya Daniel yang melihat kedua wanita itu malah bersikap aneh.
"Ini orang aneh nih, " balas Berlin sambil menunjuk Anggun.
"Kok gue yang disalahin sih? " tanya Anggun tak Terima dirinya di salahkan.
"Emang kamu yang salah, " ujar Berlin tak mau kalah.
"Dih kamu yang salah tau gak, " balas Anggun yang juga menatap tajam ke arah Berlin.
"Kalian kok jadi malah berantem sih, " ujar Daniel sambil merelai keributan mereka.
Melupakan seseorang itu tidak mudah, apalagi orang itu telah berada lama dalam hidup kita, selain kita butuh waktu kita juga butuh orang lain yang siap membantu melupakan dia dan juga mampu menggantikan peran dia dalam hidup kita.
Jangan pernah beranggapan jika melupakan seseorang itu bisa dengan mudah, mereka mungkin hanya terlihatnya saja bisa melupakan namun hatinya belum tentu bisa melupakan orang itu.
__ADS_1