
Anggun masuk ke ruangan itu lalu berdiri di samping Berlin, sedangkan Sam duduk di sofa yang berada di pojok kanan.
"Aku minta maaf kalau tadi aku sempet keterlaluan sama kamu, " ucap Anggun.
"Harusnya aku yang minta maaf sama kamu, " balas Berlin pelan.
"Aku cuman iri aja sama kamu, walaupun keadaan kamu kayak gini mereka masih aja suka sama kamu. Bahkan mereka begitu peduli sama kamu, sedangkan mereka tak pernah memperdulikan ku, " jelas Anggun sambil meneteskan air matanya.
"Kok kamu bilang gitu sih? aku peduli sama kamu, aku sayang sama kamu. Jangan pernah ngerasa kalau kamu gak di butuhkan lagi yah? " balas Berlin.
"Terus masalah Aku tadi kesel sama kamu adalah karena aku liat kamu sama Daniel pelukan di lorong kelas IPA, " ucap Anggun sambil menunduk malu.
"Oh masalah itu yah? Berlin itu tadi aku cuman mau bantuin dia doang, katanya ibunya sakit dan harus di operasi, tapi dia gak punya uang buat bayarnya. Jadi aku mau coba bilang sama papah aku, siapa tau aja dia bisa bantu, " jelas Berlin sambil tersenyum.
Ternyata hanya karena masalah itu Anggun sampai kesal dan tak mau bicara sama Berlin.
"Tadi Daniel peluk aku cuman sebagai tanda terimakasih karena mau bantuin dia, " sambung Berlin.
"Ouh jadi karena itu? aku pikir karena kalian main kotor di belakang aku, " balas Anggun sambil menatap Berlin dan menghapus air matanya.
"Lagian tenang aja napa sih? kamu kan tau siapa orang yang ada di hatiku dan akan selalu ada di hatiku, " ucap Berlin sambil menatap Sam yang juga tengah menatapnya.
"Maaf yah kalau aku sempet buruk sangka sama kamu, " Anggun langsung memeluk Berlin dan meminta maaf padanya.
"Gak papa kamu berhak untuk itu kok, tapi lain kali kalau ada apa-apa bicara dulu yah jangan langsung marah, " balas Berlin sambil membalas pelukan Anggun.
Anggun melepaskan pelukannya, " Dulu aku juga pernah kehilangan seorang sahabat hanya karena aku egois, makannya sekarang aku mau bicara baik-baik sama kamu supaya aku gak kehilangan sahabat lagi, " ucap Anggun.
"Kehilangan emang selalu mengajarkan banyak hal dalam hidup kita, terkadang kita mesti kehilangan dulu untuk akhirnya mengerti arti sebuah kebersamaan, " balas Berlin.
"Iyah, kehilangan adalah sebuah kata yang paling aku benci dalam hidup ku, " ujar Anggun.
Saat mereka lagi asik-asiknya bercanda tiba-tiba Daniel datang sambil tersenyum dan langsung memegang tangan nya Berlin, awalnya Berlin sempat merasa tak enak namun Anggun memberikan isyarat kalau dirinya tak papa.
__ADS_1
"Makasih yah, bokap lu tadi udah kirim uangnya ke rekening gue, " ucap Daniel kegirangan.
"Sama-sama, " balas Berlin sambil tersenyum.
"Tapi aku gak tau gimana cara gantiin uang sebanyak itunya, " Daniel kembali melepaskan tangan Berlin sambil memasang wajah sedih.
"Sudahlah jangan memikirkan hal itu, sekarang saya dan istri saya sedang bahagia, " tiba-tiba kedua orang tuanya Berlin datang ke ruangan itu sambil tersenyum.
"Tante kok bahagia sih? bukannya Berlin kan baru aja drop? " tanya Anggun heran.
"Karena tadi dokter bilang kalau jantungnya Berlin sudah mulai membaik, jantungnya sudah mulai kembali kuat lagi. Mereka juga bingung kenapa sampai ini terjadi, padahal sebelumnya penyakit jantungnya Berlin sudah parah. Mungkin ini adalah kuasa Tuhan, ia masih mau memberikan banyak waktu sama anak tante, " balas ibunya Berlin yang kini berada di samping Berlin.
"Mamah tau gak kenapa aku bisa sampai sekuat ini? " tanya Berlin sambil menatap ibunya dan ayahnya.
"Kenapa sayang? " tanya balik ibunya sambil mengelus rambut Berlin.
"Karena mereka ada di samping aku, terlebih lagi seseorang yang dulu sempat pergi udah kembali lagi, " balas Berlin sambil menatap Sam yang masih duduk di sofa.
"Benarkan dia sudah kembali sayang, " bisik ayahnya.
"Kita akan doakan, " ucap Anggun.
Tapi tiba-tiba wajahnya Daniel menjadi agak kurang suka dan tidak nyaman berada di sana, Anggun dapat tau apa yang Daniel rasakan. Jadi ia menarik Daniel untuk keluar dari ruangan itu dan membawanya ke taman yang berada di belakang rumah sakit ini.
Mereka berdua duduk di kursi taman, " Gue bisa rasain apa yang lu rasain tadi, pasti sakit yah? " tanya Anggun sambil menatap Daniel dengan tatapan hangat.
"Sebelum gue memilih jatuh cinta sama Berlin gue udah pikirin resiko yang bakalan gue dapat kok, jadi rasanya gak terlalu sakit, " balas Daniel sambil membalas tatapan Anggun dan tersenyum ke arah Anggun.
"Bagus deh kalau gitu, " ucap Anggun sambil memalingkan tatapan nya ke arah depan.
"Kan gue punya luh sekarang, " balas Daniel sambil menatap Anggun.
Anggun malah batuk mendengar ucapan yang Daniel katakan padanya, " Maksud lu apa? " tanya Anggun tak mengerti.
__ADS_1
"Berlin udah cerita kok sama gue, " balas Daniel.
"Ahh tuh anak bikin malu aja, " gumam Anggun perlahan, kali ini wajahnya sudah memerah detak jantungnya sudah berdetak kencang bagaikan ada yang mengadakan konser dalam jantungnya.
"Kenapa kok lu malah merah wajahnya, mau yah? " tanya Daniel sekalian menggoda Anggun.
"Apaan sih lu enggak yah, gak usah dengerin Berlin deh, dia suka ngaco kalau ngomong, " balas Anggun.
"Emang dia bilang apa coba? " tanya Daniel.
"Ya mana aku tau, pokoknya jangan dengerin dia, " balas Anggun sambil mencoba menghindari tatapan Daniel.
"Hey, kalau kamu suka bilang aja yah? " Daniel memegang dagunya Anggun agar wanita itu menatapnya, saat ini mereka berdua tengah saling tatap.
"Iya deh aku emang suka sama kamu, " balas Anggun sambil melepaskan tangannya Daniel sambil memalingkan wajahnya yang sudah matang.
Di tempat lain sebenarnya ada dua pasang mata yang saat ini sedang menatap mereka, "Aku doakan semoga mereka menjadi pasangan yang bahagia, " ucap Berlin sambil menatap Daniel dan Anggun.
Berlin menggunakan kursi roda, " Aku juga berharap seperti itu, agar Daniel tidak menganggu mu lagi, " balas Sam.
Saat mereka akan kembali ke ruang rawat karena kan Berlin sudah di pindahkan ke ruang rawat, tiba-tiba Tio datang sambil berjongkok di hadapan Berlin dan memegang tangannya Berlin dengan erat.
"Maafin aku yah, " pinta Tio.
"Kak kakak kenapa sih? " tanya Berlin heran.
"Kakak minta maaf karena selama ini kakak benci sama kamu, maafin kakak karena selama ini tak pernah mau bersikap baik sama kamu, " balas Tio sambil menangis.
"Kak jangan nangis dong, masa cowok nangis. Aku udah maafin kakak kon, " ucap Berlin.
"Sekarang kakak sadar kalau kehilangan mu akan membuat hidup ku lebih menderita, kakak marah sama kamu hanya karena ibu dan ayah selalu membedakan kita. Tapi aku sekarang sadar kenapa itu terjadi, " jelas kakaknya kembali.
"Udah yah Kak bangun, aku beneran udah maafin kakak kok, jadi udah yah, " pinta Berlin.
__ADS_1
Tio pun bangun, lalu setelah itu langsung memeluk Berlin, " Wanita hebat, " ucap kakaknya.