
Saat Sam keluar dari ruangan Berlin tiba-tiba Daniel menarik tangannya Sam, ada hal yang ingin ia katakan pada Sam. Daniel membawa Berlin ke lorong dekat ruangan tunggu.
"Aku berjanji padamu kalau aku akan menjaga Berlin, " janji Daniel pada Sam kalau dirinya akan menjaga Berlin dengan baik.
"Baiklah, aku percaya padamu, " balas Sam sambil menepuk pundaknya Daniel.
"Gue pergi dulu, " pamit Sam sambil berjalan meninggalkan Daniel di sana.
Kini Daniel berjalan kembali ke ruangan Berlin dan saat ini Berlin juga sudah di pindahkan ke ruang Rawat, jujur saat ini sebenarnya Daniel sangat senang dengan apa yang Sam lakukan padanya.
Anggun sudah duduk di samping tempat tidur Berlin sambil memegang tangannya Berlin, " Kamu yang kuat yah Berlin, " ucap Anggun.
Daniel berdiri di samping Anggun, " Gimana Berlin? " tanya Sam sambil menatap Anggun.
"Dia masih belum sadar juga, " balas Anggun tanpa menatap ke arah Daniel.
Sementara itu kini Sam sedang berjalan kaki untuk pergi ke pinggir jalan dan menunggu bus yang akan membawanya pulang. Sam berjalan dengan gontai rasanya ia benar-benar pusing dan putus asa.
Setelah berada di tempat menunggu bis akhirnya bis itu langsung datang dan Sam pun masuk. Sam duduk di bangku paling belakang pojok kanan sambil menatap ke arah jendela.
Hari ini Sam benar-benar tidak tau harus berbuat apa lagi, rasanya semua ini hanyalah mimpi buruk dalam hidupnya.
"Tuhan kenapa kau ciptakan aku jika aku hanya membuat orang lain menderita? " tanyanya dalam hati.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya pria itu sampai di tempat pemberhentian bis, Sam turun dari bis tersebut namun bukannya pulang ke rumah Sam malah pergi ke rumah temannya yang bernama Alex.
Sam sudah berada di depan rumahnya Alex, Sam mengetuk pintu itu lalu tak perlu menunggu waktu lama Alex pun membukakan pintu untuk Sam.
"Hey, tumben lu ke sini? muka lu kenapa kusut banget? " tanya Alex sambil menepuk pundaknya Sam.
__ADS_1
"Panjang ceritanya, " balas Sam malas.
"Ya udah ah, masuk yuk, " Alex mengajak Sam masuk ke kamarnya.
Sam pun duduk di sofa yang berada di kamar Alex, sedangkan saat ini Alex sedang menyediakan minuman untuk Sam. Alex tau kalau saat ini Sam sedang ingin minum alkohol.
"Nih minum dulu, " Alex duduk di samping Sam sambil menyimpan botol Wine bersama dengan gelasnya.
Sam menuangkan wine tersebut ke gelas lalu meminumnya, " Makasih, " balas Sam setelah meminum Wine tersebut.
Sam menyimpan gelasnya kembali lalu menyenderkan punggungnya ke senderan sofa sambil menatap kosong ke arah atas.
"Udah lah Sam gak usah mikirin masalah hidup, " ucap Alex yang mencoba membuat Sam tidak terlalu larut dalam masalahnya.
"Gue gak tau harus gimana ngadepin ini semua, rasanya semua ini hanya buat gue menderita aja, " balas Sam tanpa menatap ke arah Alex.
"Iya, saat ini gue sedang dalam posisi seperti itu. Gue gak tau harus ngapain, tapi kalau gue hidup dalam masalah, itu hanya akan membuat hidup gue hancur aja. Tapi kalau gue keluar dari masalah itu, gue bisa aja kehilangan seseorang, " balas Sam.
"Ya terkadang kita memang harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, " Alex menepuk pundaknya Sam lalu berjalan meninggalkan Sam di kamarnya.
Alex tau kalau saat ini Sam sedang ingin menyendiri terlebih dahulu. Alex pergi keluar dari rumahnya untuk membelikan makanan, Alex adalah temannya Sam yang umurnya beda 3 tahun dari Sam.
Mereka dulu tidak sengaja bertemu di sebuah acara festival. Sam merasa nyaman jika curhat bersama Alex ia merasa Alex dapat mengerti apapun yang ia maksud dan apapun yang ia rasakan.
Di kamar Alex Sam saat ini kembali meminum Wine yang di berikan Alex hingga habis dan saat ini pikirannya mulai pusing dan melayang.
Sedangkan di rumah sakit orang tuanya Berlin juga sudah berada di sana, mereka tadi mendapatkan telpon dari pihak sekolah tentang keadaan Berlin saat ini.
Berlin juga sudah membuka matanya, kata pertama yang ia ucapkan adalah, " Dimana Sam? " namun semuanya menggeleng saat Berlin berkata seperti itu.
__ADS_1
Orang tuanya Berlin sangat marah pada Sam, karena pria itu tidak mau menolong Berlin. Sedangkan Berlin hanya sedih saja, tapi ia tidak marah karena Sam tidak menolongnya.
"Kamu mau makan? " tanya Berlian sambil menatap Berlin.
Berlin hanya menjawabnya dengan menggeleng. Daniel dan Anggun juga masih berada di sana menunggu Berlin, kebetulan Besok Berlin sudah bisa pulang.
"Gue kasian sama Berlin yang berharap Sam berada di sampingnya saat ini, " ucap Anggun yang menunggu Berlin di luar ruangan Berlin.
"Entahlah gue juga gak ngerti sama pemikiran nya si Sam, mau apa sih tu orang sebenarnya, " balas Daniel.
"Udah kek bunglon tau gak, berubah-rubah mulu. Kadang baik, kadang cuek, " ucap Anggun yang tidak mengerti dengan jalan pikirnya Sam sama sekali.
"Ah tambah pusing tau gak kalau gue mikirin tuh anak, " balas Daniel.
Di dalam saat ini Berlin terlihat sangat sedih dan orang tuanya tidak terima Berlin sedih mulu mereka yakin Berlin sedih karena Sam saat ini tidak berada di sampingnya.
"Pa, aku yakin Berlin kayak gini pasti karena Sam gak ada di sini, " ucap Berlian yang berbisik pada suaminya.
"Kemana sih tuh anak? padahal tadi dari pihak sekolah bilangnya dia kan yang mengantarkan Berlin ke sini, " Ayahnya Berlin kesal dengan apa yang di lakukan Sam.
"Gimana kalau papah telpon Sam atau kalau bukan Sam, papah nya aja yang di telpon. Minta tolong supaya Sam datang ke rumah sakit dan jagain Berlin, " pinta Berlian.
"Papah akan coba hubungi papahnya Sam saja, " Ayahnya Berlin pun mencoba menghubungi orang tuanya Sam.
Dan setelah menghubungi ayahnya Sam ayahnya Sam pun berkata kalau ia akan mencoba menghubungi Sam, karena Sam saat ini tidak ada di rumah Sam belum pulang ke rumah.
Di tempat lain Sam masih mabuk dan ponselnya berbunyi, Sam hanya menatap ponsel itu. Ia tak mau mengangkatnya, karena ia tau apa yang akan pria itu katakan pada dirinya. Dan itu hanya akan membuat dirinya semakin pusing dan tidak tau harus menjawab nya.
Sam melempar ponsel itu Ke sembarang arah lalu kembali memejamkan matanya.
__ADS_1