Kehilangan Mengajarkan Ku

Kehilangan Mengajarkan Ku
Minta Izin


__ADS_3

Berlin kembali menghadap ke arah ibunya dengan tatapan mata yang serius, ia juga memegang kedua tangan ibunya.


"Mah nanti hari sabtu di sekolah akan ada perkemahan, aku mau ikut yah? " pinta Berlin sambil memegang kedua tangan ibunya.


"Sayang, kamu gak usah ikut yah tahun ini, mamah cuman gak mau kamu kenapa-napa, " Berlian mengelus rambut Berlin sambil mengecup keningnya.


"Tapi aku bakal tetep ikut mah, mah. Mamah percaya deh sama aku, aku gak bakalan kenapa-napa kok, lagian kalau aku bersama teman-teman itu malah membuat aku kembali hidup mah, " Berlin meyakinkan ibunya, ia benar-benar ingin mengikuti perkemahan itu.


"Sayang nanti mamah bicarakan sama papah mu dulu yah, " Berlian tidak mau gegabah mengambil keputusan, ia tidak mau kondisi anaknya ini semakin memburuk kalau saja mengikuti acara tersebut.


"Ngapain di larang-larang sih, diakan udah gede, udah bisa milih kan mana yang baik dan buruk buat hidupnya, " Tiba-tiba Tio datang dari arah kamarnya, ia berjalan menuju ke arah dapur.


Berlian langsung menatap Tio dengan tatapan tak suka, " Jangan bicara seperti itu, " tegas Berlian sambil merangkul Berlin.


Berlin melepaskan tangan ibunya yang berada di pundaknya, " Mah apa yang dikatakan kak Tio ada benarnya juga, aku gede mah. Aku udah bisa mutusin apa yang baik dan buruk untuk hidup aku, aku gak mau kalian terus melarang aku, seakan-akan aku tidak bisa melakukan itu semua, " ucap Berlin sambil menatap ibunya.


Berlian kembali menatap anak perempuannya tersebut, " Sayang kita lakukan ini juga demi kesehatan kamu, " Berlian mencoba menjelaskan apa yang ia lakukan saat ini semata-mata hanya untuk menjaga kesehatannya.


"Mah, dengan apa yang kalian lakukan padaku itu sebenarnya udah bikin aku Drop mah, aku lebih suka jika kalian tidak terlalu melarang ku, aku ingin merasakan hidup yang normal. Kalian tau mereka yang aku sayang malah menjauhi ku karena sikap kalian semua, " Berlin sangat tidak suka perlakukan orang tuanya yang di anggap terlalu berlebihan.


"Mamah akan bujuk papah kamu untuk ini yah sayang, udah jangan sedih, " Berlian akhirnya mau mengalah, ia mau membujuk Angga untuk mengijinkan anaknya ini pergi.


"Makasih mah, " Berlin memeluk ibunya laku setelah itu ia kembali ke kamarnya, ia bahkan belum sempat menganti pakaiannya.

__ADS_1


Di tempat lain saat ini Sam sedang bersama Anggun di cafe black white, yang tak jauh dari perumahan Sam, mereka juga sudah memesan copy.


"Lu mau ikut perkemahan itu? " tanya Anggun sambil menatap Sam dan memainkan sedotan yang berada di cangkir copy nya.


Sam menatap Anggun beberapa detik, lalu setelah itu ia kembali menatap copy nya, " Mau, gue mau jagain Berlin, " balas Sam tanpa menatap Anggun.


Anggun tersenyum, ternyata apa yang ia pikirkan selama ini memang benar-benar nyata, ia saat ini sedang menatap Sam dengan tatapan senang.


"Tapi gue gak bakalan janji buat gak bicara kasar sama dia di sana, " sambung Sam sambil menatap Anggun.


Tatapan senang Anggun mendadak menjadi tatapan kesal dan heran, " Lu gila yah? lu masih punya rasa sama dia, tapi tetep aja kayak gitu, mau lu apa sih sebenarnya? " tanya Anggun kesal.


"Nanti lu bakal tau sendiri alasan kenapa gue lakuin itu sama dia, " balas Sam Anggun.


"Lu tuh keras kepala banget sih jadi orang, " kesal Anggun sambil menunjuk Sam menggunakan telunjuknya.


Anggun memegang kepalanya sambil menatap kepergian Sam, " Pria egois, gak bisa apa dia gak kekeh sama pendirian nya yang gak guna itu, " gumam Anggun sambil memutar bola matanya malas.


"Gak guna banget deh tuh otak, kayaknya dia cuman buat otak nya jadi pajangan doang, " kesal Anggun ia berdiri dari tempatnya lalu pergi kembali ke mobilnya.


Sementara itu Sam saat ini sedang berjalan kembali ke rumahnya, ia bertekad untuk tidak mengubah keputusannya, ia rasa ini adalah yang terbaik bagi Berlin. Sekali lagi ini ia lakukan demi Berlin.


Sam masuk kembali ke kamarnya, ia menidurkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya, rasanya saat ini otaknya perlu sedikit istirahat.

__ADS_1


Di tempat lain Berlin saat ini masih berdiam di kamarnya, ia sedang menunggu kedatangan ayahnya, ia akan meminta ijin pada Angga untuk mengikuti acara perkemahan di sekolahnya hari sabtu.


Dan dari kamarnya ia dapat mendengar kalau mobil ayahnya telah datang, dengan semangat ia langsung pergi ke ruang utama untuk menjemput Angga, setelah sampai di sana Berlin langsung berdiri di samping ibunya yang juga sedang berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan Angga.


Berlian membukakan pintu itu, lalu dengan semangat Berlin memeluk Angga mendahului ibunya sendiri, " Sayang kamu ini kenapa sih? " tanya Angga heran.


Berlin melepaskan pelukannya, " Pa, aku mau ikutan perkemahan yah? hari sabtu besok, " balas Berlin sambil menatap melas pada Angga.


Angga berjalan mendahului Berlin lalu duduk di sofa yang berada di ruang tamu dengan wajah yang tak dapat di artikan. Hati Berlin saat ini sudah tidak karuan, ia tau jawaban apa yang akan ayahnya berikan padanya. Dengan ragu Berlin melangkahkan kakinya dan berjalan ke depan Angga sambil duduk di samping Angga.


"Pa ayolah, aku kan mau main sama temen-temen aku, " rayu Berlin.


Berlian duduk di samping Angga, sambil menatap Angga dan memberi isyarat pada Angga, lalu Angga mengangguk pertanda ia mengerti dengan apa yang Berlian katakan padanya, Angga menatap ke arah Berlin yang sedang menatapnya melas.


"Papah akan izinin kamu dengan satu syarat, " balas Angga sambil mengelus rambut Berlin.


"Syarat nya apa? " tanya Berlin tak sabaran.


"Kamu harus berada di samping Sam, ingat jangan pernah pergi dari samping Sam, apapun yang terjadi, " jelas Angga.


"Baiklah papah, aku akan melaksanakan perintah yang kau ucapkan, " balas Berlin sambil memeluk Angga senang.


"Ya udah biar nanti papah yang bilang pada Sam untuk menjaga mu di sana, " ujar Angga sambil mencium kening anaknya.

__ADS_1


"Ya udah aku pergi dulu ke kamar yah pa, " pamit Berlin sambil berjalan dengan semangat menuju kamarnya.


Di sisi lain ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan miris dan senyuman kecut, terkadang kelemahan kita bisa di manfaatkan dengan baik oleh kita sendiri, untuk mendapatkan apapun yang kita inginkan, Itulah yang saat ini ada dalam otaknya Tio.


__ADS_2